Tan Seorang Pahlawan

Spread the love

Tan Seorang Pahlawan
Oleh: Bagas Yusuf Kausan[1]

Dalam peringatan ke-16 menghilang nya Tan Malaka pada tahun 1963, Partai Murba mengusulkan pemberian gelar pahlawan untuk Tan Malaka pada Bung Karno. Permohonan tersebut langsung ditanggapi dan direalisasikan oleh Presiden Soekarno melalui Keputusan Presiden no.53 tahun 1963. Keputusan presiden tersebut di sah kan pada tanggal 23 Maret 1963, sebagai penanda resmi gelar pahlawan nasional bagi Tan Malaka. [2]

Namun, meski Tan Malaka resmi menjadi pahlawan kemerdekaan Indonesia, nama nya tak banyak dikenal. Meskipun Muh.Yamin kerap menyebut nya sebagai Bapak Republik Indonesia, nama nya justru tenggelam dan kalah pamor dengan pejuang kemerdekaan lainya, seperti Presiden Soekarno, Moh.Hatta, maupun Sutan Sjahrir.

Sumbangsih Tan Malaka terhadap Bangsa Indonesia, seolah hilang. Atau lebih tepat nya di paksa hilang oleh rentetan doktrin Pemerintahan Soeharto melalui berbagai macam produk kebudayaan pemerintah.[3] Nama Tan Malaka tak pernah hadir dalam pembelajaran sejarah di berbagai macam tingkatan pendidikan. Meskipun dalam ranah perguruan tinggi nama Tan Malaka mulai terdengar, itu pun masih samar-samar di tengah paradigma sejarah yang telah lama terbentuk.

Nama Tan Malaka tak pernah serius diperkenalkan kepada masyarakat, termasuk memperkenalkan gagasan nya tentang perjuangan melawan penjajahan. Padahal, Tan Malaka termasuk orang pertama yang gigih berjuang menentang segala macam bentuk Imprealisme dan Kolonialisme. Lewat buku nya yang berjudul Naar de Republik Indonesia, yang ia tulis pada tahun 1925 di Kanton, China, Tan Malaka telah lebih dahulu berpikir tentang konsep Negara Indonesia  setelah terlepas dari belenggu penjajahan. Buku tersebut ditulis 3 Tahun sebelum seremonial persatuan bangsa melalui acara Sumpah Pemuda, Oktober 1928.

Perlu diakui oleh segenap bangsa Indonesia, bahwa Tan Malaka telah memberikan kontribusi besar bagi Indonesia. Terlepas dari kecenderungan pada ideologi tertentu, Tan Malaka telah berdiri menjadi pemantik api revolusi yang membakar semangat perjuangan rakyat Indonesia. Perjuangan Tan Malaka tersebut, harus ia bayar dengan penjara di bermacam-macam tempat, dan Tan terpaksa harus dikejar-kejar oleh pihak kolonial, termasuk Belanda, Amerika, Inggris, dan Jepang, hingga akhirnya ia menghabiskan separuh hidup nya dalam pengasingan di luar negeri, hanya untuk mewujudkan cita-cita nya akan kemerdekaan penuh tanpa kompromi.

Hilang nya nama Tan Malaka dalam ingatan masyarakat Indonesia, tidak terlepas dari peran rezim Orde Baru. Pasca meletus nya peristiwa G 30 S, rezim militer soeharto telah memberangus segala macam hal yang berbau Komunisme, termasuk melenyapkan Tan Malaka sebagai pahlawan Nasional yang berangkat dari ideologi kiri. Justifikasi rezim Orde Baru terhadap Komunisme, Marxisme, Leninisme, bahkan Nasionalis kiri yang dipandang pemerintah sebagai pemberontak Negara, telah menghilangkan peran-peran besar yang pernah dicatat kelompok kiri, bagi usaha kemerdekaan Indonesia. Termasuk peran Tan Malaka yang cukup sentral guna melenyapkan penjajahan dari bumi Indonesia.

