Serial Diskusi: Peran Intelektual (Bab 2)

Spread the love

Bab 2  : Mengesampingkan Bangsa dan Tradisi

Setelah minggu lalu berbicara dan berdiskusi panjang lebar mengenai peran intelektual pada bab satu, maka pada minggu kedua rekan-rekan mencoba mengupas isi bab dua dari buku Edward Said. Sebagai tindak lanjut penjelasan tentang peran intelektual, Said mencoba memberikan pemahaman baru mengenai sikap yang diperlukan seorang intelektual dalam memainkan perannya.

“Mengesampingkan Bangsa dan Tradisi” adalah tema bab dua yang diangkat oleh Said. Penggunaan bahasa yang bervariasi dan gaya said dalam menyampaikan argumennya yang cerdas, membuat saya dan rekan-rekan memerlukan waktu lebih untuk dapat memahami maksud dari pendapat yang dilontarkan Said.

Adu argumen dan pendapat antara kami yang beragam, menjadikan suasana siang itu makin gerah.

Tak ada yang benar dan tak ada pula yang salah. Belajar untuk dapat mengerti dari berbagai perspektif orang yang berbeda, memberikan kemudahan bagi kami dalam memahami apa yang dimaksud oleh Said. Dari berbagai pemahaman yang berbeda, terciptalah sebuah rangkuman yang setidaknya mampu menjadi sebuah representatif dari apa yang dikatakan oleh Said.

Jika seorang Intelektual diposisi kan sebagai sebuah ruang universal yang hanya berbicara tentang kebenaran dan keadilan, serta membela kaum tertindas, maka kita tidak boleh memandang bahwa intelektual hanya milik mereka orang- orang Eropa saja, sebagaimana yang disebut oleh Benda dalam bukunya The Treason of the Intellectuals di tahun 1927. Kini Eropa dan negara Barat tidak lagi menjadi peletak standar kebudayaan dan tradisi. Bila seorang intelektual Perancis dipandang sedikit berbeda dalam gaya dan sejarahnya dengan koleganya di China, maka sudah barang tentu hal ini mengacu pada soal kebangsaan, agama, dan variasi topik per benua. Mau tidak mau mereka para intelektual di berbagai negara yang berbeda, akan bersinggungan dan berkenaan dengan apa yang disebut sebagai bahasa, tradisi, dan identitas nasional masing-masing.

Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa solidaritas dan sikap primordial terhadap negara akan sedikit mempengaruhi pemikiran kaum intelektual. Ini dapat menjadi sebuah hambatan bagi mereka dalam memainkan peran mereka yang sesunguhnya. karena sejatinya, kaum intelektual tidak terikat baik oleh batasan negara, maupun identitas etnik seperti kata Benda.

Lantas sejauh mana kaum intelektual harus mengesampingkan bangsa dan tradisi mereka sendiri dalam memerankan statusnya sebagai seorang intelektual? Maksud dari mengesampingkan disini tentu bukan makna secara eksplisit, karena sudah barang tentu ini menyangkut ranah-ranah dan peran intelektual dalam hal-hal tertentu. Said memberikan gambaran dalam paragraf terakhir nya di bab kedua dengan kalimat berikut,” Dan hanya karena anda merepresentasikan penderitaan yang dialami bangsa anda atau mungkin penderitaan anda juga, anda tak dapat meninggalkan tugas mengungkap bahwa bangsa anda sendiri mungkin melakukan kejahatan terhadap korban lain juga.” Dalam pemahaman sederhana, maka dapat dikatakan kita sebagai intelektual tidak boleh menutup mata dengan apa yang ada demi mengungkap sebuah fakta. Tidak lagi terbungkus dalam belenggu negara, yang pada akhirnya hanya menyempitkan peran kaum intelektual karena hanya berkutak dengan status quo. Pemahaman intelektual secara universal adalah kunci dalam memaknai arti “Mengesampingkan Bangsa dan Tradisi“. Dan tujuan dari Said melontarkan pendapat bahwa kaum intelektual harus mengesampingkan bangsa dan tradisi adalah agar para intelektual dapat menjalankan tugasnya. Yakni yang secara eksplisit, mampu menguniversalkan krisis, memberi sentuhan manusiawi yang lebih kental terhadap apa yang diderita ras dan bangsa tertentu, mengasosiasikan pengalaman tersebut dengan penderitaan bangsa lain dan bukan membatasi dirinya dengan persepektif bangsanya sendiri.

-Eko Santoso

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.