Tak Ada Ayah Sekeren Ayahku

Spread the love

Cerita Fahmi Abdillah

Bumi, remaja tanggung itu turun dari motor selepas memastikan standar motor menapak kuat di lantai garasi. Ia masih teringat kejadian minggu lalu ketika harus mengganti spion yang pecah akibat ketergesaannya memarkir, hingga motornya jatuh setelah langkah ketiganya masuk rumah.

“Keteledoranmu itu sama persis ayahmu, kenapa enggak hati-hati sih? Untung masih sore, jadi masih gampang cari bengkel. Lekas makan, dan ganti baju sana! Ini uang buat beli spion baru.” Begitulah Bunda, selalu menyediakan kalimat-kalimat panjang untuk kesalahan-kesalahan pendek yang Bumi lakukan.

“Bunda belum pulang, Yah?”

“Belum, hari ini Bunda pulang sore, ada rapat untuk Diesnatalis Sekolah,” jawab Ayah, dengan mata masih belum lepas dari buku kumpulan cerpen Kompas terbaru.

“Jadi ketua panitia lagi?”

“Bumi, letakkan sepatu, dan tasmu di tempatnya. Kamu enggak bosan kena semprot terus?” Ayah tak langsung menanggapi pertanyaan Bumi. Memilih untuk memastikan anaknya menaruh semua barang ke tempat yang sudah tersedia.

“Iya, iya…” mulut yang memonyong melengkapi langkah gontai Bumi menuju kamar. “Eh tunggu, Kok Ayah enggak bilang kalau itu udah datang?”

“Ayah belum bilang? Bukannya udah?”

“Belum, Yah. Ayah pasti lupa. Aku pinjam dong, Yah. Ayah kan udah janji kalau aku yang pertama baca buku itu kalau udah datang.” Bumi menjatuhkan diri di sofa dekat Ayah. “Ayah sudah selesai?”

“Sudah, buku ini diantar sama kurir pukul 10.00 tadi. Ini udah masuk putaran kedua Ayah baca. Nih,” tukas Ayah menyodorkan buku itu ke Bumi.

Enggak ah, Yah. Aku mau diceritain Ayah aja. Gimana, Yah? Cerpen siapa yang jadi judul utama tahun ini? gimana analisis dari redaksinya? Ada berapa karya penulis baru, Yah?”

Ayah bercerita dengan sangat serius, terseling beberapa opini tentang karya mana yang harusnya menang, dan karya mana yang harusnya tak layak muncul di buku kumpulan cerpen yang dianggap paling bergengsi bagi sebagian pembaca sastra di negeri ini.

“Iya kan, Nak? harusnya cerpen Ayah yang berjudul “Lelaki Penyayang” itu lebih pantes bersanding dengan karya-karya penulis hits itu, iya kan? Kamu setuju sama Ayah kan, Nak?

“Iya, Yah. Kan Cerpen ayah yang itu bawa tema yang sama dengan karyanya si Ahmad Tohari ya? Apalagi demi cerpen itu Ayah sampai seminggu menginap di rumah Eyang di kampung. Redaksinya enggak paham karya bagus tuh, Yah,” Bumi semakin semangat menyulut bara api di dada ayahnya.

“Iya, perjuangan Ayah demi cerpen itu luar biasa. Harus ikut Kakek ke sawah dan ikut nenek belanja ke pasar.” Ayah Bumi tak sadar kalau ceritanya ditertawakan keras sekali. Karena tawa Bumi ada dalam hati.

“Iya, apalagi perjuanganku yang ditinggal Ayah di kampung selama seminggu. Aku harus menggantikan tugas Ayah bersih-bersih rumah. Sampai tiap malam aku tidur cepat, Yah. Capek banget. Hufh.” Bumi mengembuskan napas mengingat keringatnya kala itu.

“Maaf ya, Nak. Cerpen Ayah masih belum bisa menebus letihmu,” tangan besar itu mengelus pundak Bumi.

Enggak pa pa kok, Yah. Asal Ayah tidak putus semangat buat nulis ya.”

“Iya dong. Hanya maut yang akan menghentikan tulisan Ayah. Ayah keren kan?”

“Tak ada Ayah sekeren ayahku.” Kalimat yang sering mengakhiri obrolan Ayah dan Anak itu. “Tapi lebih keren kalau mau bikin penelitian lagi sebelum bikin cerpen, Ayah harus ajak aku. Oke?”

