Tren Hiperdigitalisasi dalam Cyberfandom Sepak Bola

Spread the love

Menengok kembali masa lalu, bagi pendukung tradisional, klub sepak bola adalah identitas komunitas perkotaan dan itu bersifat representasional. Dalam arti, klub sepak bola merupakan wujud perwakilan suatu daerah. Sepak bola adalah “representasi totem masyarakat setempat”, sama seperti lagu, pakaian, warna klub, logo, dan lain sebagainya.

Bagi para penggemar, klub adalah dimensi penting dari identitas pribadi dan kolektif. Tidak heran, bagi sebagian orang, mendukung klub dari daerah sendiri (lokal) merupakan suatu kewajiban. Utamanya, karena dapat mempererat hubungan sosial dan perasaan kekeluargaan. 

Sebagai contoh, keterikatan emosional antara warga Jakarta dengan Persija Jakarta atau warga Bandung dengan Persib Bandung. Adanya keterikatan emosional semacam itu memfasilitasi kemunculan ikatan sosial yang memungkinkan mereka, para penggemar, untuk saling berinteraksi atas dasar kesamaan klub kegemaran. Kemudian ikatan sosial tersebut makin diperkuat dan direproduksi melalui jejaring komunitas pendukung (supporter) di dalam dan/atau luar stadion.

Namun, bersamaan dengan itu, revolusi digital dan internet juga berkembang begitu pesat. Alhasil tantangan dan peluang baru bagi kehidupan sehari-sehari, tak terkecuali sepak bola, pun bermunculan. Misalnya, dunia sepak bola hari ini semakin dimediatisasi secara global. Yang disebut “penggemar sepak bola” kini tidak hanya berlaku untuk orang yang datang ke stadion, tapi bisa pula untuk yang mendukung di balik layar atau bisa disebut pendukung lintas-ruang.

Kondisi semacam itulah yang memungkinkan orang Bandung untuk tidak hanya menjadi Bobotoh (pendukung Persib Bandung), melainkan sekaligus menjadi Madridista (pendukung Real Madrid). Begitu pula orang Jakarta; tidak hanya menjadi The Jakmania (pendukung Persija Jakarta), tapi juga menjadi The Kopites (pendukung Liverpool).

Seperti kata pendiri Pandit Football, Zen RS (2022), 

“Sepak bola yang awalnya hanyalah sebuah olahraga berubah menjadi sebuah tontonan kemudian berubah lagi menjadi tayangan, dan kini berubah menjadi sebuah konten.”

Awalnya, memang dipicu adanya digitalisasi gelombang pertama: pengenalan terhadap layanan televisi digital. Namun belakangan, terutama sejak hadirnya internet (serba murah), kondisi demikian makin dimungkinkan sejak adanya layanan streaming bola. Fenomena itulah yang membawa kita pada teori “hiperdigitalisasi budaya fandom sepak bola”.

Mari menyeberang ke dataran Inggris. Pada 1992, Liga Utama Inggris (EPL) resmi terbentuk. Sejak saat itu, banyak akademisi yang mulai menekuri kajian sepak bola. Utamanya, soal adanya kerenggangan hubungan antara komunitas ‘tradisional’ sepak bola (yang awalnya ditemukan di lingkungan laki-laki, kulit putih, dan kelas pekerja) dengan kepentingan komersial yang berkembang dari klub profesional tingkat elit. 

Bagi Guilianotti (dalam Lawrence dan Crawford, 2019), ketegangan itu muncul dari wacana yang mendefinisikan implementasi hiperkomodifikasi yang ekstrim di dunia sepak bola para elit Inggris. Yang memungkinkan hiperkomodifikasi itu tidak lain adalah revolusi digital gelombang pertama dalam siaran olahraga (khususnya sepak bola) selama akhir abad kedua puluh. Sejak saat itu pula banyak akademisi menaruh perhatian terhadap fenomena hiperkomodifikasi; mereka coba memahami ketidaksetaraan kuasa yang dihasilkan oleh hegemoni “sedikit produsen-banyak konsumen”.

