Soal Islam, Soal Tulisan: Beberapa Poin Tanggapan

Spread the love

Oleh Asep Syaeful Bachri

Tulisan ini muncul atas tanggapan penulis terkait tulisan saudara Eko Santoso (Islam dan Relevansinya Menentang Kapitalisme), yang sempat dimuat oleh website gratisan Kalamkopi pada Hari Minggu, 22 Januari 2017 kemarin. Pada dasarnya, tidak ada perbedaan “fundamental” dengan argumentasi Eko Santoso terkait dengan relevansinya agama Islam, sebagai agama populis dalam menentang sistem kapitalisme dan neoliberalisme, yang kian hari semakin ganas dalam praktiknya. Bahkan dalam praktiknya, beberapa komprador kapitalisme besar di India, yang menguasai pasar dalam hal menyediakan hampir semua kebutuhan warga India, berani mengatakan; kalian tak bisa hidup tanpa kami.

Sikap berlebihan para korporasi yang hanya dipegang oleh beberapa orang tersebut, yang bahkan mendaku diri sebagai orang yang dapat mengatur dunia dengan kekuasaannya, alias mengaku dirinya Tuhan, merupakan salah satu sifat yang telah melebihi batas. Hal ini sama seperti yang pernah dilakukan oleh Fir’aun, sehingga Allah SWT memerintahkan Nabi Musa AS, untuk memperingatkannya dengan sebuah ayat yang berbunyi (ٱذْهَبْ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ) “Pergilah kamu kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas” (QS. An-Nazi`at [79] : 17). Begitu juga, ketika Nabi Muhammad SAW diutus kepada kafir Quraish, yang pada saat itu kondisinya tak jauh berbeda dengan Fir’aun, (إِنَّآ أَرْسَلْنَآ إِلَيْكُمْ رَسُولًا شَٰهِدًا عَلَيْكُمْ كَمَآ أَرْسَلْنَآ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ رَسُولًا) “Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu (hai orang kafir Mekah) seorang Rasul, yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus (dahulu) seorang Rasul kepada Fir’aun” (QS. Al-Muzzammil [73]:15).

Dengan begitu, sangat relevan sekali ketika para ulama sebagai pewaris para Nabi, untuk memperingatkan mereka para kaum kapitalis yang telah melampaui batas dalam keserakahannya dan ambisinya atas kekuasaan. Sekaligus menjadi relevan atas tanggung jawab ulama, untuk memperjuangkan umatnya dalam semua aspek kehidupan, mulai dari nasib mereka ketika di dunia, hingga sampai dengan membawa umatnya selamat pada hari pembalasan. Walaupun, dalam faktanya para ulama yang benar-benar faqih dan mempunyai tenaga lebih untuk berjuang, setiap hari semakain berkurang.

1/
Akan tetapi, ada beberapa catatan terhadap tulisan saudara Eko Santoso tersebut, yang penulis kira belum tepat dan cenderung tergesa-gesa. Pertama, adalah statemen bahwa setelah Rasulullah SAW mendapatkan wahyu dari Allah SWT, beliau dituntut untuk belajar membaca dan menulis dan menjadi pioner dalam pencerdasan bangsa Arab. Padahal Rasulullah SAW disebut sebagai sosok yang ummi, karena beliau tidak mengenal baca dan tulis. Hal inilah yang dimaksud oleh surah al-A’raf 158, sebagai berikut: “Maka hendaknya kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, yakni seorang Nabi yang ummi, yang beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat-Nya”. Juga dalam surah al-‘Ankabut ayat 48, sebagai berikut: “Engkau tidak akan pernah mampu membaca kitab sebelumnya, dan engkau tidak akan mampu menggoreskan dengan (tangan) kananmu”.

Kata menulis dalam ayat tersebut, digambarkan dengan fi’il mudhorek (yaktubu), yakni bentuk dari sekarang dan yang akan datang, dan bukanlah fi’il madhi (kataba), yang mempunyai arti masa lampau. Oleh karena itu, makna kata tersebut adalah “sesungguhnya engkau tidak akan mampu menulis pada saat sekarang, juga pada saat yang akan datang”. Selain itu, dalam kata yaktubu (menulis) dalam ayat tersebut dinegatifkan dengan nafyu bi shigah al-madhi (pola negatif bentuk lampau), yakni diberi kata Wa Ma Kunta (engkau tidak pernah). Sehingga dapat ditarik kesimpulan, bahwa Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis sebelum kenabian, serta sesudahnya.

