The Two Sides: Pelaku Industri Musik Punk Ortodoks & Neo–Punk

Spread the love

Oleh Dana Asajiwanda

Secara etimologis, punk merupakan sebuah singkatan dari istilah bahasa Inggris, yaitu “Public United Nothing Kingdom”. Sesuai namanya, punk lahir di Inggris pada 1960-an karena keresahan kelas pekerja dan anak muda terhadap kekangan kapitalisme serta dominasi parent culture. Pada waktu itu, perlawanan hanya sebatas di bidang musik bawah tanah. Meskipun akhirnya berkembang menjadi subkultur dengan slogan “Do it Your Self”.

Dalam dunia musik, punk adalah counterculture dari genre musik mainstream. Musik punk mempresentasikan jiwa yang bebas, keras, dan liar. Musik ini memiliki ciri khas efek distorsi, ritme cepat, dan lirik yang cenderung frontal. Secara teknis, komunitas punk enggan “ambil pusing” dengan urusan olah vokal, kerumitan tangga nada, dan penampilan baik di dalam maupun di luar panggung.

Pada abad dewasa ini, saya memandang bahwa kecenderungan pelaku industri musik punk berevolusi menjadi dua sisi. Sisi pertama saya beri istilah punk ortodoks, sedangkan sisi kedua saya istilahkan dengan neo-punk. Sebenarnya, istilah “sisi” ini bisa juga disebut dengan “fase” perpindahan pola tingkah pelaku musik punk dalam perjalanan karirnya.

Punk ortodoks yang saya maksud adalah individu atau komunitas punk yang tetap mempertahankan akar prinsip ideologisnya seiring dengan perkembangan zaman. Pelaku punk ortodoks tetaplah harus menjadi punk yang ‘gila” dalam situasi apapun. Perilaku seperti mabuk, narkoba, seks bebas, mati dengan penyebab konyol,dan hal destruktif lainnya menjadi hukum wajib bagi kaum ini.

Dalam hal penampilan, punk ortodoks tidak mengenal gaya berpakaian yang necis. Penampilan di dalam atau di luar panggung harus kembali mengingat pada akar pergerakan punk yang dikenal urakan, lusuh, dan mecerminkan kepribadian yang rebel. Citra penampilan inilah yang melekat sampai sekarang pada persepsi masyarakat umum.

Lirik musik punk ortodoks lebih frontal dibandingkan musik neo-punk yang cenderung berupa subliminal message atau lirik yang sedikit puitis. Lirik musik frontal dipilih agar dalam menyampaikan pesan pergerakan mudah didengar dan dipahami oleh pecinta musik punk. Sehingga langkah ini dianggap lebih mempermudah dalam memperluas paham pergerakan.

Berbanding terbalik dengan punk ortodoks, neo-punk lebih berkompromi dengan situasi dan kondisi yang sedang terjadi. Sikap adaptif lebih ditekankan oleh kaum penganut aliran ini. Terkadang mereka tidak pure meninggalkan ciri khas liar punk ortodoks, tetapi sedikit memberikan gambaran baru yang lebih “normal” dalam menyikapi suatu persoalan. Singkatnya, neo-punk adalah bentuk modifikasi dan modernisasi dari gaya lama punk ortodoks.

Gaya berbusana kaum neo-punk lebih terlihat keren ketimbang punk ortodoks. Sejauh yang saya amati, sebenarnya pada awal karir mereka merepresentasikan diri sebagai komunitas punk bergaya ortodoks. Seiring berjalannya waktu, mereka mengubah penampilannya menjadi gaya neo-punk dengan ciri khas keren, bersih, dan sedikit sopan. Perubahan fase berbusana ini dibarengi dengan meningkatnya popularitas dan kemapanan. Tentu apabila dipandang secara radikal, perilaku mereka tidak sesuai dengan kaidah yang dianut punk murni mengingat kaum ini menggunakan embel-embel punk.

Pelaku musik neo-punk tidak lagi menggunakan lirik yang frontal dan kasar. Mereka lebih memilih menyisipkan kritikan melalui kata kiasan atau semacam lirik-lirik puitis. Menurut saya, peralihan dari barisan lirik kasar menjadi lebih puitis dan romantis adalah suatu metode pemasaran untuk menarik minat pendengar di luar dari komunitas punk itu sendiri. Walaupun begitu, neo-punk tidak pure meninggalkan akar-akar kebesaran punk gaya lama.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa neo-punk adalah aliran gaya baru yang melengkapi punk gaya lama. Punk ortodoks tetaplah menjadi akar bagi pelaku musik neo-punk untuk tetap survive dan berkembang pada era bebasnya industri musik. Akhir kata, stay safe, healthy, and rock ‘n roll!

 

Dana Asajiwanda, Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Negeri Semarang 2018

 

-Ilustrasi: jogja.tribunnews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.