Serial Diskusi: Peran Intelektual (Bab 4)

Spread the love

Bab 4 : Kaum Profesional dan Kaum Amatir

Pada pembacaan bab ini, seperti biasa, kita akan disuguhi pada penjelasan yang sebenarnya akan Edward Said bantah. Dimulai dari penjelasan-penjelasan awal, Said mengutip tesis dari Regis Debray, yang merupakan intelektual perancis tahun 1979. Dalam tesisnya, yang dibukukan dengan judul Teacher, writers, Celebrities: the Intellectual of Modern France, Debray menjelaskan bahwa antara tahun 1880 dan tahun 1930 pada dasarnya para intelektual Paris berafiliasi ke Sorbone. Dimana saat itu Sorbone merupakan Universitas terkemuka yang digunakan para intelektual Paris untuk menjadi profesor, yang leluasa dalam membuat terobosan penting dalam ilmu pengetahuan. Akan tatapi memasuki tahun 1930, Sorbone perlahan kehilangan otoritasnya yang kemudian posisinya diambil alih oleh penerbitan seperti Nouvelle Revue Francaise. Penerbitan semacam ini menurut Debray terdiri dari kaum Inteligensia dan para editornya.

Kemudian pada tahun 1968 para intelektual mulai berpaling dari penerbitan. Dengan adanya media massa, para intelektual kemudian dengan berbondong-bondong pindah ke media massa.

Di media massa mereka  menjadi jurnalis, tamu, pembawa acara talkshow, penasihat, menejer, para pakar dan sebagainya. Dengan perluasan wilayah cakupan yang semula hanya pada profesor, ahli pakar atau mahasiswa, kini meluas kepada audiens dengan lingkup konsentrasi yang lebih luas. Sehingga media massa telah mengurangi sumber-sumber legitimasi intelektual.

Pertanyaan yang masih tersisa dari itu semua adalah, apakah ada intelektual yang masih bebas? Dalam artian bebas menjalankan perannya sebagai Intelektual (peran disini adalah yang kita sepakati dalam Bab I, yaitu mereka mewakili kaum yang lemah tak terwakili, mereka yang berani berkata benar entah kepada siapapun). Masih adakah intelektual yang dapat bersuara tanpa mengindahkan afiliasinya dengan Universitas yang membayar gajinya, partai politik yang menuntut loyalitasnya sesuai garis partai, think thank, yang disatu sisi menawarkan riset, tapi disisi lain dengan lembut harus berkompromi sesuia dengan yang diharapkan sipemberi dana. Masih adakah wartawan yang berani menulis berita yang benar walaupun dilarang oleh pemilik modal dimana ia bekerja. Masih adakah kesemua Intelektual Profesional itu berkata benar, walaupun atasan atau audiensnya meminta yang berbeda.

Hal ini diperparah dengan adanya penjualan Intelektual hanya demi materi belaka. Semisal, banyak profesor universitas terkemuka Indonesia yang menyampaikan sebuah pengetahuan “palsu” yang sesuai pesanan para bos korporasi, dengan uang yang tak kecil tentunya. Sehingga, apa yang Korporasi lalukan adalah kebenaran mutlak dan tidak dapat disanggah oleh publik, karena telah memperoleh legitimasi para Intelektual Profesional pemohon dana ( profesor ) itu. Kemudian ditambah banyaknya wartawan atau media massa yang menjual berita “palsu” yang juga merupakan pesananan. Atau para akademisi yang dikerahkan oleh para lembaga pendanaan seperti Rockefeller, Ford dan mellon untuk melakukan riset, yang kemudian akan menjadi agenda komersial dan politik. Dengan kenyataan-keyataan seperti ini, maka mengulangi kembali pertayaan Said seperti yang telah disebutkan diatas, “masih adakah Intelektual Profesional yang bebas dalam melaksanakan Perannya?”

Kemudian dengan pertanyaan itu, Edward Said memberi bandingan tentang apa yang telah ia jelaskan pada Bab I, yaitu tentang Intelektual Individu. Dimana suara intelektual Individu, yang menekankan pada keindividuan orangnya, atau memfokuskan pada kelompok dimana ia terhimpun akan membantu kita dalam menilai apa yang disampaikan oleh Intelektual Individu, apakah itu benar-benar independen ataukah ada kompromi seperti yang dilakukan oleh sebagian Intelektual profesional. Hal ini dicontohkan oleh Edward Said dalam Bab I, tentang Bazarov ( tokoh dalam novel Turgenev), yakni seorang intelektual penyendiri yang sama sekali tak menyesuaikan diri dengan masyarakat sekitar dan benar-benar memberontak terhadap pendapat luar yang mapan. Akan tetapi dalam Bab IV ini, Edward Said membantah apakah masih ada Intelektual Individu ini. Karena Intelektual Individu tersebut ada ketika abad ke-19. Kemudian pertanyaannya adalah apakah masih relevan Intelektual Individu ini dalam abad ke-20 ? dimana abad ini keprofesionalan merupakan tuntutan zaman.

Memang mebingungkan membaca maksud dari Edward Said dalam Bab IV ini, karena disatu sisi ia tidak setuju dengan Intelektual Profesional yang kemudian  mempunyai spesialisasi dan otoritas berbicara sesuai bidangnya, dan tidak menirima pendapat dari lintas bidang walaupun yang dibicarakan sama. Disisi lain Edward Said pun juga tidak sepakat dengan adanya Intelektual Individu diabad-20 ini, karena semakin banyaknya kaum Profesional. Lantas Intelektual yang bagaimanakah yang sanggup menjawab tantangan zaman akan tetapi masih bebas berbicara tanpa ada kompromi dengan pihak.

Jawabannya adalah Intelektual Amatir, karena dalam penjelasan terakhir Edward Said menawarkan tentang Amatirisme. Yang secara harfiah Amatirisme berarti aktivitas yang digerakkan oleh kepedulian dan rasa, bukan oleh “laba”, “kepentingan sendiri” serta “spesialisasi yang sempit”. Jadi Intelektual saat ini harus menjadi amatir. Dengan sistem kerja yang melebur dalam masyarakat, berpikir dan hirau dengan masalah sosial, maka Intelektual Amatir berhak memunculkan isu-isu yang berkaitan dengan masalah sosial, atau yang lain dengan kegiatan yang paling teknis, bahkan sangat profesioanal. Jadi secara sederhana Intelektual Amatir ini dengan kesadarannya, masih bersuara “benar” walaupun merupakan seorang yang hidup dari gaji profesinya.

Setidaknya itulah kesepakatan kawan-kawan dalam diskusi Bab IV : Kaum Profesional dan Kaum Amatir.  Kemudian tulisan ini akan saya akhiri dengan kata-kata terakhir Edward Said dalam Bab IV, yaitu “ Bagaimana intelektual berbicara kepada otoritas : sebagai profesional yang pemohon; atau kesadaran amatir, karena tak memperoleh imbalan?

Asep Syaeful Bachri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.