Tahi Lalat di Belakang Telinga

Spread the love

Cerpen Eka Handriana

Aku kenal tahi lalat di depanku ini. Sebesar biji kapuk, tapi tidak menyembul. Berwarna cokelat, dikelilingi semburat merah. Aku kenal.

Tahi lalat ini bertahun-tahun lalu selalu menggodaku pada pengujung tidur. Menarik-narik tubuhku dari kasur, mendorong-dorong ke kamar mandi selepas subuh. Tahi lalat yang membuat tubuhku terasa hangat-hangat saja, meski diguyuri air bercampur udara dingin yang turun dari gunung di belakang desa.

Tahi lalat yang membuatku merasa wajib mematut diri di depan cermin dan menyisir rapi rambutku. Ia juga yang membuatku gelisah jika lupa menggosokkan deodoran batangan di dua ketiakku sebelum meninggalkan pintu rumah.

Tahi lalat yang nakal. Di depanku ini tak lain tahi lalat nakal itu. Ada di belakang telinga sang empunya.

Namun sedang apa dia di sini?

Ia bergerak-gerak terus, mengikuti gerak kepala tempatnya menempel. Ke kanan dan ke kiri. Ia gusar.

Saat kepala itu menoleh ke kanan agak ke belakang, separuh wajah yang cemas menyentakku. Sedang apa dia? Mencari orang? Siapa yang dia cari?

Aku tak pernah punya ukuran pasti untuk mengetahui tingkat kecemasan seseorang. Namun aku hafal betul wajah si Tahi Lalat. Ia kelewat gelisah untuk ukuran sedang-mencari-orang.

***

Antrean pemeriksaan ini panjang sekali. Masih ada berpuluh-puluh orang berbaris depanku. Ah, ini memang musim liburan. Banyak orang berdatangan ke negeri kecil ini. Kudengar di sini ada taman raksasa di atas timbunan laut yang belum lama selesai dibangun. Kabarnya, taman itu mirip surga.

Melihat gedung luas dipadati ratusan orang begini, omong kosong itu hampir membuatku percaya. Mungkin si Tahi Lalat juga baru saja mengunjungi taman raksasa itu. Ia gusar karena terpisah dari rombongan. Kejadian seperti itu sering kali terjadi.

Kepalanya masih terus bergerak-gerak. Kuncir rambut yang tinggi, masih seperti dulu, bergoyang-goyang. Sesekali badannya terangkat oleh kaki yang ia jinjitkan. Kepala ia julurkan ke atas demi memeriksa keadaan di depan.

Aku ingin menyapa perempuan itu. Namun aku khawatir ia tak akan mengenaliku. Dulu, aku betul-betul memuja dia. Namun belum pernah sekali pun aku bertegur sapa dengan dia.

Kuperhatikan ia sekali lagi. Kali ini aku memindai dia dari atas ke bawah. Ia memakai jaket merah jambu kumal. Kerah dan mansetnya melar. Celana jinsnya kebesaran. Ia memakai sandal jepit hitam. Ia tak membawa tas, hanya satu dompet dalam satu genggaman dengan paspor.

Aku ragu. Jangan-jangan dia tidak sedang berlibur. Jangan-jangan ia sedang sembunyi. Aku khawatir dia tidak dalam keadaan baik-baik saja.

Aku merasa harus menenangkan dia sebelum mencapai garis kuning di depan konter petugas imigrasi yang berwajah seperti tak pernah punya senyuman itu. Ia kelewat gusar. Bisa-bisa ia kena masalah karena gelisah keterlaluan seperti itu.

“Mbak,” ujarku sambil menyentuh pundaknya.

Ia amat kaget. Wajahnya kini menghadap ke wajahku. Merah padam seperti orang kepanasan. Padahal, ruangan besar dan beratap tinggi ini cukup sejuk. Terentak pula jantungku. Namun segera dapat kukuasai.

“Dari Indonesia?”

Dia mengangguk dan segera kembali menghadap ke depan.

“Saya juga dari Indonesia. Mbak kelihatan bingung sekali. Pisah dari rombongan ya?”

Ia tak menjawab. Dia tetap menghadap ke depan. Namun kali ini ia tertunduk, sambil sedikit melangkah maju karena baris antrean terus bergerak. Aku ingin mengulang perkataan, tapi kutahan. Aku khawatir dia bertambah gelisah. Duh, aku iba melihat wajahnya tadi. Punya masalah apa dia?

Aku bersiaga di belakangnya. Terasa ganjil. Ini kali pertama aku menyapa dan menyentuh pundaknya pula. Dahulu itu tak pernah kulakukan lantaran ciut nyaliku. Namun saat ini sekonyong-konyong aku merasa harus menjaga dia.