Menjadi sebuah hal yang menarik, ketika sosok Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, yang telah banyak berjasa dalam usaha nya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, justru tak pernah disebut dalam narasi-narasi sejarah Bangsa Indonesia. Kecenderungan rezim Orde Baru yang kental akan komunisphobia, dan kepentingan rezim Orde Baru guna mempertahankan status quo, menjadikan Tan Malaka korban dari penghapusan nama dalam sejarah di berbagai jenjang pendidikan. Negara Indonesia yang telah lama ia mimpikan, dan teguh ia perjuangkan, bahkan sejak ia dalam pelarian demi pelarian dari satu negara ke negara lain, telah menghilangkan jasa-jasa nya, dan melupakan warisan pemikiran nya, hanya karena takut akan tumbuh nya kembali ideologi kiri yang dianut Tan Malaka. Meskipun kiri yang selalu diidentikan dengan komunis atau Partai Komunis Indonesia, kerap bersebrangan dengan pemikiran Tan Malaka.

Jalan Terjal Sang Pahlawan

            Tebing berbaris tinggi menjulang, hamparan sawah terapit kokoh nya dinding alam, dari lembah suliki yang indah nan subur, lahir seorang ahli revolusi, yang mahir melakukan perlawanan. Dari Nagari Pandan Gadang, Tan Malaka lahir dengan darah Minangkabau.

Tak ada catatan resmi dan meyakinkan ihwal tanggal lahir Tan Malaka. Satu-satunya penulis yang lengkap menyebut waktu kelahirannya, yakni 2 Juni 1897, Adalah Djamaludin Tamim, teman seperjuangan Tan.[4] Sejak kecil, Tan terkenal nakal dan cerdas. Ia memiliki seorang adik bernama Kamariddin. Sedangkan ayah nya bernama Rasad, dan ibu nya bernama Sinah.

Tan muda menyelesaikan pendidikan nya di Kweekschool Bukit Tinggi. Kecerdasan Tan Malaka mendorong seorang guru nya, G.H. Horensma untuk memperjuangkan Tan guna melanjutkan pendidikan di Negeri Belanda. Pada tahun 1913, Tan melanjutkan pendidikan nya ke Haarlem Belanda, dengan dilepas adik nya, Kamaruddin di Teluk Bayur.

Selama mengenyam pendidikan di Belanda, Tan mendapatkan sumbangan setiap bulan sebesar Rp50 dari kampung halaman nya, namun tan menganggap itu sebagai hutang yang akan ia bayar kelak ketika pulang ke Indonesia.[5] Meski akhirnya, Tan tak dapat membayar piutang tersebut. Hutang tersebut dibayar oleh guru nya, G.H. Horensma. Dan Tan hanya sempat mencicil dua kali terhadap guru nya tersebut.

Pada tahun 1919, Tan Malaka kembali ke Indonesia dan mulai mengajar di Sumatera. Tepatnya di Deli hingga tahun 1921. Ia mengajar anak-anak buruh perkebunan. Pengalaman mengajar di Deli, turut membentuk pemikiran Tan Malaka akan keprihatinan nya terhadap nasib Bangsa Indonesia. Disana, ia bergaul dengan kaum-kaum proletar, sekaligus melihat  dengan jelas pertentangan tajam antara modal dan tenaga, serta antara penjajah dan yang terjajah. [6] Pada Bulan Juni 1921, Tan mengajukan permohonan mengundurkan diri kepada Direktur sekolah tempat Tan bekerja. Setelah mendapatkan gaji dan karcis kapal menuju Pulau Jawa, tepatnya menuju Semarang, Tan mulai berlayar meninggalkan tanah Sumatera. Pengalaman nya selama mengajar di Deli, bergaul dengan kaum-kaum proletar, semakin memantapkan Tan bergerak di sektor pendidikan.[7]

Mendarat di Semarang, Tan mulai dekat dengan kehidupan politik. Disana ia bertemu Semaun, yang juga anggota Serekat Islam cabang semarang. Atas bantuan Serekat Islam dan prakarsa beberapa tokoh Serekat Islam, Tan Malaka mulai membangun sekolah yang selama ini ia cita-cita kan. Setelah mendapat persetujuan dari rapat anggota-anggota istimewa Serikat Islam, Perguruan tersebut mulai didirikan dan pendaftaran murid langsung dimulai sejak hari itu juga.[8] Kabar berdirinya sekolah rakyat di Semarang, cepat menyebar ke berbagai daerah. Bahkan, beberapa daerah mulai meminta pendirian sekolah rakyat di daerah tersebut. Namun, karena keterbatasan pengajar, pendirian sekolah rakyat di daerah lain, urung dilaksanakan.