Dengan adanya pengakuan Rasulullah SAW sebagai sosok yang ummi oleh Al-Qur’an, pada dasarnya Allah SWT ingin menegaskan bahwa; jika Muhammad SAW mampu menuliskan wahyu, maka mereka akan menuduh, ”Dia telah menemukan kisah-kisah tersebut dalam sebuah tulisan lalu ia hafalkan”. Oleh karena itu, Al-Qur’an dianggap sebagai mukjizat kerasulan, karena memang teksnya terjaga hingga sekarang, dan tentunya karena diwahyukan secara lisan oleh Nabi yang ummi, yang tidak mengetahui baca dan tulis hingga akhir hayatnya.

Hal tersebut dijelaskan lebih rinci oleh al-Allamah Ibnu Katsir–semoga Allah melimpahkan rahmat kepada beliau–dalam tafsirnya, tentang ungkapan, “orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi….dst. Ini adalah sifat Rasul SAW dalam kitab-kitab para Nabi. Mereka telah memberikan kabar gembira kepada umat mereka tentang kebangkitannya, dan memerintahkan mereka mengikutinya. Sifat dan cirinya tertulis dalam kitab-kitab mereka, dikenal oleh para ulama dan pendeta mereka. Ibnu katsir menegaskan termasuk sifatnya adalah keadaan yang ummi, tidak bisa membaca dan menulis. Hal ini sangatlah penting, mengingat hal tersebut berkaitan langsung dengan kemurnian ajaran Islam, yang tidak diperoleh dari teks-teks sebelumnya, melainkan benar-benar berasal dari Malaikat Jibril, dan Malaikat Jibril langsung dari Allah SWT.

2/
Walaupun begitu, penulis sangat sependapat dengan Eko Santoso terkait penafsiran “Jahiliyah” yang tidak hanya berkutat pada minimnya pengetahuan baca tulis penduduk Mekah. Walaupun pada waktu sebelum datangnya Islam penduduk Mekah yang dapat menulis hanya sejumlah tujuh belas orang, tapi setidaknya ada beberapa pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat Arab, yang diantaranya dalam bidang; 1) Astronomi, tetapi hanya sebatas pada penggunaan bintang untuk petunjuk jalan, atau mengetahui jenis musim. 2) Meteorologi, mereka menggunakan untuk mengetahui cuaca dan turunnya hujan. 3) Sedikit tentang sejarah umat sekitarnya. 4) Pengobatan berdasarkan pengalaman. 5) Perdukunan dan semacamnya. 6) Bahasa dan sastra, walaupun minim baca tulis, akan tetapi dalam bidang bahasa dan sastra, masyarakat Arab maju. Sering diadakan musabaqah (perlombaan) dalam menyusun syair atau membacanya, yang mahir dalam bersyair. Bahkan, sebagai penghormatan terhadap penyair, mereka mendapat kedudukan yang istimewa. Mereka dinilai sebagai pembela kaumnya, karena dengan syair mereka dapat mengangkat derajar kaumnya, begitu juga kebalikannya. Dan bagi syair-syair yang indah, akan diberi kesempatan untuk syairnya tersebut digantungkan di Ka’bah.

Dengan kata lain, zaman jahiliyah yang digambarkan sebagai kondisi masyarakat Arab sebelum datangnya Islam, tidak hanya berhenti pada keterbatasan dalam baca tulis. Akan tetapi juga kondisi masyarakat Arab, yang diantara perlakuannya adalah kurang penghormatan terhadap perempuan. Misalnya, sejumlah kurang dari sepuluh orang mendatangi seorang perempuan, dan semuanya menyetubuhinya. Dan ketika perempuan tersebut hamil dan melahirkan, maka perempuan tersebut mendatanginya dan menunjuk salah satu dari mereka untuk dinisbatkan sebagai orang yang bertanggung jawab dan menjadi sanad dari anak tersebut. Dalam hal poligami, mereka melakukan tanpa batas, misalnya mengawini dua perempuan bersaudara, mengawini istri bapak mereka yang telah ditalak atau ditinggal mati. Bahkan ada diantara suku Arab yang suku membunuh anak perempuannya sendiri karena malu, atau karena anak itu tidak menarik hatinya.

Pengertian yang jauh lebih luas lagi, sifat-sifat jahiliyah juga termasuk perlakuan para oligarki Mekah terhadap para budak dan praktek jual beli budak. Dewasa ini, hal tersebut tergambarkan oleh kaum yang tak mempunyai alat produksi, sehingga mereka harus menjual tenaganya dengan menjadi buruh para korporasi. Para kaum korporasi yang mempunyai modal dan alat produksi, akan menindas mereka dengan upah buruh yang minim, sehingga mereka mendapat profit yang tinggi.

