Tentang Para Imigran dan Rasialisme di Sepakbola Prancis

Spread the love

Pada masa lalu, kita mengenal Zinedine Zidane, Marcel Desailly, Lilian Thuram, dan Christian Karembeu sebagai pahlawan Timnas Prancis saat menjuarai Piala Dunia 1998. Dan 20 tahun kemudian di Rusia, kita bisa melihat Samuel Umtiti, N’golo Kante, Paul Pogba, dan Kylian Mbappe berhasil menyamai pendahulunya dengan menjuarai Piala Dunia 2018. Lantas, ada apa dengan pemain-pemain yang disebutkan di atas? Pemain-pemain tersebut merupakan pemain keturunan para imigran yang sekarang bermukim di Prancis. Sebenarnya, masih banyak pemain keturunan yang bisa disebutkan, tapi saya rasa itu cukup untuk bisa menggambarkan bahwa Prancis itu memiliki etnis beragam atau multi-etnis. Nah, akan lebih baik lagi jika kita juga mengetahui sejarahnya.

Seperti Belgia, Inggris, Italia, Jerman, dan Portugal, hubungan Prancis dan Afrika sudah berlangsung sejak lama dalam ikatan kolonialisme. Ada perbedaan mendasar antara corak penjajahan Prancis dan Inggris. Jika Inggris cenderung melihat tanah jajahan secara pragmatis dari sisi untung-rugi, maka Prancis lebih memiliki sisi idealis karena selain mengeksploitasi kekayaan koloni, mereka juga bermaksud menyebarkan kebudayaannya. Berangkat dari situ, Prancis banyak mengirim serdadu, petani kecil, pegawai rendahan, kaum terpelajar, dokter, guru, dan insinyur. Pegawai rendahan dan para petani umumnya ditempatkan di tanah jajahan untuk mencari penghidupan yang lebih baik, sedangkan kaum terpelajar menyeberang ke tanah jajahan untuk menyebarkan ide dan cita-cita Revolusi Prancis.

Orang-orang Prancis pada umumnya menganggap tugas utama mereka adalah mengubah orang-orang Afrika menjadi orang Prancis yang lebih beradab. Hal ini juga pernah disampaikan Jules Ferry, seorang arsitek politik imperial Prancis pada tahun 1880-1885. Ia berpendapat bahwa koloni merupakan wilayah Prancis, tugas orang Prancis di koloni berikutnya adalah menyebarluaskan nilai-nilai utama peradaban Prancis. Pendapat Jules Ferry tersebut merupakan jiwa dari zaman masa kolonialisme dan imperialisme. Ada keyakinan dalam pikiran banyak orang Prancis saat itu bahwa wilayah Prancis akan meluas ke seberang Laut Tengah, ke sebelah selatan Gurun Sahara dan ke sebelah barat benua Afrika. Lebih lanjut, mereka percaya adanya suatu ikatan kultural dan politik antara Prancis dan para jajahannya di Afrika yang jauh melampaui tujuan-tujuan ekonomi. Keseriusan Prancis untuk “memprancis-kan” Afrika terlihat pada tahun 1946, ketika mereka menjadikan orang Afrika yang ada di wilayah jajahannya sebagai warga negara Prancis.

Hingga pasca-Perang Dunia II, sistem kolonialisasi Prancis di negara-negara Afrika akhirnya membawa dampak yang cukup besar. Prancis terus kedatangan para imigran-imigran yang kebanyakan datang dari Afrika bagian utara dan tengah. Dengan jumlah imigran yang terus bertambah, hal tersebut menciptakan masyarakat yang multikultural di Prancis. Pertumbuhan jumlah imigran yang semakin banyak menjadi suatu fokus topik yang penting di Prancis. Sebab kehadiran imigran tersebut memberi dampak pada aspek-aspek krusial di Prancis, seperti sosial, politik, dan budaya. Gesekan budaya seperti kasus rasial antara penduduk asli terhadap imigran terjadi sejak awal kehadiran imigran tersebut hingga saat ini. Kesenjangan sosial juga terjadi antara penduduk setempat dan para imigran, sehingga menimbulkan gesekan sosial yang berujung konflik dalam hubungan keduanya. Masalah ini juga berdampak pada aspek politik, partai ekstrem kanan yang cenderung nasionalis bersikap xenophobia. Mereka menyerukan penolakan imigran karena dianggap mengganggu stabilitas masyarakat Prancis.

