Soekarno Vatikan Dan Yakuza

Spread the love

Judul               : Soekarno Vatikan dan Yakuza
Penulis           : Kuntjoro Hadi
Penerbit         : Pustaka Salomon
Pengulas        : Ervan Nur Septian Ardhi

Indonesia atau Nusantara yang pernah dikagumi oleh Alfred Russel Wallace, memang memiliki keindahan yang membuka mata dunia untuk singgah di gugusan pulau di garis khatulistiwa ini. Tempat ini memiliki kekayaan yang luar biasa hingga banyak bangsa yang meliriknya. Orang barat datang dan berlomba-lomba untuk mendapatka rempah-rempah, sedangkan orang Jepang datang menginginkan kehidupan yang lebih di negeri tropis ini.

Bangsa barat yang sudah singgah pada abad 17 di dunia timur. Hubungan ini terjalin sudah lama antara Negara Vatikan, Nusantara dan Negara Jepang. Hal ini di tandai dengan kunjungan bangsa Vatin yang mengunjungi bangsa-bangsa di Asia. Terkhusus Jepang dan Nusantara yang pada saat itu Indonesia masih bernama Hindia-Belanda. Kaum minoritas Vatikan ini berasal dari Roma.

Kaum minoritas Vatikan ini adalah pejuang hak asasi manusia. Banyak sekali yang dirasakan oleh warga ketika terkena pengaruh Perang Dunia II. Di Nusantara maupun di Jepang banyak yang kehilangan nyawa, pencemaran lingkungan dan serta gangguan kenyamanan kehidupan, dan disini Vatikan mencoba untuk berusaha mendamaikan.

Berlanjut ke tanah Indonesia yang berada dibawah cengkram Jepang. Dalam buku ini, dituliskan pula tentang bagaimana kondisi dan keadaan Indonesia saat berada di tangan kekuasaan Jepang. Nippon menguasai negeri Hindia-Belanda selama tiga setengah tahun. Dimana  dalam jangka waktu yang pendek ini, Hindia-Belanda merasakan penindasan yang luar biasa, bahkan bisa dikatakan lebih kejam dari penjajahan pada masa sebelumnya, yaitu ketika Hindia-Belanda berada dibawah ketiak negeri Belanda. Mulai dari romusha, Jugan Ianfu, dan sederet bentuk penjajahan lain yang menjadi alat penindasaan untuk mencapai apa yang menjadi keinginan Negara Jepang.

Dalam pengakuannya, Soekarno mengakui bahwa dirinya juga yang mempermulus kegiatan itu dengan memperlacar atau menyumbang banyak tenaga yang dijadikan pekerja romusa. Ini bisa kita lihat ketika kunjungan Soekarno ke daerah Banten, dimana romusha tengah berlangsung disana.

Yang menarik lagi dalam buku ini adalah adanya tentara Jepang yang ikut serta dalam perang melawan negeri belanda yang sudah memenangkan perang dunia ke II. Puncaknya adalah kota hirosima dan nagasaki di hancurkan oleh sekutu, disini jepang menyerah dan harus pergi meninggalkan negara jajahannya yaitu Hindia-Belanda. Untuk itu, otomatis pimpinan dari Jepang menyuruh seluruh pasukkannya untuk kembali ke negaranya. Tetapi seruan ini tidak dipatuhi oleh seluruh pasukannya. Ada banyak tentara Jepang yang justru memilih untuk tinggal di Indonesia dan membantu para pejuang dari Indonesia mengusir negeri Belanda yang ingin menguasai kembali daerah jajahannya,  yang sempat direbut oleh Jepang. Pernyataan ini sangat menarik, namun sayang belum ada banyak peneliti yang melakukan penelitian tentang para pasukan yang memilih untuk membela para pejuang Indonesia mengusir sekutu. Saat itu mereka berperang melawan sekutu, dan menyebar di berbagai wilayah; ada yang menguasai di wilayah Gunung Semeru dan juga ada yang di daerah Bandung. Awalnya mereka ditahan oleh BKR karena dituduh mata-mata, tetapi setelah mengetahui justru mereka di manfaatkan untuk menjadi mata-mata Indonesia terhadap Belanda.

Penulis sebenarnya mempertanyakan tentang kemerdekaan Indonesia yang sebenarnya dilakukan murni karena berperang atau ada campur tangan oleh Jepang. Kenapa? Karena saat itu situasi di Indonesia sangat genting. Juga negara Jepang yang sudah menjanjikan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Disini Soekarno mengatakan kalau kemerdekaan Indonesia harus menempuh jalur perang, dirasa kurang mampu. Maka golongan tua pada saat itu, justru memilih untuk menunggu kemerdekaan yang dihadiahkan oleh Jepang. Moh. Hatta pada bulan agustus, dimana ia akan merayakan ulang tahunnya, sudah sangat bersemangat mendesak Jepang agar segera memerdekakan Indonesia dan hal itu akan menjadi kado yang luar biasa di hari kelahirannya.

Yakuza adalah salah satu geng kejahatan yang terbesar di negara Jepang. Setelah Indonesia merdeka, suatu ketika Soekarno berkunjung ke Jepang. Akan tetapi, para pembangkang dari sumatra yang mendesak Soekarno untuk membatalkan Deklarasi Djuanda itu mencoba melakukan pembunuhan terhadap Soekarno. Sampai ketika di Jepang, Soekarno dibuntuti oleh agen dari sumatra, yang terus menguntit keunjungan Soekarno ke Jepang untuk membunuh. Mendengar adanya isu pembangkang Soekarno yang ingin membunuh di Jepang, maka negaranya tidak berani mengawal Soekarno pada saat di Jepang. Disitu peran yakuza mulai kelihatan. Negara mempercayai kubu yakuza untuk mengawal Soekarno pada saat di Jepang. Yakuza ini anggotanya sangat banyak bahkan melebihi tentara Jepang pada saat itu.

Kenapa yakuza mau dan bahkan melindungi Soekarno dari ancaman pembangkang? disini mulai terlihat adanya perjanjian-perjanjian khusus dengan Soekarno dimana setelah pertemuan itu, pimpinan perusahaan terbesar Jepang, yang juga merangkap kubu yakuza telah memenangkan beberapa tender proyek besar Soekarno. Juga pada pembuatan monumen nasional, dimana kubo (?) menjadi pilihan Soekarno untuk membuat monumen tersebut, walaupun terhenti di tengah jalan. Masuknya perusahaan-perusahaan besar Jepang di indonesia, kelak akan menjadi perusahaan-perusahaan yang mendominasi perkembangan industri di Indonesia.

Disini yakuza juga tidak gampang untuk bisa mempengaruhi Soekarno. Mereka berusaha mengenalkan Soekarno dengan Naoko Nemoto. Naoko Nemoto adalah perempuan geisha yang bekerja di Tokyo, dimana itu adalah kalangan para elite seperti yakuza. Usianya saat itu sembilan belas tahun. Dengan diperkenalkannya Soekarno dengan Naoko Nemoto, apakah hal ini yang mendasari pertimbangan Soekarno untuk terbujuk rayuan yakuza? Tentunya, hal ini perlu diteliti lebih lanjut lagi. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.