Lebih lanjut lagi, fenomena isu-isu terakhir di Indonesia yang kian hari kian absurd dari persoalan masyarakat, yaitu saling caci maki, yang merupakan salah satu sifat jahiliyah. Hal tersebut terkonfimasi dengan tindakan Abu Dzar Al-Ghifary yang mencela seorang laki-laki dan menghina ibunya, hingga akhirnya peristiwa tersebut diketahui oleh Nabi Muhammad SAW, kemudian beliau bersabda, “Engkau adalah seorang yang masih memiliki sifat jahiliyah”. Naasnya, hampir semua ciri-ciri dan sifat-sifat jahiliyah tersebut tergambar jelas dengan apa yang terjadi di Indonesia hari ini. Mulai dari pemerintahan yang kongkalikong dengan para korporasi demi keuntungan pribadi, hingga menjamurnya caci maki, yang justru dilakukan oleh umat Islam sendiri.

3/
Selanjutnya, yang menjadi catatan penulis atas tulisan Eko Santoso adalah perlindungan terhadap orang-orang kafir. Mungkin hal ini termasuk keprihatinan saudara Eko, dimana di Indonesia hari ini, justru berkembang isu yang lebih mengedepankan rasa intoleransi dari pada rasa toleransi. Akan tetapi, penulis kira fenomena tersebut termasuk dampak dari kebiasaan menggeneralisir semua informasi yang kita dapatkan. Karena kita tidak bisa mengingkari sebuah ayat yang menyatakan, ” Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya adalah keras terhadap non muslim ( yang menyerang ), tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud….”( QS. Al Fath : 29 ).

Disisi lain, dalam sebuah kisah, disebutkah bahwa Abu Bakar Assidieq, pernah menanyakan amal apa yang belum ditiru dari Rasulullah SAW kepada Aisyah, dan ternyata amal tersebut adalah memberi makan orang tua, buta dan miskin yang beragama yahudi. Dalam kisah tersebut, Abu Bakar tercengang ketika orang buta tersebut mengatakan bahwa Abu Bakar Assidieq bukanlah orang yang biasa memberinya makan. Kata orang tua tersebut, orang yang sering memberinya makan yaitu Rasulullah SAW, yang selalu mengunyahkan terlebih dahulu sebelum disuapkan kepadanya. Disisi lain, karena orang tua ini merupakan orang buta, sehingga ia tidak tahu siapa yang selama ini yang menyuapinya. Dan karena ia beragama Yahudi, ia sering kali mengolok-ngolok Nabi Muhammad SAW, yang membawa agama Islam. Dan kita bisa bayangkan sendiri betapa mulia akhlaq Rasulullah dalam kisah ini. Beliau memberi makan setiap hari, seorang yang buta dan miskin yang beragama non muslim, yang juga menghinanya setiap hari. Bisakah kita membayangkan?

Dari situlah kita bisa membedakan sikap umat Islam terhadap non muslim, yang tidak sepenuhnya disponsori oleh perbedaaan keyakinan, dan lebih didasarkan pada standarisasi kesejahteraan dan keadilan. Sehingga, bisa jadi kita juga harus menentang Ahok dalam kepemimpinannya, tapi bukan atas dasar prasangka non muslim dan etnis nya, tapi atas kebijakan-kebijakannya yang jauh dari kesejahteraan dan keadilan bagi warga DKI yang status ekonominya menengah kebawah. Sehingga argumentasi Eko Santoso tidak blunder dan menghalangi progresifnya umat Islam itu sendiri. Bahkan dalam pendapat yang lebih keras, Kanthongumur dalam bukunya, menyebutkan; tidak seperti orang bodoh yang bersikap lembut saat keadaan menuntut sikap keras, dan bersikap keras saat keadaan menuntut bersikap lembut. Dari sinilah kita mulai belajar untuk tidak bisa menggeneralisasi suatu hal, tanpa disesuiakan dengan kondisi dan faktanya di lapangan.

