Si Skizofrenia

Spread the love

“Anak-anakku hilang! Kita akan tenggelam!” teriak laki-laki itu tiap kali aku menemuinya di ruang perawatan. Kau tahu, orang gila tak akan mengaku gila, seperti halnya pencuri yang tak akan mengaku mencuri. Percayalah.

“Anak-anakku hilang, kita akan tenggelam! Anak-anakku hilang, kita akan tenggelam!” Begitu terus hampir setiap hari.

Aku pertama kali bertemu dengannya beberapa bulan lalu ketika rumah sakit menugaskan ku memeriksa kondisi kejiwaannya. Laki-laki itu berusia 30 tahun. Tubuhnya gempal, rambut ikal, dan kumisnya tebal.

“Hei, kau kenapa? Tenanglah.” Kupegangi bahunya dan coba menenangkan. Tapi Si gila ini terus saja berteriak.

“Tenggelam! Kita akan tenggelam!”

Menurut catatan yang kuterima, orang ini menderita skizofrenia, penyakit gangguan jiwa yang membuat penderitanya sulit membedakan dunia nyata dan dunia khayalan. Skizofrenia merupakan salah satu gangguan psikotik kronis. Penderitanya tidak dapat menilai realitas dengan baik dan memiliki pemahaman diri yang buruk. Orang yang menderita penyakit ini sering lepas kendali dan mengamuk karena keyakinan dan gangguan pikiran yang ia alami.

Drrrrttttt, gawaiku bergetar. Sebuah pesan masuk, kubuka, “Sayang, proyek Papahku akhirnya goal. Aku seneng banget.” Kujawab “Selamat, Sayang.”

Esoknya aku datang lagi ke ruangan itu dan ia masih saja berteriak dengan suara makin nyaring. “Tenggelam! Kita akan tenggelam!” Suaranya seperti orang kerasukan setan. Kucoba menenangkannya, tapi gagal. Kucoba lagi, tetap gagal. Aku menyerah. 

Blaak! Kututup pintu lalu kukunci. Aku kembali ke mejaku. Dasar orang gila! Goblok! gerutuku. Anaknya tenggelam? Apa maksudnya? Dia kan tidak punya anak? Ah, mengapa harus kupikir? Bukankah orang skizofrenia selalu seperti itu? Berteriak tidak jelas dan bertingkah nirbatas? Sebuah pesan masuk lagi, “Sayang, aku kangen. Weekend ketemu di tempat biasa ya.” Kubalas, oke

Hari berikutnya aku datang lagi ke ruangan itu. Ini adalah kunjungan yang terakhirku, sebab rumah sakit mendesakku untuk segera membuat laporan. Pintu kubuka pelan. Hening. Aku masuk, kulihat ia sedang duduk sambil menatap ke luar jendela. Diam. Pandangannya kosong.

“Kenapa kau datang lagi?” sergahnya.

Aneh, dia tak berteriak-teriak seperti kemarin.

“Aku di sini untuk memeriksamu.”

“Apakah kau orang jahat?”

“Tidak, aku bukan orang jahat.”

“Kau akan menyiksaku?”

“Untuk apa aku menyiksamu?”

Ia lalu menatapku.

“Aku sakit apa?” Tanyanya lirih.

“Kau menderita skizofrenia,” kujawab hati-hati.

“Hah? Itu penyakit apa?”

“Sejenis gangguan jiwa.”

“Hah? Aku tidak gila, tahu.” Ia lalu memutar badan dan duduk di dekatku.

Sebuah kursi kugeser pelan. “Boleh aku duduk di sini?” tanyaku padanya.

“Boleh, silakan.” Kami pun duduk bersebelahan.

Kamar itu berukuran tiga kali empat meter. Di dalamnya ada sebuah tempat tidur, almari kecil, dan dua buah kursi yang sekarang kami duduki. Sinar matahari menerangi kami melalui jendela.

“Aku tidak gila, tahu,” ucapnya lagi.

“Tidak ada orang gila yang mengaku gila.” Aku harap ia tak lepas kendali.

“Haha,” ia tertawa, “Jadi, kau percaya bahwa aku gila?”

“Jika kau waras, kau takkan di sini.”

“Em, begitu ya?”

“Iya.”

“Tapi aku di sini bukan karena keinginanku.”

“Terus?”

“Ceritanya panjang.”

Aku menghela nafas, lalu kupandang wajahnya. Aneh, kali ini sorot matanya berbeda dari biasanya. Kemarin ia seperti hewan buas. Hari ini ia seperti orang bijak. Itu membuatku kik-kuk. Kukeluarkan sapu tangan dan kuusap keringat di kening. “Ceritakanlah, aku akan mendengar,” ucapku.