Bandung akhirnya menjadi daerah kedua yang mendirikan sekolah rakyat, setelah seorang kader Serekat Islam mendermakan uang nya.[9] Tahun-tahun berikutnya, sekolah rakyat semakin berkembang dan membuka cabang di berbagai daerah. Namun, Tan Malaka tak sempat menyaksikan kemajuan sekolah rakyat yang dibangunnya. Terlebih setelah Tan Malaka semakin gencar terjun di ranah politik praktis. Terutama dalam lingkaran Serekat Islam dan PKI. Disamping itu, Ia kerap terlibat dalam aksi pemogokan buruh, yang menuai klimaks saat pemerintah koloni Belanda menangkap Tan pada tanggal 2 Maret 1922 di Bandung, lalu membuang nya ke Belanda.

Di Belanda, pemikiran Tan semakin revolusioner. Ia bergabung dengan Partai Komunis Belanda atau Communist Party of the Netherlands (CPN). Meski ia gagal menjadi ketua nya, Tan didesak rekan-rekan nya untuk bergabung ke dalam Komunis Internasional, untuk menjadi wakil dari Hindia-Belanda (Indonesia), di Moskow, Rusia.

Dalam kongres ke empat Komunis Internasional, Tan Malaka menyampaikan gagasan tentang Pan-Islamisme di hadapan para pemimpin komunis dari berbagai macam negara, termasuk di hadapan Vladmir Lennin yang juga sebagai pemimpin Komunis Uni Soviet. Pidato Tan Malaka tersebut, mencoba menolak pandangan bahwa Islam adalah bentukan baru dari Imprealisme. Bagi Tan Malaka, Islam dan Komunis harus bersatu guna menghancurkan Kapitalisme. Meski pidato Tan Malaka tersebut ditolak oleh pihak Komitern, Tan mendapat tepuk tangan yang gemuruh ketika selesai berpidato.

Selepas itu, Tan Malaka ditunjuk sebagai agen Komitern bagi kawasan Asia Timur. Dari sini lah perjalanan panjang Tan Malaka dimulai. Selama 20 tahun ia hidup dalam pelarian demi pelarian. Bahkan perjalanan Tan Malaka, bisa dikatakan lebih jauh cakupan nya dengan perjalanan yang dilakukan seorang revolusioner Amerika latin, Che Guevara. Dari Rusia, Tan Malaka berangkat menuju Tiongkok, dan tiba di Tiongkok pada tahun 1923. Disana, ia bertemu dengan sosok revolusioner Tiongkok,  Dr. Sun Yat Sen. Ketika Tan sedang berada di Kanton, Tiongkok, pada medio tahun 1925, Tan menulis sebuah buku. Tulisan tersebut di cetak menjadi sebuah buku Naar de Republik Indonesia. Buku tersebut menjadi salah satu bukti akan gagasan nya tentang Republik Indonesia. Seperti kata Tan dalam pengantar buku nya tersebut, “Jiwa saya dari sini dapat menghubungi golongan terpelajar (Intelektuil) dengan buku ini sebagai alat”.[10] Hal tersebut terbukti, para pemimpin perjuangan, termasuk Bung Karno telah membaca buku Tan tersebut berkali-kali, bahkan Bung Karno, dan juga Muh. Yamin selalu membawa buku tersebut kemana-mana. [11]

Pengembaraan Tan Malaka dilanjutkan menuju Filipina, Singapura, Thailand, Pulau Amoy, Shanghai, Hongkong, Pulau Amoy, Singapura, Burma, Singapura, Malaysia, hingga akhirnya masuk kembali ke Indonesia pada tahun 1942.[12] Pada tahun 1926, ketika Tan sedang berada di Singapura, Ia menulis dengan agak tergesa-gesa sebuah buku berjudul Massa Actie. Awalnya, buku tersebut merupakan usaha Tan mencegah pemberontakan PKI pada tahun 1926-1927. Meskipun Tan gagal untuk mencegah pemberontakan yang prematur tersebut, buku tersebut justru disambut dengan penuh gairah oleh orang-orang nasionalis. Geliat antikolonialisme yang mulai memuncak, menjadikan Massa Actie serupa minyak tanah yang membuat nya berkobar dengan pelajaran sejarah ringkas akan arti sebuah imaji bernama Indonesia. [13]

