Sumpah Pemuda Hanya Sekadar Selebrasi?

Spread the love

Oleh Saiful Anwar

Kemarin saya sedang tiduran di kos ketika penanggungjawab rubrik kalamkami, Nanang menghubungi saya untuk menulis di rubrik yang ia ampu. Sesungguhnya saat itu saya sedang lelah. Sejak pagi hingga sore saya mengikuti rangkaian acara Saparan di Desa Sunogawe, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Namun karena tanggungjawab sebagai ‘penulis’ media kalamkami harus saya penuhi, saya pun berusaha menulis  semampu-mampunya, sebisa-bisanya.

Hari ini, 28 Oktober 2019 orang-orang sibuk memposting ucapan “Selamat Hari Sumpah Pemuda”. Semua pihak, baik pemerintah maupun swasta ramai-ramai mengucapkan selamat.

Tepat hari ini, 91 tahun yang lalu, sekelompok pemuda mengadakan Kongres Pemuda II di Batavia (Jakarta). Kongres itu dihadiri perwakilan organisasi kepemudaan dari berbagai daerah di Hindia Belanda.Dalam kongres itu,  pertama kalinya lagu Indonesia Raya ciptakaan WR Supratman diperdengarkan, dinyanyikan. Kongres Pemuda II adalah momen penting dalam sejarah Indonesia. Pada peristiwa bersejarah itu, diucapkan sebuah ikrar yakni Sumpah Pemuda.Sumpah itu menandai lahirnya bangsa baru, bangsa Indonesia.

Sumpah Pemuda adalah tonggak kelahiran bangsa baru bernama Indonesia. Ia adalah ikrar yang mengikat dan menyatukan seluruh rakyat di Hindia Belanda yang ditindas oleh sistem kolonial Belanda.

Sekadar sebagai pengingat beginilah bunyi Sumpah Pemuda itu:
Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Sumpah pemuda bukanlah teks kosong tanpa makna. Ia adalah gambaran derita dan tujuan yang hendak dicapai oleh sebuah bangsa yang ratusan tahun ditindas. Kata bertumpah darah menunjukkan bahwa sudah ratusan tahun bangsa Indonesia bertumpah darah dalam mempertahankan tanahnya dari penjajahan bangsa asing.

Kata berbangsa satu menunjukkan tekad untuk menghilangkan batas-batas perbedaan suku dan etnis yang selama ratusan tahun dimanfaatkan penjajah untuk saling mengadu domba. Menjunjung bahasa persatuan memiliki makna bangsa yang baru lahir itu memiliki bahasa pemersatu, bahasa yang menjadi bahasa perjuangan mereka. Sumpah pemuda bukan sekadar teks, ia adalah cita-cita yang hendak dicapai.

Sebagai peristiwa penting dalam sejarah, Sumpah Pemuda menyimpan cerita unik. Satu hal yang kadang ditutup-tutupi oleh sejarah adalah peran penting orang-orang Tionghoa dalam sejarah Indonesia. Banyak yang tidak tahu bahwa lokasi Kongres Pemuda II di Jalan Kramat Raya 106 Jakarta yang sekarang menjadi Museum Sumpah Pemuda adalah rumah milik seorang Tionghoa bernama Sie Kong Liong. Ia secara sukarela mejadikan kediamannya sebagai tempat kongres dan tidak pernah mendapat penghargaan atas jasanya itu. Selain Sie kong Liong juga terdapat empat pemuda Tinghoa lain yakni Kwee Thiam Hong, Oey Kay Siang, John Liauw Tjoan Hok, dan Tjio Djin Kwie.

Adanya peranan pemuda Tionghoa dalam peristiwa Sumpah Pemuda menepis stigma bahwa mereka tidak pernah pernah berjuang untuk Indonesia. Faktanya banyak orang-orang Tionghoa yang berperan penting dalam sejarah Indonesia.

Hari ini kita menghadapi tantangan yang semakin sulit. Negara yang dicita-citakan 91 tahun lalu nyatanya tidak bisa memenuhi tugas dan kewajibannya dengan baik. Dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945 disebutkan bahwa tugas negara adalah: melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut melaksanakan perdamaian dunai yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosiaI. Jauh panggang dari api, ternyata negara justru menumpahkan segenap bangsa Indonesia dalam menangani gelombang demonstrasi 30 September lalu. Negara juga semakin membuat bodoh bangsa dengan berbagai aturan misal seperti TAP MPRS XXV/1966 (dahulu dan masih belum dicabut hingga hari ini) dan UU Sisnas IPTEK yang sudah disetujui baru baru ini.

Apakah masalah negara itu saja? Tidak! Masalah diatas belum termasuk masalahpendidikan, konflik tanah, hukum dan  persoalan lain yang semakin hari semakin ribet dan bikin mumet. Pemuda zaman dahulu menyusun teks sumpah pemuda dengan penuh perasaan dan jiwa kemanusiaan. Mereka mencita-citakan sebuah negara yang merdeka dan terbebas dari alam kolonial. Jika hari ini negara Indonesia masih bersifat kolonial atau bahkan lebih kolonial dibanding jaman kolonial, maka Sumpah Pemuda hanya tinggal perayaan belaka. Sumpah Pemuda tidak pernah diaktualisasi, ia hanya sekadar selebrasi.

Jika sudah begini masihkah Sumpah Pemuda kita rayakan dengan sukacita? Atau kita perlu membuat Sumpah lagi?

Saiful Anwar, Alumnus Ilmu Sejarah Unnes

 

Gambar: thegorbalsla.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.