Aku harus mendengar setiap kata yang keluar dari mulut si skizofrenia ini. Kata orang, penderita skizofrenia kadang hanya butuh didengar. “Hm. Baiklah,” ia memulai, “Aku adalah manusia yang lahir dan tumbuh bersama deburan ombak. Ya, rumahku di dekat pantai. Bapakku adalah nelayan. Ia mengajariku banyak hal, salah satunya adalah ini: jangan pernah merusak alam, sebab alam adalah ciptaan Tuhan.”

Sebuah pembuka cerita yang membosankan. Tapi aku harus mendengar cerita si skizofrenia ini sampai tuntas.

“Tak jauh dari rumahku ada hutan bakau,” ia melanjutkan, “kau tahu bakau kan? Itu lho pohon yang bisa melindungi pantai.”

“Ya aku tahu,” jawabku.

“Nah, bagus. Aku sering diajak bapakku merawat pohon-pohon bakau-bakau itu. Tapi suatu hari….” nada bicaranya menurun. Tiba-tiba drrrrttt… gawaiku berdering, sebuah panggilan masuk. “Sebentar, kuangkat panggilan ini dulu.” Aku ke luar sebentar.

“Halo, Sayang,” ucapku.

“Hai, Sayang. Kamu lagi ngapain?”

“Aku sedang bertugas nih.”

“Oh sedang ngurus orang gila ya? Haha.”

Tawanya keras. Volume gawai kukecilkan.

“Hush! Ada apa? Kalau tak begitu penting, telfon nanti saja.”

“Ish ish ish, galak banget sih.”

“Hmm.”

“Papah pingin ketemu kamu.” Busyet, aku kaget. “katanya dia pingin ngobrol. Pekan depan kamu ada waktu, kan?”

Kujawab, “ada,” dan percakapan itu ditutup dengan sebuah kesepakatan bahwa pekan depan aku, dia, dan si papah akan bertemu di sebuah restoran yang berlokasi di dekat pantai.

Aku masuk lagi. Si skizofrenia masih duduk di kursi.

“Maaf, silakan dilanjut,” kataku.

“Suatu hari bakau-bakau itu dirusak orang. Aku tak tahu siapa. Yang jelas aku melihat bakau-bakau itu hancur. Hatiku teriris. Air mata tak bisa kutahan. Bakau-bakau itu sudah kuanggap sebagai anak-anakku. Mereka mati. Aku adalah orang tua yang kehilangan anak.”

“Kau pasti pasti sangat sedih,” aku mencoba bersimpati.

“Aku sangat sedih. Tapi aku berusaha untuk tidak berputus asa. Kutanami tempat itu dengan bibit-bibit bakau baru. Tapi setelah bibit-bibit itu kutanam, besoknya pasti rusak. Kutanam lagi, rusak lagi. Tanam lagi, rusak lagi. Begitu terus. Tak lama setelah itu kudengar akan dibangun sebuah tanggul laut. Aku menentang keras rencana itu karena sekuat-kuatnya tanggul laut masih lebih kuat hutan bakau.”

Awan melahap matahari, membuat sinarnya yang merambati tubuh kami menghilang seketika. Ruangan itu kini agak gelap.

“Atas kejadian rusaknya bakau-bakau itu aku melapor ke polisi. Tapi tak ada tanggapan. Aku mengadu ke bupati, tak ditemui. Lalu aku protes di jalanan sambil berteriak “Anak-anakku hilang, kita akan tenggelam! Anak-anakku hilang! Kita akan tenggelam!” Dan tetap tak ada yang peduli. Aku muak. Akhirnya aku protes dengan cara duduk di pinggir jalan sambil memegang kertas bertulis BAKAU YES, TANGGUL NO.”

Matari muncul lagi, dengan cepat sinarnya memasuki jendela. Ruangan itu kini kembali terang.

“Mengapa kau mati-matian melindungi bakau-bakau itu?”

“Sudah kubilang mereka adalah anak-anakku. Kau tahu, mereka itu hebat, bisa menahan abrasi pantai dan bisa menjadi habitat banyak hewan. Ketika bakau hilang pantai akan tergerus dan banjir pasti datang.”

“Bakau itu sekarang tidak ada, dan tidak terjadi banjir.”

“’Belum’, bukan ‘tidak’” sergahnya cepat-cepat, “lihatlah beberapa tahun lagi, bencana besar pasti datang! Kau pasti menganggapku gila. Tapi siapa yang sebenarnya gila? Bagiku yang gila adalah mereka yang percaya tanggul beton lebih hebat dari hutan bakau.”

