Sopir dan Maut

Spread the love

Oleh Nur Azis

Napas Mario terengah-engah, tangan dan kakinya gemetar, setelah hampir satu jam berada di atas atap, mengganti genting yang bocor. Padahal, hanya ada satu genting yang pecah. Namun ketika sampai di atas, dia harus mengganti tiga atau empat genting lain. Oh, itu pekerjaan yang amat berat bagi dia.

Jika membaca cerita Mario itu, barangkali kau akan menganggap dia lelaki tak berguna. Sekadar mengganti genting pecah, ceritanya sudah seperti tentara hendak berperang saja. Kalau menurut bahasa anak sekarang, jelas itu lebay. Bukankah itu pekerjaan yang sangat biasa bagi seorang laki-laki? Lantas mengapa harus dia tulis menjadi cerita yang dramatis?

Kau tahu, setiap cerita yang kautulis nanti akan dibaca ratusan atau bahkan ribuan pembaca. Meski tidak meninggalkan jejak, seperti komentar atau sekadar like, mereka sejatinya membaca. Menikmati karya-karyamu. Jadi, tolong usahakan tulislah cerita bermutu. Cerita yang mampu membangkitkan inspirasi bagi pembaca. Cerita yang selalu menjadi kenangan. Seperti cerita tempo hari, kisah cinta seorang sopir truk dengan mbak cantik penjaga warung.

Tak ada cerita semenarik itu. Kau begitu pintar menggambarkan seorang sopir truk. Padahal, kau tak pernah menjadi sopir. Bahkan ke mana-mana kau tak pernah naik mobil pribadi bukan? Kau lebih senang naik motor atau bus atau kendaraan umum lain. Katamu, kepalamu mendadak pusing jika naik kendaraan yang bagus. Apalagi kendaraan yang dibeli dari hasil korupsi. Kau punya semacam insting, hingga kau akan mual dan muntah.

Cerita sopir truk itu sama persis denganku. Aku malu saat membacanya. Wah, bagaimana jika cerita itu dibaca istriku, anakku, mertuaku, atau penjaga warung makan itu? Kau memang pintar. Apalagi cerita saat sang sopir rela membayar berapa pun demi bisa mencium pipi si penjaga warung itu. Wah, benar-benar mirip sekali. Kau memang hebat.

Seharusnya tema seperti itu yang kautulis. Agar para istri tidak melulu menuntut sang suami membelikan ini dan itu. Agar mereka, para istri, juga tahu perjalanan mengantar barang dari sini menuju ke luar pulau itu bertaruh nyawa. Harus membayar pungutan di setiap pemberhentian, memperbaiki mesin rusak di tengah hutan, dipalak oleh pencoleng sekitar, tabrakan, dan segala macam ancaman.

Itu, itu yang seharusnya lebih kautekankan. Jika soal perempuan penjaga warung itu, aku sih tidak munafik. Memang iya, aku mengakui. Namun ibarat menonton televisi, itu ibarat iklan saja. Bersifat sementara, pengusir penat dan lelah.

Asal tahu saja, aku juga tidak pernah sejauh itu. Ya, paling hanya cium pipi. Tak lebih. Meskipun mereka sering kali memancing-mancing. Namun aku tak mau mengkhianati kesetiaan istriku di rumah. Dia perempuan yang baik. Meskipun cerewet minta ampun. Apa-apa dia komentari. Apa-apa selalu saja salah di matanya. Namun dialah perempuan paling penurut. Apalagi pas di atas ranjang.

“Maaf, Mas, jika sejak tadi aku bicara terus. Jika diam, aku takut mengantuk. Bahaya bukan?”

“Tidak apa-apa, Kang Bardi. Saya malah senang. Makin sampean banyak bicara, itu  berarti saya mendapat banyak inspirasi.”

“Wah, jangan begitu, Mas. Inspirasi apa? Memang ada inspirasi dari seorang sopir seperti aku? Bahkan di sekolah anakku, saat ditanya apa cita-cita mereka saat besar nanti, tak ada Mas yang ingin jadi sopir truk antarprovinsi.” Aku tertawa. Bukan karena lucu, melainkan karena ingin menertawakan pekerjaanku saja.