Ketika Jepang telah menguasai sebagian besar kawasan Indonesia, Tan mulai mendarat di Jakarta, Juli 1942. Pengembaraan nya yang cukup lama, dan telah lama pula meninggalkan Indonesia, membuat Tan harus mulai memahami kembali politik tanah air, beserta jaringan pergerakan nya. Di Jakarta, Tan mengganti nama nya menjadi Ilyas Husein. Di Jakarta pula, Tan menyelesaikan buku monumental nya yang berjudul, Madilog atau Matrealisme, Dialektika, dan Logika. Buku tersebut merupakan intisari dari pemikiran Tan Malaka, dan juga merupakan karya terbesar nya. Tan menulis buku tersebut selama delapan bulan, sejak 15 Juli 1942-30 Maret 1943. Ketika kempetai mulai mengetahui tempat persembunyian Tan di Jakarta tersebut, Tan memutuskan pergi ke Bayah.

Di Bayah, Tan bekerja sebagai buruh pertambangan milik Jepang. Disana, ia dengan cepat bergaul dengan sesama buruh dan mulai mendidik mereka. Ketika Presiden Soekarno dan Moh. Hatta berkunjung ke Bayah, Tan menyatakan ketidaksetujuan nya terhadap politik kompromi yang sedang dijalankan Soekarno-Hatta. Seperti dalam otobiografi nya, dari penjara ke penjara, “… karena kita tidak akan memperjuangkan kemerdekaan yang dijanjikan, melainkan memperjuangkan kemerdekaan yang dijanjikan ada di tangan kita, yang sudah dirasakan”.[14]

Pada masa-masa akhir kependudukan Jepang, Tan aktif menyebarkan propaganda pada golongan pemuda, termasuk terhadap Sukarni, B.M Diah, dan beberapa pemuda lainya. Pada proklamasi kemerdekaan Indonesia, Tan tak terlibat langsung di dalam nya. Setelah kemerdekaan Indonesia, ketika para pemuda memprakarsai rapat raksasa di lapangan Ikada, Tan Malaka di yakini hadir di tengah lautan massa tersebut. Menurut Harry Albert Poeze, [15] Tan Malaka ikut dalam rombongan. “Ia satu-satunya yang memakai topi jalan berdampingan dengan Sukarno menuju podium”.[16]

Perkembangan pemerintahan Soekarno-Hatta yang cenderung terus berkompromi dengan bentuk politik diplomasi, menjadikan Tan Malaka semakin berdiri menjadi golongan oposisi. Pada Januari 1946, Tan Malaka mendirikan Persatuan Perjuangan dengan tujuan menyerang sikap-sikap pemerintah yang penuh dengan diplomasi berlarut-larut. Tan menyesalkan sikap pemerintahan Soekarno-Hatta dan Perdana Menteri Sjahrir. Terutama sikap mereka yang membiarkan sekutu kembali masuk ke Indonesia.

Dalam kongres yang dihadiri 141 organisasi politik, organisasi kemasyarakatan, dan juga laskar, Tan berpidato dan mengajukan tujuh pasal minimum. Yaitu, berunding untuk mendapatkan pengakuan kemerdekaan 100 persen, membentuk pemerintahan rakyat, membentuk tentara rakyat, melucuti tentara jepang, mengurus tawanan bangsa eropa, menyita perkebunan musuh, dan menyita pabrik musuh untuk dikelola sendiri.[17] Sikap oposisi yang diperlihatkan oleh Tan Malaka di Purwokerto, membuat dirinya harus kembali mendekam dalam penjara di sejumlah tempat, seperti di Yogyakarta, Madiun, Ponorogo, Tawangmangu, dan Magelang.

Pada tanggal 7 November 1948, Tan Malaka dibebaskan oleh Wakil Presiden Muh.Hatta. Pembebasan Tan disinyalir merupakan upaya pemerintah untuk memunculkan sosok tandingan bagi Muso yang baru pulang dari Rusia. Pada tahun tersebut pula, terjadi pemberontakan PKI pada tahun 1948. Serasi dengan ketika pemberontakan tahun 1926/1927, Tan selalu berbeda pandangan dengan PKI. Bagi Tan, PKI selalu bertindah gegabah dan terburu-buru dalam melakukan perlawanan. Untuk itu, Tan kemudian mendirikan Partai Murba sebagai tandingan PKI yang kerap berbeda pandangan dengan dirinya, dan juga upaya Tan untuk mengalihkan pendukung PKI yang habis secara politik pasca peristiwa Madiun 1948.

