Serial Diskusi: Peran Intelektual (Bab 3)

Spread the love

 

Bab 3: Intelektual Di Pengasingan: Kaum Ekspatriat dan Kaum Marjinal

Diskusi kali ini disepakati kawan-kawan untuk membicarakan isi bab tiga dari buku Edward Said, agar diskusi-diskusi sebelumnya mengenai peran intelektual tidak mengambang. Dalam bab tiga ini, Said seakan-akan memberi peringatan sekaligus menantang pembaca. Mungkin bab tiga ini menjadi bab yang membuat kawan-kawan “babak belur” karena ditampar tantangan.

Bayangan pengasingan tentu menjadi hal yang ngeri bagi setiap orang yang mencoba atau memang bertekad keluar dari arus utama. Bagaimana tidak, berada di pengasingan pasti jauh dari keluarga, sanak saudara dan bahkan tempat-tempat favorit yang hingar bingar.

Seorang mungkin akan merasa frustasi bahkan gila jika berada di pengasingan. Belum lagi jika memikirkan adaptasi di tempat pengasingan, ini akan membuat orang berpikir dua kali untuk keluar dari arus utama.

Diagnosis Said tentang intelektual di pengasingan tidak serampangan saja, namun dia berangkat dari sejarah sosial dan politik dislokasi serta migrasi. Said melakukan observasi dengan cermat lalu menjabarkan hasil pengamatannya itu dengan cerdas sehingga memang menarik di diskusikan. Hanya saja memang butuh waktu ekstra untuk memahami setiap kalimatnya.

Said memberikan beberapa contoh orang-orang yang pernah hidup dalam pengasingan seperti V.S. Naipul, seorang muslim Afrika Timur asal India. Kemudian Said juga menyebut Brzezinski yang menghindar dari komunis Polandia dan Kissinger dari Nazi Jerman. Selain itu juga Adorno yang menentang bahaya fasisme, komunisme, dan konsumerisme massal Barat. Pengalaman hidup di pengasingan dari orang-orang tersebut serta apa yang dihasilkan orang-orang tersebut di pengasingan nampaknya berhasil memantik kawan-kawan untuk mendiskusikannya. Namun sebelumnya kawan-kawan sudah mengemukakan argumennya masing-masing mengenai pengasingan itu sendiri. Beberapa kawan menyebut bahwa pengasingan adalah resiko atau konsekuensi yang harus ditanggung seorang intelektual yang bertekad keluar dari arus utama. Walaupun masing-masing argumen dari kawan-kawan berbeda, namun secara garis besar sebenarnya arahnya sama bahwa pengasingan adalah ganjaran untuk intelektual sejati.

            Secara sederhana, kebanyakan orang-orang menelan mentah-mentah asumsi bahwa hidup di pengasingan adalah akhir dari segalanya, tanpa pengharapan, dan tak ada yang bisa dilakukan selain menghamba pada pasrah. Padahal jika kita belajar dari pengalaman hidup orang-orang yang pernah merasakan pengasingan, justru banyak yang dihasilkan dan didapatkan dari selama mereka di pengasingan. Misalnya saja Adorno, pengasingannya di Amerika justru membuatnya melahirkan karya terbesarnya, Minima Moralia yang diterbitkan tahun 1953. Di dalam negeri kita punya Soekarno, Hatta, Tan Malaka , dan Syahrir yang pengasingannya justru menghasilkan karya-karya dahsyat dan pemikiran-pemikiran mengenai Indonesia merdeka. Ini membuktikan bahwa asumsi diatas sama sekali keliru, pengasingan justru bisa menjadi tempat kita untuk berkarya dan melakukan banyak hal yang bermuara ke perubahan. Jika asumsi itu belum hilang, ini bisa menghambat peran intelektual dan sikap kritis.

            Said mengemukakan mengenai keuntungan berada di pengasingan, yakni di pengasingan kita bisa membandingkan situasi di kampung halaman dengan di pengasingan, yang bisa memunculkan ide-ide baru. Selain itu, berada di pengasingan akan membuat kita cenderung melihat sesuatu bukan apa adanya, tapi mencermati juga bagaimana prosesnya sehingga menjadi seperti itu. Melihat sebuah situasi sebagai kesatuan, bukan sebagai hasil dari serangkaian pilihan historis yang dibuat lelaki atau perempuan, sebagai fakta masyarakat yang dibuat manusia, bukan sebagai hal alami atau ciptaan sang Khalik yang tidak bisa diubah.

            Said sudah mencoba memperingatkan kita mengenai pengasingan yang selalu menghantui itu. Tetapi, Said juga menantang kita sebagai intelektual untuk memilih menjadi yea-sayers ( orang-orang yang selalu menurut) atau menjadi nay-sayers ( orang-orang yang menolak ), kita ditantang untuk tetap berada di arus utama atau keluar dari arus utama, tentunya setelah mengerti tentang pengasingan yang menjadi konsekuensinya itu. Pengalaman orang-orang yang pernah berada di pengasingan itu bisa dijadikan indikator pertimbangan yang inspiratif. Kalimat terakhir Said di bab tiga ini menarik untuk kita renungkan, bahwasannya “intelektual di pengasingan tak menanggapi logika konvensional tapi merespons keberanian dan perubahan yang mewakili, bergerak terus, tidak melempem”.

Nanang Rendi Ahmad

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.