“Ya itu tergantung Bunda kamu ngebolehin enggak. Kan kamu harus sekolah, Nak.”

Yaa….h. Kalau Bunda pasti…

“Narendra Bumi Abdillah.” Suara yang melantunkan nama lengkap anak itu memotong kalimat Bumi. Suara yang begitu dikenal telinga Bumi.

Seketika Bumi dan Ayah menghentikan diskusi mereka, seketika pula leher mereka kaku, tak mampu menoleh ke arah sumber suara. Pandang mata Ayah dan anak beradu, bersama turut mengeja adegan berikutnya.

“Bumi, ini sudah pukul berapa? Kenapa masih pakai seragam sekolah? Ini sepatu kenapa berserakan di lantai? Aduh, ini Ayah kenapa enggak ngingetin anaknya sih, Yah?” Dan rentetan omelan keluar dari mulut wanita setengah baya, terlihat manis, saat itu Ia mengenakan gamis warna cokelat menenteng tas dan kunci mobil di jemari tangan kiri. Tangan kanannya bermalangkerik, untung saja matanya yang melotot itu tersamar oleh kaca mata.

Ayah membalas segala rentetan kalimat yang keluar dari bibir Bunda dengan menggaruk kepala yang tak berbulu, sambil tersenyum, meringis tepatnya. Beranjak mendekati si sumber celoteh, memutari tubuh ramping nan semampai itu, memegang kedua pundak yang tegang itu, dan memijit sambil berkata, “Maaf ya, Bunda. Bumi lupa itu semua karena Ayah ajak dia ngobrol soal buku. Bunda pasti capai, iya kan? Duduk dulu yuk, Ayah pijitin sambil siapin teh hangat. Oke?”

“Ayah bohong. Sebenarnya Ayah sudah ingatkan aku semua itu, tapi aku yang ajak Ayah ngobrol tentang buku sampai Ayah lupa. Kenapa?” Bumi memandang sepasang suami istri itu dengan tatapan yang lebih tajam.

“Kenapa, apa maksud kamu, Bumi?” Tanya Bunda cepat.

“Kenapa kalau aku sengaja nakal? Kenapa kalau aku enggak patuh sama, Bunda? Kenapa kalau aku memang ingin Bunda marah? Kenapa kalau aku ingin ngelawan, Bunda? Aku bukan Ayah yang selalu nurut sama, Bunda!”

“Bumi! Masuk kamarmu sekarang!” Bentakan itu serasa mengiris telinga Bumi. Bumi sudah siap bila Bunda akan lebih marah karena dia melawan, Bumi sudah siap berteriak saat Ia menerima teriakan, tapi Bumi tak siap kala Ia tahu teriakan itu berasal bukan dari Bunda. Tapi dari Ayah. Mata Bumi mengerjap, berbagai rasa terkumpul menyesakkan dadanya, tak tahu harus berbuat apa saat mendengar hardikan Ayah.

“Harusnya Ayah bisa bentak Bunda seperti Ayah bentak aku,” suara itu sedikit bergetar, tidak setegar suara yang keluar dari mulut sebelumnya.

“Masuk kamar!” Sekali lagi bentakan itu keluar dari mulut Ayah, membuat  langkah Bumi bersicepat, tak mau terdahului oleh tetesan air mata.

“Bunda tenang ya. Ayah bisa tangani semuanya. Istirahatlah, Ayah siapkan makan malam.” Adegan sore itu berlanjut tanpa suara manusia.

Dalam kamar, Bumi menyeka air mata. Duduk di kursi depan meja belajar, badan tertumpu pada dua tangan yang menempel di meja. Jemarinya menutup wajah, berusaha menutup segala kesedihan yang ia rasa sore ini. “Kenapa Ayah selalu nurut sama Bunda? Kenapa Ayah selalu diam saja, dan tak pernah membelaku bila Bunda marah? Tapi kenapa Ayah begitu marah dan malah membentakku saat ini?” Dan masih banyak lagi pertanyaan yang meleleh bersama air mata anak SMP kelas 8 ini.