Partai Murba yang cenderung kecil dan kurang berpengaruh dalam perpolitikan nasional, mendorong Tan Malaka menyingkir ke daerah Kediri, Jawa Timur guna membangun basis massa dan perlawanan terhadap Agresi Militer Belanda II.  Disana, Tan turut menyebarkan pamplet dan memproklamirkan diri sebagai pemimpin revolusi Indonesia karena sukarno-Hatta sebagai tawanan tak lagi memegang kekuasaan. Tan punya alasan atas itu, bahwa Presiden Sukarno telah memberikan testamen politik pada Oktober 1945, untuk menjadikan Tan Malaka sebagai pengganti Sukarno-Hatta sebagai obor revolusi. [18] Hal tersebut yang menjadikan Tan menolak pemerintahan darurat Sjafruddin Prawiranegara di Sumatera.

Aktivitas Tan Malaka di Kediri, mulai terdengar oleh Kolonel Soengkono yang menjabat sebagai pimpinan tentara divisi Jawa Timur. Soerahmad dari Batalion Sikatan yang ditugasi oleh Soengkono untuk mengawasi gerak-gerik pasukan Tan Malaka yang diisi pula oleh komando batalion yang dipimpin Mayor Sabarudin, mulai mendekati lokasi Tan. Namun, ketika mereka sedang mendekati kelompok Tan, muncul serangan dari Belanda secara bersamaan. Kelompok Tan dan pasukan Batalion berantakan.[19] Tan berhasil melarikan diri dengan kawalan enam anak buah. Namun, ketika di desa Selopanggung Tan bertemu regu Soekotjo yang menembak mati 3 orang anak buah Tan Malaka. Di desa itu pula, Tan Malaka di tangkap dan dieksekusi.

Tan Malaka: Karya, Gagasan, Simpulan, Hingga Refleksi

Akhirnya, sang pejuang revolusioner bagi Indonesia, harus mengakhiri hidupnya di tangan bangsa nya sendiri. Sosok Tan Malaka seakan menjadi legenda tentang perjuangan menegakan kemerdekaan seratus persen. Tan Malaka merupakan tipe pejuang yang tak hanya handal berbicara teori, akan tetapi ia pun lihai mempraktekan teori-teori tersebut. Tan yang pernah mengenyam pendidikan di luar negeri, dan juga berpengalaman dalam revolusi, memberikan warna besar terhadap perjuangan melawan penjajahan.

Pergulatan besar pemikiran Tan dimulai ketika ia belajar di negeri Belanda. Ia mulai mengenal akan arti nasionalisme, marxisme dan juga kemerdekaan. Tan yang menggeluti dunia pendidikan, mencoba merintis gagasan nya tentang pendidikan kerakyatan yang bermuara pada kemerdekaan rakyat. Kesadaran Tan akan penting nya pendidikan semakin menajam, ketika ia menjadi guru bagi anak-anak buruh perkebunan di Sumatera. Lalu, ketika ia hijrah ke Jawa. Ia mendirikan sekolah rakyat di Semarang, dan beberapa kota lainya. Metode Tan yang berbeda dalam bidang pendidikan, bisa dilihat dalam gagasan pendidikan nya yang termaktub dalam tulisan nya SI dan Semarang dan Onderwijs (1921). Gagasan besar Tan Malaka terletak dalam buku nya yang berjudul Naar de Republik Indonesia (1925), buku tersebut menjadi sebuah kerangka besar pemikiran Tan terhadap bentuk negara nya kelak. Bahkan, buku tersebut turut menjadi bahan bacaan bagi golongan intelektual di tanah air, dan menjadi pelecut persatuan bangsa untuk kemerdekaan.