Aku menoleh kanan-kiri, melempar pandangan ke seluruh penjuru ruangan besar ini. Tak kutemukan apa pun yang pantas ditakuti. Antrean kembali bergerak maju. Tiba-tiba si Tahi Lalat memundurkan badan hingga dekat sekali denganku.

“Mas, tolong saya,” katanya dengan kepala agak meneleng ke kanan.

“Ya, Mbak. Kenapa?”

“Saya naik pesawat ini. Betul antrenya di sini?”

Aku memeriksa tiket pesawatnya. Ya, Tuhan, pesawatnya akan berangkat 50 menit lagi. Aku memperhitungkan antrean. Sepertinya masih bisa dicapai, meski waktunya mepet.

“Nanti setelah pemeriksaan imigrasi ini, Mbak harus cepat ke gate ini ya,” ujarku sambil menunjuk kode tempat pemberangkatan di tiketnya. Aku mencerna situasi yang sedang ia hadapi.

Si Tahi Lalatku jelas tidak terpisah dari rombongan liburan. Ia seorang diri. Bahkan ia tidak sedang berlibur. Jangan-jangan…, ah tidak mungkin. Kuusir pikiran burukku.

“Mas, nanti petugas itu tanya apa saja? Sama dengan waktu kita datang ke sini ndak?”

Duh, Sukmawati. Aku ingin sekali memelukmu sekarang ini. Siapa yang membawamu ke sini? Mengapa kamu ada di sini? Apa yang terjadi dengan pabrik rokok tempat kerjamu?

Antrean bergerak maju. Aku menyusun keberanian dengan hati-hati.

“Mbak sendirian?”

“Iya, Mas.” Ia sedkit menoleh ke kanan, sehingga suaranya dapat kudengar. Begitu setiap kali ia bicara padaku.

“Liburan?”

“Tidak. Saya bertemu saudara.”

Sudah kuduga dia tak sedang liburan. Namun jawabannya tak juga membuatku percaya.

Mataku kembali tertuju ke tahi lalat di belakang telinga kirinya. Sejak dulu aku menyukai tahi lalat yang digapai anak-anak rambut dari pangkal lehernya itu. Hatiku menjadi hangat setiap kali melihatnya.

“Di sini?”

“Iya. Bertemu di hotel.”

“Sudah berapa hari di sini?”

“Berangkat kemarin. Hari ini pulang.”

“Mbak Sukma?” Akhirnya mulutku berani mengucap namanya.

Kudapatkan nama itu di dalam bus yang berangkat paling pagi dari desaku. Seorang anak sekolah, salah satu penumpang tetap bus yang kukeneki bertahun-tahun lalu, memberitahuku nama si Tahi Lalat.

Dia selalu naik busku itu pukul 05.10 dari terminal pertama. Dia salah satu penumpang tetap busku, bersama buruh-buruh pabrik shift pagi yang lain. Kursi dekat jendela di lajur kiri paling belakang, itulah tempat duduk yang biasa dia pilih. Sejak aku hafal kebiasaannya, kupastikan dia mendapatkan kursi itu.

Tempatku di ambang pintu belakang. Tepat di belakang kursi kesukaannya. Setiap hari kami hanya berbatas sandaran kursi dan tumpukan lipatan pintu bus yang berkaca. Kubersihkan kaca di pintu itu setiap hari agar dapat mengamati dia dari kaca yang menembus sela-sela sandaran kursi. Dari sela kursi sebelah kiri itulah, aku mengagumi tahi lalatnya. Hanya itu yang mampu kulakukan. Meski sudah kutahu namanya, aku tak sanggup menyapa dengan menyebut nama itu di hadapan dia.

Suatu hari, kupupuk keberanianku. Aku membawa bolpen, kutulis pesan untuk dia di selubung sandaran kursi bagian belakang. Jika ia duduk di kursinya, ia akan membacanya. “Hai, Sukma. Salam dari Tanto.” Kutambahkan tanda hati di bawahnya.

Sehari-dua hari sejak kutulis pesan itu, aku tak yakin dia membacanya. Sampai suatu saat, aku senang bukan main. Dia membalas pesanku. “Hai juga. Salam, Sukma.”

Di selubung sandaran kursi itu selanjutnya kutulis kekagumanku padanya. “Kamu manis sekali hari ini.”; “Selamat bekerja.”; “Rambutmu indah.”; “Jangan lupa makan siang.”; “Hati-hati ya….”. Semua pesan itu kuberi tanda namaku. Semua pesan dia balas. Namun aku tetap tak berani menyapa langsung.

Dia turun di tempat penjemputan karyawan pabrik rokok di batas kota. Dia selalu turun dari pintu belakang. Menjelang tempat pemberhentian, dia akan berdiri di ambang pintu. Kujaga pintu baik-baik, jangan sampai ia jatuh. Setiap kali bus berhenti, kupastikan dia turun dengan aman.

