Serial Diskusi: Peran Intelektual (Bab 5)

Spread the love

Bab 5 : Mengatakan Kebenaran Kepada Kekuasaan

Banyak pemikir yang berpendapat tentang peran intelektual, fungsi atau tugas intelektual. Para pemikir tersebut, yaitu Julien Benda, Antoni Gramsci dan masih banyak lagi. Termasuk Edward Said. Hemat kami, Buku Peran Intelektual karya Edward Said yang akan dibahas dan lebih spesifiknya dalam bab V yang mencoba menjelaskan tentang salah satu peran intelektual, yaitu mengatakan kebenaran kepada kekuasaan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kebenaran adalah suatu hal yang cocok dengan keadaan yang sesungguhnya. Mengatakan kebenaran kepada kekuasaan, berarti mengatakan yang sesungguhnya kepada kekuasaan atau penguasa. Dalam hal ini kaum intelektual dituntut untuk mengatakan hal yang sesungguhnya tanpa harus ada yang ditutupi karena ini adalah salah satu peran intelektual.

Edward Said berpendapat bahwa intelektual yang menghamba kepada kekuasaan adalah sebuah pengkhianatan intelektual. Dan yang menjadi ancaman kaum intelektual saat ini ialah apa yang disebut dengan Profesionalisme. Yang telah dibahas pada bab sebelumnya. Pada bab ini melanjutkan tentang pembahasan profesional, dan bagaimana intelektual menjawab perihal kekuasaan dan otoritas. Said menjelaskan kembali tentang kaum profesional yang pada dasarnya melayani dan mendapatkan imbalan dari penguasa. Melayani di sini artinya semua pekerjaan yang dilakukan oleh intelektual asalkan pemikiran harus yang searah dan bahasa yang serupa dengan penguasa. Dalam hal ini intelektual tidak merasa bebas karena harus dibatasi. Said mengatakan bahwa sebagai cara mempertahankan kebebasan intelektual relatif, pemilikan sikap amatir adalah lebih baik.

Kebebasan berekspresi intelektual tidak bisa diperjuangkan sendiri di sebuah kawasan, bahkan tidak diindahkan di belahan dunia lain. Jikalau bagi otoritas yang mengklaim hak sekuler untuk mempertahankan dekrit Ilahi tidak memperbolehkan adanya debat apa pun, maka bagi intelektual debat keras untuk pencarian adalah kegiatan inti. Disini dapat disimpulkan sikap otoriter penguasa untuk mempertahankan otoritasnya dengan cara membunuh ke kritisan kaum intelektual dan memanfaatkan kaum intelektual untuk bekerja dan mentaati kebijakan pemerintah. Dan mulut kaum intelektual yang seharusnya digunakan untuk mengatakan kebenaran, dibungkam dengan upah dan sertifikat.

Kebenaran yang dikejar oleh intelektual adalah kebenaran universal. Kebenaran yang tanpa membedakan agama, ras, atau negara mana kamu berasal. Namun hal itu sangat sulit untuk dilakukan. Menurut Said, salah yang terkotor dari seluruh langkah awal intelektual adalah mencela penyalahgunaan dalam kultur seseorang sembari memaafkan praktek serupa di negeri sendiri. Said mengambil contoh klasik adalah intelektual asal Perancis pada abad ke-19, Alexis de Tocqueville. Tocqueville menulis penilaiannya tentang demokrasi di Amerika, dan sesudah mengkritik perlakuan tak senonoh Amerika terhadap para budak Indian dan Vietnam. Tapi sayang Tocqueville harus mentolerir kebijakan kolonial Perancis di Aljazair pada akhir tahun 1830-an dan tahun 1840-an, di mana di bawah Marsekal Bugeud pasukan Perancis memerangi Muslim Aljazair. Saat ditanya alasannya. Ia mengatakan. Cuma saja timpang, yang tujuannya adalah memberi lisensi kepada kolonialisme Prancis atas nama yang ia sebut kebanggan nasional. Hal seperti ini yang bukan merupakan kebenaran universal. Untuk mengatakan kebenaran dan menegakkan keadilan kaum intelektual harus melakukannya untuk setiap orang, bukan hanya orang tertentu atau kelompok atau hanya negara Anda saja.

Kebenaran disampaikan atau mengatakan kebenaran kepada kekuasaan ketika kekuasaan dimanifestasikan dalam perang yang tak proporsional serta tak bermoral. Tak hanya dalam peperangan saja, namun juga saat kekuasaan dimanifestasikan dalam program diskriminasi, penindasan, dan kekejaman kolektif. Menurut Edward Said tujuan mengatakan kebenaran adalah memproyeksikan keadaan yang lebih baik , dan seseorang yang berkorespondensi secara lebih terbuka dengan serangkaian prinsip moral-perdamaian, rekonsiliasi, pengurangan derita-yang diterapkan kepada fakta yang diketahui.

Intelektual dikatakan salah bertindak ketika ia mengetahui suatu hal yang benar, namun ia memilih untuk menghindar. Sikap intelektual inilah yang salah karena menghindar untuk mengatakan kebenaran. Dan bersikap apolitis. Hal semacam ini yang menurut Said patut dicela. Karena memang dalam mengatakan kebenaran, seorang intelektual harus berani. Berani yang dimaksud adalah berani menghadapi resiko yang akan menimpa. Keberanian inilah adalah faktor utama seorang intelektual mengatakan kebenaran. Bagi seorang intelektual, kebiasaan seperti inilah adalah korupsi dalam bentuk tertinggi.

Menurut Edward Said “Mengatakan kebenaran kepada kekuasaan bukanlah idealis kaum Pangloss: ia benar-benar menimbang alternatif, memilih satu yang tepat, kemudian dengan cerdas memainkan perannya di mana ia bisa melakukan yang paling baik dan menyebabkan perubahan yang benar”.

Taufik Silvan W.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.