Sumedang dan Ruang Pembelajaran (1)

Spread the love

Oleh Bagas Yusuf Kausan

Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali”

Tan Malaka

I

Sebagai pembuka, kiranya perlu pula untuk memandang paragraf pertama ini sebagai harapan dan doa. Disamping itu, perkataan Tan diatas kiranya merupakan bentuk tamparan keras bagi aku secara pribadi, dan juga untuk seluruh pemuda-pelajar yang kerap mendaku diri sebagai kaum intelektual, akademisi, maupun cendekiawan—yang ditempa oleh iklim perkuliahan dan tingkatan pendidikan lainya. Perkataan semacam itu, telah terlontar dari mulut seorang revolusioner sejati, jauh sebelum hiruk-pikuk keindonesiaan kita—telah terdominasi oleh wajah-wajah pembusukan media, kebohongan elit politik, dan oportunis nya generasi penerus bangsa. Meski cenderung bersifat lampau dan usang, perkataan Tan tersebut masih sangat relevan untuk dihidangkan di depan wajah manusia masa kini. Yang secara konkrit, turut menyeret diri pribadi untuk menjadi bagian dari cemoohan Tan tersebut.  Dengan bekal nalar dan ambisi yang pas-pasan, aku mencoba keluar dari jeratan cemoohan Tan tersebut, dan beranjak dari status “intelektual menara gading” yang terus melekat dalam diri.

Untuk paragraf kedua dan paragraf-paragraf selanjutnya, aku akan mencoba bercerita tentang pengalaman menyaksikan kepedihan dan mendapat pembelajaran—yang bermula dari kunjungan singkat ke pedesaan di Genteng, Sumedang dan ke wilayah genangan Waduk Jatigede. Sebelum memulai cerita, aku perlu memperkenalkan dengan siapa saja aku melangsungkan perjalanan ini. Yang pertama, ialah adalah rekan kuliah di Semarang. Namanya Asep. Pertama mendengar namanya, tentu kita akan langsung terkoneksikan bahwa ia merupakan orang sunda asli dan tulen. Tapi hal itu tak berlaku untuk Asep yang satu ini. Meski terlahir di tatar pasundan, ia lebih banyak menghabiskan waktu nya di tanah Jawa. Yang kedua, dia merupakan teman semasa SMP dulu. Namanya Andini. Ia lahir di Kebumen—yang merupakan sebuah kota kecil, dimana di salah satu daerahnya terdapat perampasan ruang hidup manusia oleh manusia dan di salah satu daerah lainya, terdapat pemerkosaan alam raya oleh kerakusan manusia. Untungnya, Andini bukan bagian dari kedua hal menyeramkan itu. Meskipun, jikalau ia sedang marah—dapat pula ia menjadi menyeramkan. Hanya saja, konteks ‘menyeramkan’ nya Andini—cenderung menjadi pelengkap kesejukan raut wajahnya.

II

Cerita ini bermula ketika aku bertemu dengan teman-teman baru di Komune Rakapare. Dari penuturan salah satu anggota nya, aku mendapat sebuah informasi tentang keberadaan koperasi kopi di daerah Sumedang. Koperasi tersebut menamakan dirinya sebagai “Koperasi Berdikari”. Aku yang dalam satu tahun terakhir ini memang sedang berusaha belajar koperasi, langsung tersenyum mendengar kemandirian petani kopi di Sumedang. Para petani itu, mengelola lahan secara kolektif—sebagai salah satu akibat dari konflik mereka dengan Perhutani. Setelah puas mendengar cerita dari kawan baru tersebut, akhirnya aku memutuskan untuk membuat rencana kunjungan ke Desa Genteng, Kabupaten Sumedang. Sebagai tindak lanjut dari rencana tersebut, aku menghubungi Andini dan menceritakan beberapa poin tentang rencana ini. Rencana yang pada awalnya hanya akan di eksekusi berdua, mendapat satu amunisi tambahan (Asep) yang ternyata sama-sama berkeinginan untuk berkunjung ke sana. Asep yang baru saja tiba di Bandung, langsung ku ceritakan mengenai koperasi tersebut—tanpa pertimbangan panjang, Asep pun langsung menyetujuinya.