Jika ada Hari Guru, ada Hari Buruh, ada Hari Pahlawan, dan hari-hari lain, lantas kenapa tidak ada Hari Sopir? Padahal, profesi sopir jelas tak kalah bermartabat dari profesi lain. Bayangkan, siapa yang mengantar semua barang yang diperlukan sehari-hari? Ada beras, minyak, gula, sapi, kambing, dan semua kebutuhan manusia. Sopir! Ya, kami inilah yang mendistribusikan semua barang kebutuhan manusia itu.

Seharusnya profesi kami dilindungi. Bukan malah dipalak di setiap tempat pemberhentian. Memang pendapatan kami berapa? Jika sudah dipotong pihak ekspedisi, beli solar, rokok, kopi, makan, termasuk tips untuk mbak penjaga warung, sisa berapa? Sisa tak seberapa itulah yang dinanti-nantikan istri kami di rumah.

“Mas, kita nanti berhenti dulu di Rumah Makan Sederhana, baru setelah itu kita lanjutkan perjalanan.”

“Oh, siap, Kang.”

“Eh, Panjul, bangun!” Aku membangunkan Panjul, kernetku, yang duduk di ujung, di samping Mas Nasir, yang selama perjalanan terus terlelap. Mungkin dia kecapaian, karena usai mengganti ban belakang.

“Kita sudah sampai. Kerja kok tidur melulu.”

“Iya, Pak. Ini sudah bangun,” jawab Panjul setengah sadar.

Dan kau hanya tersenyum melihat Panjul yang tampak setengah sadar. Mulutnya selama perjalanan terus menganga, sehingga air liurnya menetes hingga membasahi baju. Aku tahu, kau merasa tak begitu nyaman dengan baunya. Memang begitu, Panjul paling malas mandi. Maka tak ada satu pun perempuan penjaga warung yang mau dengan dia. Kecuali, dia mau memberikan semua upahnya.

Kita sudah sampai di rumah makan. Istirahat sejenak. Sekadar melepas lelah, sebelum melanjutkan perjalanan lebih panjang. Perjalanan melalui hutan Sumatera. Kanan-kiri adalah pepohonan. Jalanan sepi, naik menanjak, dan turun menerjun adalah medan yang akan kita lalui. Namun tenang saja, kau tak perlu khawatir. Kami, para sopir, sungguh sudah menyerahkan nasib kami pada Sang Pencipta.

Sampai di rumah makan, Panjul segera menuju ke kamar mandi. Mukanya terlampau kusut. Dan barangkali, sudah sejak tadi dia menahan kencing. Dia memang tak pernah berani minta izin untuk sekadar buang hajat, kecuali aku menawari.

Dan kau duduk di meja dekat colokan listrik. Seperti biasa kau buka laptop itu. Sambil menikmati menu yang kaupesan, kaulanjutkan kegiatan mengetikmu. Entah apa yang kautulis. Aku juga tidak tahu. Namun semoga saja kau tidak melanjutkan cerita tentang Mario, laki-laki penakut yang hanya mengganti genting pecah saja tidak berani.

Lebih baik kautulis saja cerita tentang Neng Mariska, perempuan berbadan sintal yang malam ini sedang menemaniku. Kau bisa menulis tentang pengalaman hidupnya. Bagaimana dia bisa sampai di tempat ini. Bukan paksaan. Namun lebih karena keterpaksaan.

Cerita klasik, ditinggal pergi suaminya bersama perempuan lain. Terpaksa membanting tulang demi memenuhi kebutuhan hidup bersama kedua anaknya. Tak mudah mendapatkan pekerjaan pada usia itu. Apalagi tak memiliki bekal pendidikan yang mumpuni. Ya, hanya dengan melakoni pekerjaan seperti inilah dia bisa bertahan hidup. Dan membiayai pendidikan kedua anaknya.

