Teh Senja Hari

Spread the love

Cerpen Mugi Astuti

Raung sirene berhenti ketika mobil jenazah tiba di depan pekarangan sebuah rumah setengah jadi, tepat di belakang mobil polisi yang lebih dulu tiba. Beberapa petugas turun membawa tandu dan kantong jenazah. Beberapa polisi sibuk mondar-mandir. Sebagian mencatat sesuatu. Sebagian lain meminta keterangan dari beberapa orang.

Orang-orang berkerumun sambil berbisik-bisik. Wangi melati yang kembang semerbak samar. Angin menerbangkan helai mawar di pot bunga bertanah mengering. Matahari pelan menghilang, meninggalkan semburat jingga yang sekejap sirna.

***

“Aku ingin punya teras di balkon lantai dua, Kang. Rumah kita ini menghadap ke barat. Tentu sangat indah melihat matahari terbenam saat kita minum teh seperti sore ini,” kata Sri kepada suaminya.

Karyo tidak merespons perkataan Sri. Ia terlihat lelah. Mungkin karena mereka baru saja pulang dari kota R, mengantar anak semata wayang, Titis, pulang ke pesantren.

Dia menyeruput teh dari cangkir tanah liat. Mengisap kretek dalam-dalam dan mengembuskan pelan.

Di sampingnya Sri masih saja berbicara. Suaranya timbul-tenggelam di telinga Karyo. “Kang!”

Karyo terlonjak.

“Kau dengar tidak!” Suara Sri meninggi. Sri tidak sedang marah. Ia hanya sedang antusias bercerita tentang sesuatu.

“Apa tadi?” Karyo menjawab sambil men-cecek rokok di asbak. Ia menoleh ke istrinya.

Mulut mungil istrinya mengatup, lalu wajahnya melengos.

“Jangan marah gitu ta. Aku agak capek. Maaf ya. Tadi malam setelah ngepak barang-barang Titis, aku tak bisa tidur. Apa tadi kaubilang?” Karyo menjawab pelan. Suaranya terdengar sabar.

“Kemarin ada sponsor nyari orang buat dikirim ke luar negeri. Kalau boleh, aku mau ke Hong Kong atau Singapura, Kang, yang kontrak kerjanya hanya dua tahun. Kalau Taiwan kontraknya tiga tahun katanya. Jadi gak perlu nunggu lama kalau mau ambil cuti.”

“Kerja apa? Di pabrik?” tanya Karyo.

“Asisten rumah tangga, Kang. Mbabu.” Sri tertawa. Entah apa yang lucu. “Orang kadang aneh ya, Kang. Mau bilang mbabu aja repot panjang-panjang nyebutnya, dihalus-halusin jadi asisten rumah tangga. Padahal, ya aslinya sama aja.” Sri tergelak.

Karyo tidak berkata sepatah pun. Ia sudah mengira, lama-kelamaan Sri pasti juga ingin pergi ke luar negeri, menyusul teman sedesa yang lebih dulu menjadi TKW. Karyo memandang istrinya. Wanita ceria yang lembut hati. Karyo sungguh tak tega jika harus melepas Sri bekerja ke antah-berantah yang terlintas di pikiran pun tak pernah.

“Apa harus, Sri? Tak cukupkah hidup kita sekarang ini? Aku tak yakin bisa berpisah darimu begitu lama. Pikir lagi keinginanmu itu matang-matang.”

“Tapi, Kang, aku ingin punya rumah yang ada balkonnya. Suatu saat anak-anak kita pasti akan mencari kehidupan masing-masing. Aku ingin saat itu bisa menikmati matahari tenggelam bersamamu.”

“Apa itu gak terlalu jauh, Sri? Titis saja masih kecil. Masih banyak kemungkinan terjadi hingga dewasa nanti. Kau lupa ingin memberi adik buat Titis biar ada teman bermain?”

“Itu bisa nanti, Kang. Kalau nunggu sampai adik Titis lahir, bisa-bisa aku sudah tak laku lagi jadi TKW.”

“Sampai usia berapa orang boleh berangkat?”

“Kalau fresh ya maksimal 35, Kang. Beda dari eks TKW, gak ada batasan usia.”

“Bisakah kauurungkan niatmu?”

“Tidak mau, Kang, aku malu. Rumah tetangga sudah bagus-bagus. Kang Karyo lihat kan? Aku malu.”

Karyo terdiam. Ia sandarkan punggung ke kursi. Dia cecap teh kental yang mendingin. Pahit.