Jika dia sudah turun, aku suka menduduki kursinya. Aku bisa merasakan wangi tubuhnya yang tertinggal di sandaran kursi itu. Kursi itu nyaman sekali.

“Kok tahu nama saya, Mas?”

Antrean pemeriksaan imigrasi kembali bergerak.

“Saya lihat di tiket tadi,” aku berkilah.

Dari samping wajahnya kulihat sudut bibirnya tersenyum. Itu mengurai ketegangan di wajahnya sekaligus mencairkan percakapan kami.

“Saya Tanto, Mbak.” Aku tak melihat reaksi wajahnya saat kusebutkan namaku. Ia tak mengingat namaku.

“Mas kerja di sini?”

“Tidak. Saya kerja di kapal. Ini mau pulang ke Senduduk. Kebetulan transit di sini.” Aku memancing dia. Segera ia membalikkan badan ke arahku.

“Senduduk?!” Dia memastikan desa yang kusebut adalah desa yang ia maksud. Aku mengiyakan. Betapa lega aku melihat senyumnya merekah.

“Jauh di sini, ketemu orang sekampung,” katanya menyusuli senyum lebar.

Dia bicara banyak. Menceritakan tentang PHK besar-besaran di pabrik rokok tempatnya bekerja. Juga tentang bus langganan yang tak lagi ada; juragannya bangkrut. Soal bus itu, tentu saja aku tahu. Justru itulah yang kemudian melemparkan aku menjadi kuli angkut di kapal barang milik negara orang. Beberapa pemuda dari desaku yang tak kebagian sawah warisan melakukan hal yang sama, karena gaji kami lumayan.

Antrean terus maju. Kini tinggal belasan orang lagi. Dia masih bercerita. Kunanti-nanti, dia tak kunjung menyebut selubung sandaran kursi tempat kami berbalas pesan. Sepertinya dia tak ingat. Namun mulutku tertahan untuk mengatakan.

“Mas, kamu tadi belum menjawab pertanyaanku.”

“Yang mana?”

“Nanti petugas itu tanya apa? Apa pertanyaannya sama dengan waktu kita datang?”

“Sama saja. Santai, tidak usah takut.”

“Bagaimana kalau kamu lebih dulu. Aku setelah kamu saja.”

Antrean terus maju. Kuturuti dia agar tenang. Dia terlalu gugup, sebab kata dia, ini kali pertama ke luar negeri. Kini aku di depannya.

“Mbak, boleh lihat sebentar tiketmu sekaligus paspor?”

Dia berikan padaku. Aku cepat-cepat mengecek semua sembari maju bersama antrean. Tidak ada masalah dengan dokumennya. Tiket pesawat, potongan kartu izin tinggal sementara ada di dalam paspor yang masih berlaku. Aman.

“Tenang, Mbak Sukma. Jangan panik. Ini lengkap semua,” kataku.

Dia sudah tak segelisah tadi.

Aku sudah berada tepat di belakang garis kuning. Menunggu orang di depanku selesai diperiksa. Petugas memberiku kode untuk maju. Urusan pemeriksaanku selesai. Jadwal keberangkatan pesawat yang akan kutumpangi masih empat jam lagi. Aku berencana mengantar Sukma ke gate keberangkatan, untuk memastikan dia tak tertinggal pesawat. Kutunggu dia di belakang konter pemeriksaan imigrasi.

Kini giliran dia diperiksa. Dia tampak tenang. Namun pemeriksaan berlangsung lebih lama dariku. Aku lihat, petugas meminta sidik jari Sukma. Pemeriksaan ekstra. Dia masih tampak tenang, tapi aku tidak.

Aku tegang saat melihat petugas itu mengangkat gagang telepon. Sementara Sukma masih tertahan di depannya. “Tenanglah, Sukma. Aku bisa lolos bahkan dengan dokumen yang tidak semua resmi. Kamu akan lolos,” doaku dalam hati.

Darahku bergejolak ketika ada petugas lain mendatangi Sukma, lalu menggandeng dia setengah berlari menuju arah berbeda. Kuikuti Sukma yang diapit dua petugas itu. Mataku tak bergeser dari tahi lalat di belakang telinganya.

Dari arah lain lagi, seorang petugas membawa koper, menuju arah Sukma yang diapit dua petugas. Mereka berhenti. Petugas menunjuk-nunjuk koper sambil bicara ke arah Sukma. Sukma mengangguk dan mereka kembali berjalan menuju sebuah pintu.

Aku masih mengikuti. Masih bisa melihat tahi lalat itu lamat-lamat dari belakang. Tahi lalat itu bergerak ke kanan mengikuti kepala yang ditempelinya. Dia menoleh ke arahku, lalu lenyap di balik pintu.

Eka Handriana, ibu dari seorang anak, penulis lepas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.