Perjalanan dimulai dengan bergerak menuju kawasan Bandung Timur. Cuaca yang cerah saat itu, memungkinkan kita dapat melihat dengan jelas Gunung Manglayang. Gunung tersebut merupakan titik akhir dari apa yang dinamakan sesar lembang. Sebuah sesar/patahan, yang menyimpan tenaga besar untuk menghancurkan Bandung melalui pergeserannya. Setelah cukup lama berkendara, akhirnya kami sampai di Sumedang dengan ditandai keberadaan kampus dan instansi ternama (ITB, Unpad, IPDN, Ikopin, dll). Selepas kawasan pendidikan tersebut, kami mulai menyusuri jalanan menanjak dan berkelok. Jalan ini merupakan salah satu ruas dari jalan yang di bangun oleh Gubernur Jenderah H.W. Deandels. Atau yang umum disebut sebagai Jalan Pos, seperti sebuah judul buku yang ditulis oleh sastrawan terbesar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Jalan ini merupakan saksi bisu dimana penjajahan Belanda, betul-betul menyengsarakan rakyat pribumi. Dengan ambisius, Belanda membangun Jalan Pos ini sebagai akses transportasi bagi kepentingan pertahanan Belanda dan juga untuk kelancaran laju komoditi yang berasal dari berbagai daerah, untuk di bawa ke Batavia. Dari sana, dapat terbaca maksud pembangunan jalan tersebut yang sebenarnya bukan didasari oleh kepentingan masyarakat kecil. Namun lebih didasari oleh kepentingan laju ekonomi dan kepentingan kalangan elit belaka. Hal ini memiliki kemiripan dengan proyek-proyek pembangunan jalan di beberapa kawasan di Indonesia. Sebagai contoh, pembangunan Jalan Lintas Selatan Jawa Barat yang membentang di pesisir selatan Jawa Barat, dibangun hanya untuk memudahkan pengangkutan hasil tambang dan aktifitas ekonomi ekstraktif lainya (Tambang Pasir Besi di Tasikmalaya Selatan dan Sukabumi Selatan).

Di daerah Tanjungsari, sesuai dengan petunjuk dari penjaga Pom Bensin, kami perlu berbelok ke kiri dan mengikuti jalur pedesaan yang menanjak. Sepanjang perjalanan menuju Desa Genteng, kami disuguhi pemandangan yang amat indah dan menyejukan. Sejauh mata memandang, kami dapat melihat terasering persawahan yang seolah berpola dan membentuk karya Tuhan yang menakjubkan. Di kejauhan, terlihat saung-saung kecil tempat para petani berteduh, beristirahat sebari menikmati hidangan bekal yang diberikan sang istri ke dalam rantang. Tak lupa, para petani pun mengepulkan asap rokoknya sebagai simbol kebebasan dan kedaulatan atas tanah nya sendiri. Puas menikmati hamparan sawah, kami kembali di buat takjub dengan pemandangan rimbun nya pepohonan bambu, pinus, dan sesekali perlu menyeberangi jembatan yang dialiri air yang jernih di sela-sela bebatuan. Lama memandang keindahan dan kedamaian potret wajah kawasan pedesaan, seketika musnah mana kala isi pikiran—teringat dengan ekspansi kapital yang kian massif menuju kawasan pedesaan. Di beberapa kawasan lain, keserakahan manusia tersebut telah memperkosa alam pedesaan secara membabi-buta—dengan  mendirikan pabrik, lahan pemukiman, bendungan, ataupun bentukan lainya yang merampas ruang hidup masyarakat pedesaan. Perampasan ruang hidup semacam itu, telah menyeret petani untuk kehilangan lahan garapan nya, direnggut kondisi sosio-kultural nya, dan dijebloskan dalam jurang pengangguran dan perbudakan—hanya karena kepentingan segelintir pemilik modal, yang datang dari perkotaan.