Lebih jauh lagi, Gus Dur dalam artikelnya yang berjudul “Islam dan Dialog Antar-Agama”, menjelaskan tentang kesempatan Islam untuk kerjasama antara sistem keyakinan lain dalam menangani kehidupan bermasyarakat, karena masing-masing memiliki keharusan menciptakan kesejahteraan lahir (keadilan dan kemakmuran) dalam kehidupan bersama, walaupun bentuknya berbeda-beda. Disinilah, nantinya terbentuk persamaan antar agama, bukannya dalam ajaran/aqidah yang dianut, namun hanya pada tingkat capaian materi. Jadi tidak ada lagi pertentangan dan perpecahan berdasarkan agama, seperti yang digaung-gaungkan kaum fundamentalis akhir-akhir ini.

4/
Terakhir, yang menjadi catatan kritis saya atas artikel Eko Santoso, yaitu argumentasinya yang menggambarkan Islam sekarang yang hanya berkutat atas persoalan-persoalan spiritual, dan tidak menyentuh pada persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat sekarang. Hal tersebut menurut Eko, megurangi sisi progresif Islam sebagai agama yang membebaskan. Akan tetapi, argumentasi tersebut kontradiksi sekali ketika disisi lain, ia (Eko) juga menyalahkan fiqh, bahkan dengan beraninya menyebutkan sesuatu hal yang bahkan kurang disentuh Nabi Muhammad SAW, sebagai pembawa ajaran Islam.

Sepanjang pemahaman saya, kajian fiqh meluas hingga semua lini yang berkaitan dengan kehidupan manusia itu sendiri, entah itu hubungannya dengan Allah, manusia, maupun dengan alam. Dan jika memang yang diinginkan melalui pendekatan petentangan kelas, Islam dengan kajian fiqhnya, justru menempatkannya sebagai landasan dari keputusan fiqh itu sendiri. Contohnya ada banyak sekali, salah satunya adalah hukuman bagi orang yang melakukan hubungan suami istri yang sah, di siang hari pada bulan Ramadhan, maka hukumannya adalah memerdekakan budak perempuan, jika tidak kuat memerdekakan budak, maka puasa dua bulan berturut-turut, dan jika pun puasa selama dua bulan berturut-turut tidak kuat juga, maka memberi makan kepada enampuluh orang miskin/ sebanyak perorang satu mud. Secara tidak langsung, hukum-hukum yang terdapat dalam fiqh sangat memperdulikan keadilan dan kesejahteraan dan menjadikannya sebagai landasan ketentuan-ketentuannya.

Dalam perkembangannya, dirumuskannya ushul fiqh dan kaidah-kaidahnya dalam menjawab persoalan-persoalan masyarakat, hal ini terjadi setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, karena ketika Nabi Muhammad SAW masih sugeng, setiap permasalahan yang terjadi dalam masyarakat langsung disowankan kepada Nabi Muhammad SAW, dan seketika itu menjadi sebuah hukum fiqhiyah/syariat Islam. Dan dalam pokok-pokok acuannya ( ushul fiqh ) salah satunya yaitu kemashlahatan masyarakat (mashlahah al mursalah ), sehingga menjadi wajar, penolakan terhadap pertambangan geothermal/panas bumi di Gunung Ciremai, yang kemudian dapat diusir, mula-mulanya didasarkan pada dalil fiqh yang jelas, yang dirumuskan ulama Cirebon dalam forum Batsul Masail. Bahkan penolakan tersebut dapat dihitung sebagai ibadah yang diganjar pahala. Sampai disini, saya kira gugur argumentasi Eko, yang merendahkan Fiqh dan menyempitkannya sebagai ibadah yang hanya berhubungan dengan Allah SWT, karena Islam yang dibawakan oleh Nabi Muhammad SAW, dalam praktik pembebasannya, justru menggunakan syariah/fiqh itu sendiri, dan tidak bisa dipisah-pisahkan. Walaupun pada tingkatan selanjutnya, tidak cukup hanya berpegang pada syariat/fiqh belaka, perlu juga menjamah pada tingkatan Tarikat hingga Ma’rifat.

Mungkin itu sedikit catatan penulis dalam menanggapi tulisan Eko Santoso, dan juga menanggapi ajakan diskusi melalui tulisan oleh Bagas Yusuf Kausan, walaupun sebenarnya tulisan ini sendiri sudah mulai digarap sebelum ajakan tersebut terlontat (karena tulisan ini terbengkalai lama, yang tak kunjung-kunjung selesai), dan untuk mengakhiri tulisan ini, perkenankan saya untuk mengutip kata-kata Gus Dur yang menurut saya sangat menohok, “cukup mudah dalam perumusan, tapi sangat sulit dalam pelaksaan, bukan ?”. ***

0 thoughts on “Soal Islam, Soal Tulisan: Beberapa Poin Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.