Ketika PKI dengan tergesa-gesa melakukan perlawanan terhadap pemerintahan kolonial Belanda, pada tahun 1926-1927. Tan menulis karya besar lainya, yaitu Massa Actie (1926). Karya tersebut merupakan kritik terhadap pemberontakan PKI dan juga upaya Tan untuk menunjukan apa itu revolusi, dan bagaimana kekuatan rakyat bisa dimanfaatkan. Buku tersebut menjadi pegangan wajib bagi kaum pergerakan Indonesia. Bahkan seorang W.R Soepratman pun mendapat ide tentang lirik lagu “Indonesia Raya”, setelah membaca habis karya Tan Malaka tersebut. [20]

Karya monumental Tan ditulis di Jakarta, ketika Indonesia sedang berada dibawah cengkraman Jepang. Karya tersebut ialah, Madilog (1943). Karya tersebut merupakan singkatan dari Matrealisme, Dialektika, dan Logika yang merupakan usaha Tan Malaka untuk mengindonesiakan pemikiran barat. Tan enggan membeo dengan pemikiran asing tersebut, hingga akhirnya ia menelurkan karya tersebut sebagai wujud Marxisme Indonesia. Bagi Harry A. Poeze, Madilog merupakan pemikiran Tan yang telah lama tertimbun. Meski isi nya cenderung sulit dipahami, Tan berkontribusi besar bagi usaha nya menjauhkan masyarakat Indonesia dari sikap-sikap yang irasional, melalui buku master piece nya tersebut.

Disamping karya-karya tersebut, Tan Malaka banyak sekali menulis gagasan nya dalam bentuk buku atau brosur.[21] Namun, disamping menulis tentang gagasan, ide, dan pemikiran. Tan Malaka pun menulis otobiografi diri nya yang diberi judul Dari penjara ke penjara. Produktifitas penulisan karya yang dilakukan Tan Malaka, semakin memantapkan dirinya sebagai Intelektual sejati yang tidak hanya pandai bergerak. Namun, ia pun menghasilkan banyak karya yang mengesankan. Bahkan, dari karya-karya Tan kerap menjadi katalisator pergerakan melawan segala bentuk penjajahan.

Tak dapat dipungkiri, tak ada yang mampu menolak tentang kehebatan Tan dalam pergerakan, perlawanan, dan keteguhan prinsip. Sosok seorang Soekarno pun mengakui, dan menyadari betul akan hal tersebut. Bahkan, Sukarno telah siap memberikan tongkat revolusi kepada Tan andai kata ia tertangkap atau terbunuh. Kehebatan Tan juga diakui oleh Muh.Yamin. Ia bahkan mensejajarkan Tan dengan sosok George Washington dan Thomas Jeferesson sebagai “Bapak Republik”. Kiranya ucapan Muh.Yamin tersebut memang betul adanya. Tan merupakan perintis ide tentang Republik Indonesia, sebelum Moh.Hatta dan Ir. Soekarno.

Menjadi menarik, ketika kontribusi besar Tan Malaka tersebut, dengan status nya sebagai Pahlawan Nasional, ia tak pernah disebut dalam sejarah Bangsa Indonesia. Ada ketakutan yang mendalam yang diperlihatkan bangsa ini, ketika menyoal ideologi kiri. Doktrin panjang rezim militer Soeharto telah mengkikis peran-peran besar yang pernah ditorehkan oleh orang-orang kiri. Lalu menjadi sebuah kekeliruan ketika rezim tersebut dan rezim-rezim setelahnya, selalu menjual ideologi kiri sebagai orang-orang ateis. Tan Malaka telah membuktikan jika Islam dan pemikiran kiri tak pernah bertentangan. Bahkan Tan dengan sangat tegas menyatakan jika Islam merupakan sumber hidup. Kemudian, apa yang ditunjukan Tan Malaka dalam kongres Komitern di Moskow, dengan membawa tema Pan-Islamisme yang merupakan wujud akan persatuan  antara kelompok agama dan kelompok pemikir marxis untuk berjuang bersama melawan kapitalisme dan segala macam bentuk penindasan, adalah bukti betapa doktrin ateis terhadap mereka yang berhaluan kiri, perlu ditinjau kembali.

Mengangkat kembali sosok Tan Malaka sebagai pahlawan, yang bisa dijadikan refleksi dan teladan bagi masyarakat Indonesia, merupakan sebuah pengakuan Negara bagi jasa Tan Malaka. Apa yang kita lihat hari ini, ketika nama Tan Malaka tidak serius diperkenalkan sebagai pahlawan, seperti apa yang diterima oleh pahlawan-pahlawan lainya, menjadikan sosok Tan Malaka tabu untuk diangkat. Padahal, merefleksikan sosok seperti Tan Malaka merupakan sebuah jawaban akan kebuntuan kehidupan saat ini. Yang mana, sikap-sikap Tan Malaka yang tegas berprinsip untuk senantiasa membela golongan yang lemah, dan menentang segala macam penghisapan dan penindasan, sangat relevan untuk diteladani ditengah hiruk-pikuk persoalan bangsa, dan negara saat ini.