Atau jika tidak tertarik juga, kau bisa menulis tentang rambutnya yang panjang dan berwarna kecokelatan. Atau tentang bibirnya yang merah merekah atau tentang… ah, jangan, jangan kautulis tentang itu. Lagi-lagi aku takut jika sampai dibaca istri atau anak-anakku. Dia tak boleh membaca cerita yang seperti itu. Bisa runyam nanti.

Kau teruslah menulis. Bukankah itu alasanmu ikut aku. Katamu, ingin mengetahui kehidupan seorang sopir sepertiku. Setiap kali kuceritakan, katamu tak cukup. Kau selalu ingin merasakan langsung. Ingin mengalami langsung perjalanan dari Jepara menuju ke Lampung.

Sebenarnya aku ingin juga kau mengalami hal ini. Seperti ini, saat Neng Mariska memijat seluruh tubuhku di bilik yang sempit dan remang-remang ini. Namun tidak usahlah. Khusus hal-hal seperti ini biarlah menjadi cerita yang tak perlu kautulis di laptopmu itu.

Hampir tiga jam kita habiskan waktu di tempat istirahat itu. Saatnya kita lanjutkan lagi perjalanan. Tolong catat, inilah perjalanan yang menurut banyak sopir perjalanan akhirat. Mengerikan bukan? Karena memang tak sedikit korban berjatuhan di jalan menanjak itu.

Dini hari kita melanjutkan perjalanan. Kuhidupkan mesin truk yang memuat berton-ton barang ukiran mebel dari Jepara. Kau duduk di sampingku dan di sampingmu ada Panjul.

“Semua sudah beres, Njul?” Aku memastikan kondisi truk semua terkontrol baik.

“Sudah, Pak. Semua siap,” jawab Panjul meyakinkan.

Sepertinya semua sudah siap. Dan kita langsung melanjutkan perjalanan melintasi jalan lintas Sumatera menuju ke Lampung.

Bismillahirrahmanirrahim,” aku mengawali perjalanan dengan membaca basmallah.

Truk berjalan. Ya, seperti itulah truk bermuatan berton-ton berjalan pelan, 20 kilometer per jam. Kau sepertinya mengantuk. Ah, jadinya tak ada yang mendengarkan ceritaku. Untunglah, Panjul kali ini mampu terjaga. Memang beberapa kali melalui jalan ini Panjul selalu siaga.

Tak banyak mobil besar berlalu. Ada jarak sekitar lima puluh atau seratusan meter. Dari arah berlawanan pun demikian. Motor juga demikian, dini hari itu sangat jarang melintas.

Akhirnya kita sampai di tanjakan Tarahan, Jalan Lintas Sumatera Km 21-22, Katibung, Kabupaten Lampung Selatan.

“Mas, Mas!” Aku membangunkan Mas Nasir.

“Iya, Kang. Maaf tertidur. Kita sampai mana, Kang?”

“Sebentar lagi kita sampai tanjakan Tarahan, Mas. Jalan menurun tajam dan menukik. Nah, nanti kalau sampai tanjakan itu jangan lupa berdoa sebisanya. Bisa ta, Mas?”

“Misalnya berdoa apa, Kang?”

“Ya apa saja sebisanya.”

“Selawat saja, Mas,” sahut Panjul sok tahu.

“Iya, selawat saja.”

“Siap, Kang”

Sekitar lima puluh meter lagi truk akan sampai di tanjakan Tarahan. Aku tak banyak bicara. Terus membaca selawat serta doa-doa semampuku. Meski sudah berkali-kali melalui tanjakan ini, aura keseramannya selalu membuat keringat dingin.

Sepuluh meter lagi. Di belakang, dengan jarak hampir lima puluh meteran, ada truk besar. Di depan tak terlihat kendaraan melaju. Dari arah berlawanan hanya ada satu truk gandeng. Entah bermuatan apa. Pandanganku fokus ke depan. Kaki kananku bersiap di atas kopling, sedangkan kaki kiri bersiap di pedal rem. Tangan kiriku sesekali memegang setir dan sesekali memegang tuas pengganti gigi.