Baru kali ini aku bertemu penderita skizofrenia seperti ini. Ucapannya tertata, sistematis, dan sedikit masuk akal. Biasanya penderita skizofrenia bercerita tentang naga di perut yang bisa keluar saat keadaan genting, atau tentang jibril yang turun dari pesawat terbang. Namun sebagus dan semasuk akal apapun, omongan penderita gangguan jiwa tetaplah omong kosong, tanpa makna, nir arti. 

“Terus bagaimana kau bisa sampai di sini?” tanyaku.

“Hahaha. Suatu hari beberapa polisi menggelandangku ke kantor. Mereka memeriksa dan lalu menyiksaku. Aku hanya berucap ‘Anak-anakku hilang, kita akan tenggelam!’ Begitu terus selama dua puluh hari pemeriksaan. Lama-lama mereka lelah, dan tanpa alasan jelas mereka menyatakan aku gila. Lalu aku dibuang ke sini. Hahaha.”

Kalimat terakhir itu seperti sebuah ‘gong!’ yang mengakhiri cerita. Si skizofrenia nampak puas dan lega. Ia lalu gerakkan badannya yang gempal itu ke kasur. Bruuk! ia merebah.

“Aku lelah,” katanya.

“Lebih baik kau istirahat. Oh ya, terima kasih sudah mau bercerita.”

“Sama-sama. Terima kasih juga sudah mau mendengar ceritaku.”

Si skizofrenia memejamkan mata, tidur, lalu mendengkur. 

Aku keluar, mengunci pintu lalu kembali ke mejaku. Arloji yang sedari tadi diam melingkar di tanganku menunjukkan pukul 16.23. Sial, berapa lama Si skizofrenia itu bercerita? Entahlah. Aku tulis semua yang ia ceritakan tadi.

Belum lama aku menulis tiba-tiba gawaiku bergetar lagi, sebuah pesan masuk , “Sayang, pas ketemuan nanti kamu jangan telat, ya. Papah ngga suka.”

Tak kubalas.

***

Hari ini aku akan menemui pacarku dan papahnya. Ah, aku gugup. Kutancap mobil menuju tempat yang sudah kami sepakati: sebuah restoran mewah di tepi pantai.

“Kenalin, ini Papahku,” katanya sambil menunjuk laki-laki baya yang duduk di sampingnya.

“Halo, salam kenal, Pah.” Kujabat tangan laki-laki baya itu.

“Gimana restorannya? Bagus ngga?” Ia bertanya.

“Bagus, bagus. Nyaman banget di sini.”

“Hehe, restoran ini milik Papah, loh.”

“Oh ya?” Aku agak terkejut.

“He’em. Kamu lihat tanggul di sana?” tangannya menunjuk tanggul beton raksasa yang bercokol di pantai.

“Iya, kenapa?” tanyaku.

“Itu proyek Papah yang aku bilang ke kamu kemarin.”

Kulihat tanggul itu, nampak gagah menghalau ombak.

“Yah begitu lah,” kata si Papah, “Papah bangun tanggul beton itu agar wilayah sini terbebas dari banjir.”

“Wah keren, Pak.” Aku memuji sekenanya.

“Kamu tahu, Papah ada cerita lucu pas bangun tanggul itu,” si papah nampak antusias. Aku jadi penasaran.

“Dulu ada hutan bakau di sana,” tangan Si papah menunjuk ke sisi pantai yang agak jauh. “Nah, pohon-pohon itu mengganggu pembangunan beton, jadi harus ‘dibersihkan’”. Terus tiba-tiba ada orang yang mengaku sebagai bapak pohon-pohon itu. Hahaha. Gila nggak tuh? Masa manusia punya anak pohon? Hahaha” Si Papah tertawa lebar.

Orang gila? Bapak pohon-pohon bakau? Jangan-jangan….

Gedebuk, gedebuk, gedebuk. Tiba-tiba terdengar langkah ratusan orang. Aku dan si papah menengok ke luar jendela. Astaga! Ada demo. Nama Si papah disebut berkali-kali dengan nada bersungut-sungut. Seorang petugas keamanan restoran menghadap si papah dan mengatakan bahwa para pendemo itu menuntut ganti rugi atas kerusakan lingkungan yang terjadi akibat pembangunan tanggul beton. Kata petugas keamanan itu “Para pendemo itu ngomong bahwa tanah di sekitar rumah mereka ambles dan air sumur jadi asin.”

Semarang, 13 April 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.