***

Bel berdentang keras sekali pukul 04.00, disusul teriakan Mama Asrama yang menyuruh para calon TKI segera bersiap. Di ruang penampungan itu ada sekitar 50 ranjang bersusun dua. Sri melepas tutup mata, bangkit, dan merapikan tempat tidur. Ia sungguh tak terbiasa tidur dalam keadaan terang benderang. Untung, teman sebelah berbaik hati meminjamkan tutup mata, sehingga Sri bisa tidur nyenyak.

Sudah seminggu Sri berada di penampungan. Ia mulai terbiasa dengan kegiatan di sana. Mulai dengan dentang bel pukul 04.00, piket bersih-bersih asrama, antre mandi, sebelum kegiatan kerohanian. Lalu, kelas bahasa dan keterampilan kerja hingga kembali pergi tidur pukul 21.00.

Sri mengambil piring melamin berwarna oranye, mengisi dengan sedikit nasi dan mengantre pembagian jatah lauk. Menu sarapan pagi ini oseng kacang panjang dan sepotong tempe yang tak lebih tebal dari alis ibu-ibu sosialita. Dia memandangi jatah sarapannya. Lama, sebelum memasukkan ke mulut pelan-pelan menggunakan sumpit.

Tempat penampungan ini memang tak menyediakan sendok. Alasannya, supaya calon TKI itu terbiasa makan menggunakan sumpit.

Air matanya hampir jatuh. Ia ingat Karyo. Mungkin jika melihatnya saat ini, Karyo pasti tidak tega. Karena saat Sri tinggal di rumah, Karyo yang selalu memasak buat dia. Masakan Karyo sangat enak. Beda dari oseng kacang yang rasanya tidak keruan ini dan tempe goreng dingin yang rasanya mirip tempe semangit.

***

“Sri, kamu gak ingin pulang, Ndhuk?” Suara mertuanya bergetar dari seberang sana.

“Bukankah baru sepuluh bulan lalu saya pulang cuti, Mak?”

“Pulanglah sekarang.” Suara mertuanya memohon. Menahan tangis.

“Ada sesuatu yang penting, Mak? Kang Karyo baik-baik saja bukan? Titis baik-baik saja bukan?”

Mertuanya tidak menjawab. Hanya isak tangis yang terdengar. Segera ia matikan panggilan suara dari mertuanya dan memencet tanda video call pada kontak aplikasi WA suaminya.

Karyo terlihat baik-baik saja, meski wajahnya murung. Setelah berbicara sejenak dengan suaminya, ia mengontak pengurus pondok tempat Titis menimba ilmu. Titis baik-baik saja. Perasaan Sri lega, meski masih bertanya-tanya.

***

Roda pesawat Garuda yang dia tumpangi menyentuh landasan Bandara Ahmad Yani tepat pukul 17.00. Suara pramugari yang lembut memperingatkan para penumpang untuk tetap di tempat duduk sampai pesawat benar-benar berhenti. Lagu tradisional Jawa Tengah mengalun pelan.

Sri mengemasi barang-barangnya. Menghitung kembali tas yang ia bawa ke kabin. Ada satu tas punggung agak besar, tas selempang kecil untuk tempat dokumen perjalanan dan dompet, serta satu tas kresek berisi oleh-oleh yang dia beli di Bandara Hong Kong.

Semarang sudah berubah banyak hanya dalam beberapa bulan. Terakhir ia menjejakkan kaki di Semarang masih melewati pintu keluar bandara yang lama. Sempit dan semrawut. Belum lagi pada waktu bersamaan dengan orang-orang yang pulang bekerja dari arah Mangkang. Arus di jalanan pasti macet.

Kali ini Sri terkesima melihat pintu keluar bandara yang baru. Begitu bersih, lapang, dan tertata.

“Taksi, Mbak?” Sapa seorang lelaki setengah baya.

Sri menyebutkan alamat tujuan dan menanyakan harga. Setelah menunggu cukup lama, lelaki itu datang dengan sebuah Avanza.

“Lo, Pak, katanya taksi?” Sri heran.

“Iya, Mbak. Sekarang taksi bandara pakai ini,” kata lelaki itu sambil menyebutkan satu nama perusahaan rental mobil.

***

Sri menjejakkan kaki di halaman rumah. Rumah dua lantai dengan balkon idamannya hampir jadi. Hanya tinggal nglepa dan memasang keramik. Rumpun melati yang ia tanam beberapa bulan lalu tumbuh baik. Berdaun rimbun. Batangnya berkelindan dengan batang bugenvil. Tak lama lagi pasti bisa menjadi peneduh teras. Sayang, mawar-mawar dalam pot agak layu. Mungkin seharusnya bunga itu ditempatkan di tempat teduh.

Daun kering berserakan seperti beberapa hari tidak disapu. Rumah yang berjarak beberapa meter dari rumah mertuanya dan kerabat-kerabat Karyo itu sepi. Sri mengetuk pintu. Mertuanya muncul dan memeluk erat.