Truk melintasi tanjakan Tarahan. Jalan itu menurun dan menikung, hingga membentuk sudut kemiringan 45 derajat. Awalnya truk menurun normal. Aku sesekali menginjak rem dan kopling. Tuas pemindah gigi aku pindah ke nomor dua atau satu.

Aku menahan napas. Keringat membasahi sebagian wajahku. Tak sempat rasanya sekadar berkedip. Di depan yang terlihat seperti jurang teramat dalam. Sementara itu aku harus mengendalikan rem dan kopling truk dengan tepat.

Setelah hampir lima meter melalui turunan tajam itu, tiba-tiba truk lebih kencang. Seketika jantungku berdegup sangat kencang dan peluh di sekujur tubuh makin deras. Tanganku gemetar. Kaki kananku menginjak lebih dalam pedal rem. Namun sepertinya tak ada perubahan. Justru truk makin kencang.

“Astagfirullah!” Aku berteriak.

“Ada apa, Kang?”

“Ada apa, Pak?”

Truk makin kencang, menuruni tanjakan Tarahan yang amat tajam dan menikung. Kufungsikan rem tangan. Semoga bisa menahan laju kendaraan. Tak berfungsi. Rem tangan juga ambrol. Truk melaju lebih cepat lagi. Seperti berlomba kecepatan dengan maut.

“Njul, buka pintumu!” Aku perintahkan Panjul membuka pintu.

Panjul membuka pintu. “Sudah, Pak!”

Truk makin kencang. “Astagfirullah, astagfirullah!” Saat situasi itu aku tahu kau sangat ketakutan. Kau tak berani membuka matamu. Kau benar-benar penakut. Seperti tokoh Mario dalam tulisanmu.

Makin kencang.

“Kamu loncat, Njul!!!”

“Loncat bagaimana, Pak?”

“Lihat ke samping.”

Saat Panjul menoleh ke samping, aku mendorongnya dengan kaki kiri. Melewati tubuhmu. Hingga Panjul terjatuh, berguling-guling, entah mendarat di mana.

“Tidak, Kang!” katamu. Tanganmu memegangku erat.

“Jika tidak, kau akan mati. Lepaskan tanganmu!”

Laju truk tak tertahan lagi. Lebih kencang, melebihi laju mobil Formula 1.

“Sekarang!” kataku.

Kau antara takut dan berani. Kau hanya di pinggir pintu. Jelas kau tak berani. Hingga kudorong dengan kaki kiriku dan kau terjatuh berguling-guling seperti Panjul.

“Ya, Allah!”

Laju truk itu sangat cepat seperti kilat. Tak hanya menuruni tanjakan, tetapi seperti ada kekuatan besar yang mendorong. Terakhir kuingat, aku sempat mengarahkan kemudi setelah turunan sangat tajam itu ke arah tanjakan yang dipergunakan bagi kendaraan yang mengalami rem blong.

Aku tak ingat semua. Tiba-tiba aku tersadar di sebuah rumah sakit. Kepala dan beberapa bagian tubuhku diperban. Tanganku diinfus dan seluruh tubuh rasanya nyeri. Beberapa polisi sudah di dalam ruangan. Sepertinya ingin menanyakan beberapa pertanyaan, tetapi teman yang satu melarang.

Syukur alhamdulillah, kau dan Panjul selamat. Meski banyak luka, setidaknya Allah masih memberikan kita kesempatan berbuat lebih baik lagi.

Di rumah sakit aku melihat surat kabar. Ada foto truk yang aku kendarai berada di atas tanjakan dengan jurang di bawahnya. Sungguh, Allah masih memberikan kesempatan kepada kita.

Teman-teman sesama sopir banyak berdatangan. Mereka heran. Merasa aneh. Karena memang jarang sekali ada yang selamat di tanjakan Tarahan.

Jepara, 16 November 2019

 

Nur Azis, tinggal di Jepara, Jawa Tengah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.