Soekarno, Komunis dan Fasis Orba

Spread the love

Judul         : Soekarno, Komunis dan Fasis Orba

Penulis     : Wilson

Penerbit   : Intrans Publishing

Pengulas  : Bagas Yusuf Kausan

I

Soekarno, Komunis, dan Fasis Orba. Begitulah judul buku yang ditulis oleh Wilson Obrigados, dan diterbitkan oleh Intrans Publishing dengan bekerja sama pula dengan Social Movement Institute. Buku ini merupakan kumpulan tulisan Wilson di tahun 1991 hingga 2013. Tulisan tertua dalam rentang 22 tahun tersebut, merupakan tulisan bersama Wilson dan Hilmar Farid dalam Seminar Mahasiswa Sejarah Nasional di Padang, Mei 1991. Sementara tulisan termuda nya, berisi sebuah tulisan tentang Soekarno yang diterbitkan di majalah Prisma edisi khusus pada bulan Juni 2013.

Wilson, merupakan alumnus Jurusan Sejarah Universitas Indonesia. Sejak muda, ia aktif di berbagai organisasi kerakyatan seperti; Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID), Pusat Perjuangan Buruh Indonesia (PPBI), Partai Rakyat Demokratik (PRD), Solidaritas Perjuangan Rakyat Indonesia untuk Maubere (SPRIM), Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat, Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI), dan beberapa organisasi swadaya masyarakat lainya. Karena keterlibatan Wilson dalam jejering penentang Rezim Militeristik Soeharto, Ia bersama rekan-rekannya pernah mendekam dalam penjara Orde Baru pada tahun 1996-1998. Selain dikenal sebagai aktivis kerakyatan, Wilson terkenal sebagai penulis produktif dengan bukti tersebarnya beragam tulisan nya, baik berupa artikel, jurnal, buku, maupun pengantar di beragam buku yang telah tersebar menjadi harta keilmuan Indonesia.

Buku Soekarno, Komunis, dan Fasis Orba, terdiri dari 10 tulisan Wilson yang mengangkat beragam topik berlatar kesejarahan. Dari keseluruhan topik yang ada, dapat di tarik 4 buah arus besar tulisan Wilson dalam buku tersebut, yaitu; Pergerakan Kemerdekaan, Soekarno, Komunis, dan Fasis Orba. Sebelum memasuki dan menjelajahi tulisan-tulisan Wilson tersebut, terdapat sebuah pengantar dari Dr Venessa Hearman[i] dengan judul; PKI bagian dari Sejarah Indonesia. Dalam pengantar tersebut, Dr Vanessa melukiskan kemarahan, kegelisahan, dan pengharapan nya pada kondisi sejarah Indonesia yang telah terlampau jauh terpengaruh pemahaman keliru Pemerintahan Soeharto. Sebagai sebuah pengantar buku, Dr. Venessa dengan cermat telah memperkenalkan sosok penulis buku –Wilson, yang dalam beberapa kesempatan turut bekerja sama dengan nya. Terutama dalam aktifitas-aktifitas pergerakan maupun upaya penegakan demokrasi di masa-masa Pemerintahan soeharto. Selain bertendensi sebagai sebuah pengantar buku, tulisan Dr. Venessa tersebut dapat pula diibaratkan sebagai sebuah penutup dan kesimpulan. Sebenarnya, tulisan Dr. Venessa secara komprehensif telah mencakup keseluruhan isi buku yang di tulis oleh Wilson.

Secara beturut-turut, judul dari esai-esai Wilson dalam buku ini ialah; (1) Teror Kota: Jakarta Di Awal Revolusi (2). Sarekat Rakjat: Dari Disiplin Partai Hingga Pemberontakan (3). Reaksi Terhadap Fasisme: Kaum pergerakan Di Hindia Belanda 1930an (4). Banten, Protes dan Gerakan Revolusioner (5). Ambon: Dari Masa Kolonial Sampai Revolusi RMS (6). Soekarno, PKI, dan Militer (7). PKI Dalam Lilitan Oputrunisme Borjuasi Nasional (8). Orde Baru Berguru pada Nazi (9). Hasta Mitra dan The New Emerging Forces (10). Organisasi Rakyat harus Menuliskan Sendiri Sejarahnya. Melalui kumpulan esai tersebut, Wilson sebagai seorang sejarawan –telah mampu melukiskan konteks kesejarahan pada masa itu, dengan semangat bebas dari ketertindasan dan penghisapan akibat penjajahan bangsa asing, maupun penjajahan oleh Bangsa Indonesia sendiri.

II

Setelah 51 tahun PKI di hancurkan dengan alat-alat negara (aparat dan konstitusi), PKI masih saja menjadi momok dan hantu yang menakutkan dalam benak memori kolektif Bangsa Indonesia. Hal ini bertautan sempurna dengan proyek-proyek pengingat masa lalu rezim Soeharto, seperti yang telah digambarkan dengan indah oleh Katherine E. McGregor delam bukunya Ketika Sejarah Berseragam. Presiden Soeharto, terutama melalui medium Dinas Sejarah ABRI yang di pimpin oleh Nugroho Notosusanto, telah membentuk ingatan kelam tentang PKI yang ateis, bejad, amoral –dalam alam bawah sadar masyarakat Indonesia hingga saat ini. Rezim Soeharto, yang dinilai oleh Wilson berlajar pula kepada gerombolan Fasis dari Jerman, menutup ruang demokrasi dan melarang arus informasi alternatif masuk secara terbuka ke dalam pikiran. Hal ini yang menjadikan bangsa Indonesia terus-menerus menganut cerita dan versi sejarah yang di atur sesuai kepentingan Orde Baru.

Melalui buku ini, Wilson yang juga larut dalam kegelapan Orde Baru, mencoba mendobrak dan menawarkan alternatif dari narasi sejarah yang lain tentang PKI secara khusus, maupun elemen-elemen kiri dan New Emerging Forces[ii] lainya dalam diskursus sejarah Indonesia. Dimulai dari narasi sejarah masa-masa pergerakan awal beserta pemberontakan-pemberontakan nya, narasi seputar Revolusi 17 Agustus dan Pemerintahan Soekarno, masa-masa Orde Baru, hingga narasi alternatif tentang gerakan (yang dianggap) separatis di Maluku Selatan. Esai-esai yang ditulis Wilson, salain sarat akan komponen kesejarahan –juga sarat akan semangat perubahan, maupun perlawanan terhadap kekuatan konservatif. Untuk itu, buku ini menjadi penting untuk mendobrak narasi sejarah yang konservatif, maupun untuk memperlebar oase sejarah alternatif.

[i] Departemen Kajian Indonesia, Universitas Sydney, Australia.

[ii] Merupakan sebuah konsepsi dari Presiden Soekarno pada tahun 1960an untuk membangun gerakan baru menantang dunia lama neo-kolonialisme yang sudah mapan dan tua

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.