Genduk, anak gadis Yu Karni, kakak tiri Karyo, yang baru lulus SMA bulan Juli lalu, duduk meringkuk di pojok sofa di samping sang ibu. Wajahnya begitu ketakutan. Perut gadis yang ditinggal bapaknya pergi semenjak berusia di bawah lima tahun itu membesar. Janin berusia sekitar tujuh bulan tumbuh dalam rahimnya.

Hari itu, seluruh kerabat berkumpul di ruang tengah rumah Sri. Karyo duduk di depan Sri, menelangkupkan tangan ke muka. Mertuanya tak henti meneteskan air mata.

“Maaf, Sri, aku khilaf.” Suara Karyo pelan, tetapi cukup meruntuhkan semesta Sri.

Karyo kesepian dan lupa diri, sehingga tega menyebuhi keponakan yang sudah sejak kecil begitu manja padanya.

“Kamu tega, Kang. Bukankah Genduk memperlakukanmu seperti ayah kandung? Kalian tak boleh menikah. Paling tidak saat ini. Kalaupun menikah, bagaimana hukum mengaturnya?” Suara Sri lirih. Bergetar menahan tangis dan marah. Tangannya mengepal, lalu meremas-remas ujung baju.

“Tapi mereka harus dinikahkan Sri. Karyo harus mempertanggungjawabkan perbuatan bejatnya.” Suara seorang kerabat menyela.

“Baiklah, tapi tidak sekarang. Kalian tunggu hingga bayi itu lahir. Bukankah tidak elok menikahkan wanita yang sedang hamil? Sementara ini, biar Genduk tinggal di sini untuk kuajari cara meladeni Karyo. Setelah bayi itu lahir, aku akan berangkat dan mereka boleh menikah. Sekehendak kalianlah.” Suara Sri pelan, tetapi tajam.

Semua orang di ruangan itu terdiam. Tak ada pilihan lain, kecuali menuruti perkataan Sri. Mereka tak berani lagi membantah permintaan Sri. Mereka takut Sri bakal berubah pikiran. Mereka berembuk dan akhirnya memutuskan yang penting si jabang bayi punya ayah dan kehormatan mereka terselamatkan.

Sebulan telah berlalu. Genduk sudah hafal rutinitas harian yang biasa Sri kerjakan. Ia juga hafal kebiasaan-kebiasaan Karyo. Sri mengajari Genduk dengan sabar. Semua orang memuji ketabahan Sri. Mereka berkata betapa beruntung Karyo. Rata-rata yang mengalami kejadian seperti Karyo berakhir dengan keributan. Bahkan ada yang sampai menyewa orang untuk menghancurkan rumah yang susah-payah mereka bangun agar suami dan selingkuhannya tidak menempati rumah itu.

“Tehnya tambah sedikit lagi. Habis itu tuang air panas,” kata Sri kepada Genduk suatu sore. “Sudah beli kretek?”

“Sudah, Lik. Itu di meja depan,“ jawab Genduk. Perutnya sudah makin besar. Perkiraan beberapa minggu lagi sudah melahirkan. Ketakutannya kepada Sri sirna. Ia sudah kembali lagi seperti semula karena perlakuan Sri tidak berubah.

Hanya Karyo yang agak berbeda. Ia sudah bukan lagi Paklik yang dia kenal.

“Bawa ini ke depan. Jangan lupa kreteknya. Kang Karyo sudah menunggu di teras,” kata Sri. Ia mengangsurkan nampan berisi poci dan cangkir tanah liat serta sepiring pisang goreng.

Setelah memberikan nampan kepada Genduk, Sri duduk di sofa ruang tengah. Dia raih novel Dendam karya penulis favoritnya yang baru saja dia baca setengah.

Sri menghela napas. Matanya memejam sejenak sebelum membuka halaman terakhir yang dia baca. Belum juga lunas tiga halaman dia baca, telinganya mendengar jerit histeris Genduk dari teras depan yang menyaksikan tubuh Karyo tumbang dengan mulut berbusa.

 

Semarang, 17 Oktober 2019, 06.29

 

Catatan:

Men-cecek: mematikan rokok ke permukaan asbak.

Mbabu: menjadi babu, jongos, pembantu rumah tangga.

Tempe semangit: tempe yang nyaris basi, membusuk.

Ndhuk: panggilan akrab pada perempuan.

Nglepa: melapisi dinding btu bata atau batu dengan campuran semen dan pasir.

 

Mugi Astuti, pengangguran beranak dua, tinggal di Kota Semarang

 

Gambar Ilustrasi: Lakonhidup

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.