Serial Diskusi: Peran Intelektual (Bab 6)

Spread the love

BAB VI: Dewa-Dewa Yang Selalu Gagal

Minggu berikutnya,  kami pun melanjutkan pembahasan dari buku “Peran Intelektual” Edward Said. Dari BAB VI sekaligus Bab terakhir dari buku ini, Said melanjutkan tulisannya tentang hubungan intelektual dengan para penguasa secara lebih lanjut.

Sebagai pengantar Said menceritakan tentang salah satu temannya dari Iran. Dia adalah seorang intelektual yang mempunyai wajah baru dalam pemerintahan Teheran. Saat menjabat sebagai salah satu duta di kota metropolitan, dia sering menentang imperialisme yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Setelah melepaskan jabatanya sebagai duta, dia kembali ke Iran sebagai pembantu dari Presiden Bani-Sadr sampai presiden itu kalah oleh Khomeini. Satu tahun setelah itu dia menjadi seorang kritikus di bawah Khomeini dan mengencam orang yang pernah ia layani dulu. Tentu saja saat itu dia masih memprotes perihal imperialisme Amerika. Namun saat Perang Teluk terjadi, dia adalah salah satu orang yang menyuarakan untuk mendukung Imperialisme.

Untuk golongan intelektual, hal itu tentu tidak pantas menurut Said. Seakan membuka bab yang sebelumnya, seorang intelektual haruslah bebas, tak terbatas pada negara, bahasa maupun para dewa politik. Setelah terbebas dari batasan-batasan tersebut tantangan selanjutnya adalah mengatakan kebenaran kepada kekuasaan. Dari sinilah kita akan melihat para intelektual menyerah dan mulai menemukan dewa-dewa mereka. Alasan utama mengapa mereka memilih dunia politik karena disitulah terdapat “sesuatu” yang dapat menggerakan masyarakat bahkan negara.

Hal semacam itu juga terlihat pada intelektual Arab. Masalh muncul saat Amerika mulai menampakkan diri sebagai kekuatan asing di Timur Tengah. Apa yang pernah menjadi anti-Amerika tiba-tiba berubah pro-Amerika. Kritik untuk Amerika yang muncul pada kolom surat kabar mulai menurun. Beberapa intelektual pun berpaling menyadari peran barunya di Barat dan mulai menghamba pada dewa.

Dalam kasus ini terdapat beberapa hal yang menonjol. Yang pertama adalah tidak adanya kebenaran yang universal. Analisis intelektual yang riil tidak memperbolehakan menganggap satu sisi baik dan yang lainya buruk. Namun jika kita hanya mengacu pada pola, maka kita tidak akan bisa berpikir sebagai intelektual. Kedua adalah melakukan hal yang sama pada penguasa walaupun dulu pernah dikecewakan.

Sebagai seorang intelektual haruslah mempunyai ruang untuk berdiri dan keberanian untuk mengatakan kebenaran kepada otoritas seperti yang telah dikatakan oleh Edward Said pada Bab sebelum ini. Dari sini para intelektual haruslah berhati-hati, bisa jadi hasil pemikiran dari intelektual ini akan dibekukan dalam sebuah instotusi maupun sistem. Selanjutnya para penguasa akan selalu menuntut sejenis kepastian absolut dan total.

Untuk itu sangat penting bagi kaum intelektual untuk mempertahankan kebenaran mereka di era ini. Akan sangat sulit mempertahankan kebenaran yang ada, karena dengan berjalannya waktu akan sering kita jumpai perubahan. Sebagai seorang intelektual seharusnya sadar kalau mereka mewakili emansipasi dan pencerahan tapi tidak pernah sebagai dewa yang harus dilayani.

Satu-satunya cara untuk pernah mencapainya adalah tetap mengingatkan diri sendiri bahwa sebagai seorang intelektual mereka adalah satu-satunya yang dapat memilih antara menyampaikan kebenaran secara aktif dengan semampunya, dan secara pasif mengizinkan seorang patron mengarahkannya. Bagi para intelektual, para dewa ini senatiasa gagal.

 

-Ika Nur Karimah

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.