Sebagai penutup, uraian Bonnie Triyana nampak jelas menyoal tentang Tan malaka.

Kalau kesuksesan berpolitik diukur dari seberapa besar kekuasaan yang diperoleh, bukan disana tempat Tan Malaka. Bukan pula pada pelajaran sejarah di sekolah-sekolah yang tak mencantumkan namanya, kendati dia pahlawan nasional yang dikukuhkan melalui Keputusan Presiden Nomor 53 Tahun 1963”.[22]

“Kesuksesan Tan Malaka terletak pada sikap konsisten dalam berpolitik dan orsinalitas pemikirannya yang berpihak kepada rakyat…,”.[23]

[1] Pegiat kelompok belajar Kalam Kopi, sekaligus mahasiswa aktif jurusan sejarah, Universitas Negeri Semarang.

[2] http://historia.id/modern/di-balik-gelar-pahlawan-nasional-dua-tokoh-komunis, diakses pada tanggal 5 Maret 2016, pukul 23:21.

[3] Diskusi lebih lanjut mengenai doktrin dan produk kebudayaan rezim Soeharto. Lihat, Wijaya Herlambang, Kekerasan Budaya Pasca Tahun 1965, Tanggerang, Marjin Kiri, 2015.

[4] Serial Buku Tempo, Tan Malaka: Bapak Republik Yang Dilupakan, Hlm. 93.

[5] Tan Malaka, Dari Penjara ke Penjara, Jakarta, Narasi, 2008, hlm.34.

[6] Ibid. hlm. 64.

[7] Serial Buku Tempo, Tan Malaka: Bapak…, op.cit. hlm. 68.

[8] Tan Malaka, Dari Penjara…, op.cit. hlm 94-95.

[9] Serial Buku Tempo, Tan Malaka: Bapak…, op.cit. hlm. 70.

[10] Tan Malaka, Naar de Republik Indonesia ( Menuju Republik Indonesia ), Bandung, 2014, Sega Arsy, hlm. 16.

[11] Serial Buku Tempo, Tan Malaka: Bapak…, op.cit. hlm. 82-83.

[12] Ibid. hlm. 10-11.

[13] Ibid. hlm. 89-90.

[14] Tan Malaka, Dari Penjara…, op.cit. hlm. 524.

[15] Sejarawan yang meneliti Tan Malaka sejak tahun 1972, dan telah menerbitkan banyak buku tentang Tan Malaka.

[16] Serial Buku Tempo, Tan Malaka: Bapak…, op.cit. hlm. 22.

[17] Ibid. hlm. 39-40.

[18] Ibid. hlm. 130. Baca juga pada hlm.24-32.

[19] Ibid. hlm. 131.

[20] Ibid. hlm. 87-88.

[21] Ibid. hlm. 9. Lihat 26 buah pikir Tan Malaka.

[22] Ibid. hlm. 174.

[23] Ibid. hlm. 174.

Sumber Referensi

Buku

Herlambang, Wijaya. 2015. Kekerasan Budaya Pasca Tahun 1965. Tanggerang:Marjin Kiri.

Malaka, Tan.  2014. Dari Penjara ke Penjara. Yogyakarta: Penerbit Narasi.

——-   2014. Naar de Republik Indonesia. Bandung: Sega Arsy

Tempo. 2015. Tan Malaka: Bapak Republik Yang Dilupakan. Jakarta: KPG ( Kepustakaan Populer Gramedia )

Jurnal

Faisal dan Firdaus Syam. 2015. Tan Malaka, Revolusi Indonesia Terkini. Jurnal  Politik dan Permasalahan Pembangunan, Sekolah Pasca Sarjana Ilmu Politik Universitas Nasional. VOL. 11. No. 01. 2015.

Internet

https://www.academia.edu/846840/Intelektual_Revolusioner_Tan_Malaka,                        diakses pada tanggal 05 Maret 2016, pukul 00:21.

http://historia.id/modern/di-balik-gelar-pahlawan-nasional-dua-tokoh-komunis,              diakses pada tanggal 5 Maret 2016, pukul 23:21.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.