Setelah menyusuri jalanan pedesaan dengan iringan keramahan masyarakatnya, kami pun memutuskan berhenti di sebuah warung—sebagai akibat dari keraguan mengenai lokasi tujuan. Di warung tersebut, kami berbincang panjang lebar dengan ibu pemilik warung dan dilanjutkan dengan obrolan dengan petani penggarap sawah di daerah tersebut. Pembelajaran yang cukup berharga, kami dapatkan disini. Dengan tekad untuk tidak menjadi kaum terpelajar yang merasa tinggi di hadapan rakyat—seperti yang di katakan oleh Tan Malaka, maka kami mulai bercengkrama semampu kami dengan warga disana. Dari obrolan ngalor-ngidul tersebut, setidaknya kami membuktikan bahwa masyarakat kecil pedesaan, tidak dapat direndahkan hanya karena jenjang pendidikan nya yang rendah. Buktinya, kami banyak belajar betul dari obrolan-obrolan ringan dengan petani penggarap sawah. Kami banyak mendapat pengetahuan baru, yang tentu tak akan ada di ruang-ruang perkuliahaan yang membosankan. Dari sini pula, kami belajar bahwa ilmu yang di dapat di bangku perkuliahan—hanya akan menjadi ilmu yang  busuk mana kala tak coba kami benturkan dengan realitas semacam ini. Percis pada kondisi ini lah, apa yang pernah di katakan Paulo Freire tentang pembenturan pengetahuan dan realita menjadi benar adanya. Dengan obrolan-obrolan ringan dan canda-tawa bersama masyarakat kecil, terbentuk lah ikatan emosional yang dalam antara aku secara pribadi, kepada masyarakat yang aku jumpai.

Meski pada akhirnya kami gagal mewujudkan rencana mengunjungi koperasi kopi, setidaknya kegagalan itu terganti dengan interaksi menyenangkan bersama masyarakat. Secara pribadi, aku memetik banyak sekali pembelajaran dari sini. Yang pertama, aku belajar untuk membuka diri dan terbiasa untuk bertemu, berinteraksi, hingga bertukar informasi bersama masyarakat. Secara subjektif, aku memandang bahwa kaum muda-terpelajar saat ini, cenderung lebih senang bersikap jumawa, tinggi, dan elitis terhadap masyarakat. Alih-alih mereka membantu masyarakat dalam penyelesaian permasalahan sosial-ekonomi, ataupun penyelesaian konflik yang memarjinalkan masyarakat—mereka, kaum muda-terpelajar saat ini justru memunggungi masyarakat nya sendiri. Hal ini menjadi penyakit, sekaligus sumber masalah dari kondisi Indonesia kita saat ini. Bahkan, hal ini pula yang sejak jauh-jauh hari, telah di ramalkan oleh Tan Malaka melalui tamparan perkataannya di atas.

Yang kedua, aku mendapat pembelajaran pula bahwa masyarakat—tidak dapat diposisikan lebih rendah dari mereka yang mendaku kaum terdidik. Dalam ranah pengorganisiran masyarakat, maka masyarakat itu sendiri tidak dapat di letakan sebagai objek dari mereka yang terdidik. Maka seharusnya, masyarakat di posisikan justru sebagai mitra belajar—yang memungkinkan terjadinya persilangan, pertukaran, dan pendistribusian pengetahuan secara sejajar dan berjalan dua arah. Hal ini kerap tidak berlaku dalam pengorganisiran yang diinisiasi oleh LSM. Cara kerja mereka yang minim penguatan basis massa, kerap memposisikan diri mereka (LSM) sebagai pihak yang paling tahu, dan masyarakat secara tidak sadar justru di ekspolitasi kebebasan dan kemandirian nya. Padahal, masyarakat jauh lebih mengerti tentang persoalan nya—dan tidak sah untuk di gurui oleh pihak luar yang mendaku pengorganisir, yang kerap di suplai beragam kepentingan pribadi nya. Yang terakhir, berkaca pada obrolan dengan petani penggarap sawah, yang sedikit bercerita mengenai konflik agraria yang pernah berlangsung di daerah ini—aku mendapat pembelajaran pula mengenai pola pendekatan, dan keberagaman model konflik agraria yang terjadi. Hal ini penting mengingat aku dan Asep, sejak jauh-jauh hari sedang berusaha untuk terus belajar membaca, memetakan, merancang, hingga mencari penyelesaian dari konflik-konflik agraria yang terjadi.

Sumber Foto: @inimahsumedang/@ridhoolife

Bersambung di https://kalamkopi.wordpress.com/2016/08/04/406/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.