Tak ada Ayah sekeren Ayahku. Bumi mulai meragukan kalimat itu. Kalimat yang senantiasa mengiringi tumbuh kembangnya. Sedari otaknya mampu mengartikan kalimat, Ia memilih sendiri kalimat itu untuk Ia jadikan jimat. Ia ceritakan dan jelaskan maknanya di depan banyak orang, teman-teman sekolah, teman-teman lingkungan, bahkan kalimat itu Ia ucapkan kali pertama saat Ia berkesempatan memberikan sambutan sebagai juara lomba menulis cerita di sekolahnya.

Selama ini, Ayah selalu menjadi sumber inspirasinya. Yang selalu tersedia di rumah, yang selalu menemani bermain, dan kala takut menghinggapi tidur malam di kamar. Aktifitas, kebiasaan, dan kegemaran Ayah adalah hal-hal yang begitu mengagumkan. Cara Ayah bercukur, menyesap kopi, menghirup rokok, dan mengetik di depan computer jadul yang tak pernah boleh diganti dengan alasan masih bisa dipakai, semua indah bagi Bumi. Kecuali satu, sikap Ayah yang terlalu lunak pada Bunda. Itu sampai batas ekstrem yang tak termaafkan bagi Bumi.

“Bunda tidak marah. Bunda ingin mengajarimu banyak tentang hidup. Bunda sayang kamu. Percayalah, Nak.” Kalimat seperti itu selalu keluar dari mulut Ayah, semacam rapal yang selalu menenangkan hati Bumi yang bergemuruh kala Bunda memarahi.

Tapi, sore ini, Ayah sama sekali tak keren. Batin Bumi. Ayah tak pernah keren bila berhadapan dengan Bunda. Dan mula sore ini Ayah tak lagi keren di depanku. Bumi masih merutuk dalam hati kala pintu kamarnya terbuka. Ia tahu siapa yang ada di pintu. Tidak mungkin Bunda, karena Bunda tidak gundul. Lanjutnya dalam hati.

“Ayah tak akan berkata banyak, Ayah hanya akan tunjukkan ini, kamu sudah Ayah anggap mampu untuk mencerna gambar-gambar ini. Ayah temani duduk di kamarmu. Tak akan keluar sebelum kamu mau keluar kamar.”

“Apa ini?” Tanya Bumi. Sambil memegang telepon genggam yang tadi Ayah letakkan di dekat sikunya.

“Geser saja gambarnya,” jawab Ayah sambil meletekkan bokong ke kasur, sebelah kanan Bumi.

Terlihat banyak foto pria-pria yang berdandan kurang sopan, semrawut tepatnya. Foto-foto anak jalanan, semakin digeser semakin perlihatkan hal-hal yang menurut Bumi mengerikan. Banyak rekam jejak pemuda  tak keruan di gambar itu. Bumi memandang Ayah dengan tatap penuh tanya.

“Kau mau tanya apa, Nak?”

“Sedari muda Ayah udah gak punya rambut?” Bumi menggigit bibir bawah, menahan getar.

“Dasar anak nakal.” Ayah mendekat, meninju kening Bumi pelan, dan lembut, selembut pelukannya setelah itu.

“Kau tahu, Nak? Kenapa Ayah begitu menyayangi Bundamu? Bundamu adalah penyelamat hidup Ayah. Pengangkat harkat martabat Ayah. Dan terlebih penting, Ayah melihat kebesaran Tuhan dalam wujud Bunda. Bagaimana Ayah bisa berani membantah, bahkan melawan Tuhan, Nak? Ayah tak akan berani, Nak.”

“Bunda tidak marah. Bunda ingin mengajarimu banyak tentang hidup. Bunda sayang kamu. Percayalah, Nak.” Peluk Bumi mengerat, “Ayah akan bilang itu kan?” Senyum Bumi mengakhiri kalimatnya.

“Yuk makan. Kali ini Bunda yang masak. Bunda ingin minta maaf ke kamu.” Ajak Ayah sambil merangkul Bumi berjalan.

“Ayah lupa?”

“Apa?”

“Pintu kamarku enggak muat kalau kita rangkulan kayak gini terus.” Celoteh itu diakhiri oleh tawa Bumi dan Ayah.

“Tak ada suami sekeren suamiku,” bisik bunda kepada perkakas makan yang Ia bawa ke meja makan sambil tersenyum. Sangat manis.

Wirosari, 31 Maret 2020.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.