Selain itu, aspek ekonomi ikut menjadi daya tarik tersendiri bagi para imigran untuk bekerja dan tinggal di Prancis. Banyak para imigran yang ingin memperbaiki nasibnya sehingga memutuskan untuk bermigrasi ke Prancis. Biasanya, para imigran cenderung ditempatkan pada sektor industri yang memerlukan tenaga fisik secara besar seperti menjadi buruh bangunan dan pekerja pertambangan yang dinilai cocok untuk orang-orang Afrika. Alasannya, mereka cenderung lebih kuat secara fisik dibanding orang-orang Prancis “asli”. Ini menjadi keuntungan bagi pemilik modal dan pengusaha Prancis karena mereka mampu memonopoli para kaum imigran, mudah untuk  mencari tenaga kerja yang murah, dan para imigran mudah diajak kerja sama ke dalam usaha mereka. Namun, ketika ekonomi sedang menurun, para pekerja imigran tersebut turut dikambinghitamkan dengan dalih tidak sesuai dengan kebudayaan Prancis.

Di balik rumitnya permasalahan imigran di Prancis, para imigran tersebut menemukan jalan alternatif untuk mereka bisa terintegrasi dengan masyarakat Prancis, yakni dengan sepakbola. Sepakbola justru menjadi sebuah kendaraan bagi para imigran untuk berintegrasi. Jika berkaca pada tahun 1998, timnas Prancis yang berhasil menjuarai Piala Dunia kerap disebut sebagai “black-blanc-beur” (keturunan kulit hitam-kulit putih-dan arab). Tim inilah yang kerap disebut sebagai lambang keberagaman dan integrasi. Hal tersebut dikarenakan keberhasilan para imigran dan keturunanya untuk berintegrasi dengan kultur Prancis. Terlebih, banyak yang menyadari bahwa prestasi Prancis dari dulu bergantung pada kehadiran para pemain imigran itu sendiri.

Terlepas dari prestasi yang didapat oleh timnas Prancis dengan keberagamannya, masih banyak permasalahan melanda persepakbolaan Prancis. Sepertinya, ada penolakan dari pemerintah yang berbasis partai sayap kanan Prancis, bahkan sepakbola juga tak luput dari adanya kasus rasial. Masih banyak para imigran yang kerap menjadi korban stereotype. Hal tersebut dikarenakan sebagian besar dari mereka merupakan anak Banlieue (daerah pinggiran), yang memiliki citra sebagai anggota geng, penjahat, dan calon teroris. Mereka masih saja dianggap sebagai imigran, meskipun banyak dari mereka adalah warga generasi kedua dan ketiga yang lahir dan besar di Prancis. Selain itu, sepakbola Prancis juga mendapat kecaman dari Front Nasionalis atau Partai Sayap Kanan Prancis yang dipimpin oleh Marine Le Pen. Permasalahan tersebut tergambar dalam situasi saat partai sayap kanan Prancis tersebut  melakukan penolakan kepada kehadiran Timnas Prancis yang multikultural. Hambatan tersebut terlihat saat adanya prasangka yang dilakukan oleh Marine Le Pen terhadap fenomena Black-Blanc-Beur yang tidak sesuai dengan dasar dan idealisme yang dimiliki oleh negara Prancis. Ditambah dengan adanya prasangka terhadap keberagaman yang dimiliki oleh tim Nasional Prancis dianggap hanyalah buatan saja, sehingga membuat para pemain Timnas Prancis khususnya yang berketurunan imigran berkulit hitam menjadi terpojokkan dan dianggap hanya berjuang untuk mendapatkan trofi, bukan untuk negara Prancis itu sendiri. Dalam prasangkanya, Le Pen juga mempertanyakan rasa nasionalisme yang dimiliki oleh para pemain imigran di Timnas Prancis, dan dalam imajinasinya Le Pen, Prancis masih tergambar sebagai bangsa kulit putih yang makmur dan sejahtera. Tak heran ia vocal menyuarakan kebijakan anti-imigran karena para imigran tak ubahnya parasite yang menggerogoti kesejahteraan masyarakat  “asli” Prancis.

Namun, dibalik itu semua dapat disimpulkan bahwa Timnas Prancis bisa mempresentasikan dalam situasi multikultural dalam kehidupan sepakbola yang saling menguntungkan, dimana para imigran menggunakan sepakbola sebagai cara mereka untuk bisa berbaur dan mendekatkan diri mereka kepada masyarakat Prancis, sepakbola menjadi alat para imigran untuk bisa terintegrasi dengan masyarakat serta mampu menjadi alat mereka untuk menunjukan identitas tanpa ada rasa takut dengan intimidasi atau diskriminasi yang berpotensi terjadi. Sebaliknya Prancis juga menyadari betul bahwa prestasi dalam bidang sepakbola di negara tersebut sangat bergantung pada kehadiran pemain keturunan imigran tersebut. Namun, pada akhirnya, sepakbola tetaplah hanyalah olahraga yang mampu mengundang emosi para penontonnya, membuat para pendukungnya lupa akan perbedaan yang ada di antara mereka. Sepakbola belum bisa menjadi pemersatu untuk isu multikultural secara masif bagi masyarakat Prancis, namun bisa menjadi penghibur sejenak bagi masyarakat Prancis di tengah kasus rasial yang terus terjadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.