Dari situ, tampak bahwa hiperkomodifikasi sepak bola pada akhir abad kedua puluh memang didukung revolusi teknologi gelombang pertama: layanan siaran televisi. Namun kini, sejak hadirnya internet pada era kontemporer, perubahan demi perubahan pun terus bergulir secara cepat—terutama pascakrisis keuangan global pada 2008.

Lawrence dan Crawford (2019) pun mengungkapkan, ada empat tren dalam “hiperdigitalisasi budaya sepak bola” yang dapat dikenali: (1) Resistensi budaya terhadap Murdochization tayangan dan berita sepak bola; (2) Integrasi ‘Internet of things‘ (IoT) di setiap level industri sepak bola; (3) Naturalisasi komunikasi digital; dan (4) Deteritorialisasi.

Pertama, resistensi budaya terhadap Murdochization. Istilah Murdochization diciptakan David, Kirton, dan Millward (2017) untuk menggambarkan konsekuensi budaya, ekonomi, dan politik terkait dengan migrasi hak siar sepak bola para elit di Inggris; dari semula gratis menjadi berbayar melalui skema layanan berlangganan di bawah naungan perusahaan Sky Sports milik Rupert Murdoch. Rupert Murdoch merupakan pemilik salah satu perusahaan media terbesar dan paling berpengaruh di dunia, News Corporation

Sejak pembentukan EPL pada 1992, Murdochization memungkinkan sepak bola di Inggris dan Eropa untuk mereproduksi dirinya secara masif sebagai pengendali utama. Pasalnya, mereka dapat hadir di mana-mana melalui tayangan sepak bola nyaris di seluruh dunia. 

Namun pada 2016, erosi atas hegemoni Sky Sports  mulai mencuat ke permukaan. Saat itu, untuk pertama kalinya, Sky Sports melaporkan penurunan angka tontonan EPL. Adanya penurunan tersebut pun bukan dalam arti menurunnya popularitas sepak bola. Penurunan tersebut justru gejala hiperdigitalisasi dan sekaligus bentuk perlawanan terhadap Murdochization itu sendiri.

Resistensi terhadap Murdochization juga ditandai dengan masuknya penyedia layanan lain untuk sama-sama bersaing dalam pasar siaran EPL. Mulai dari BT Sport, ITV Digital, Setanta Sports, sampai dengan ESPN. Belum lagi situs web streaming tidak resmi yang biasanya juga menayangkan ulang siaran melalui platform live-Instagram atau live-Facebook. Asal memiliki koneksi internet, ragam kanal tersebut benar-benar menawarkan siaran alternatif selain Sky Sports.  

Tidak jarang, penyedia situs web streaming tidak resmi merupakan para penggemar sepak bola itu sendiri. Dalam logika utama industri sepak bola, tindakan penggemar semacam itu jelas bertentangan. Bahkan itu bisa pula dikatakan sebagai bentuk perlawanan. 

Kini penggemar sepak bola tak ubahnya konsumen komoditas logo bermerek tertentu; yang mereka inginkan adalah akses tak terbatas, tak peduli barang itu palsu atau asli. Dalam konteks ini, penggemar sepak bola hanya mengambil peluang yang diberikan teknologi media baru kepada mereka; akses tayangan sepak bola dengan cara yang lebih mudah dan, tentu saja, lebih murah.

Kedua, Integrasi ‘Internet of Things’ (IoT) di setiap level industri sepak bola. Internet of Things adalah istilah untuk menjelaskan peningkatan tren gadget yang saling berinterksi dan saling mengontrol  satu sama lain. Dalam konteks sepak bola, contoh paling jelas penggunaan IoT adalah analisis kinerja pemain melalui “wearable tech”. 

Perangkat “wearable tech” perlu diprogram dengan algoritma tertentu hingga dapat mengukur setiap aspek kinerja pemain sepak bola; mulai dari jarak tempuh pemain, detak jantung, bahkan hingga intensitas penyelamatan penjaga gawang. Kemudian data tersebut dikirim ke pelatih melalui gawai dan dapat terlihat secara realtime. 

Tidak hanya pemain, IoT juga menggeser praktik budaya dan konsumsi di antara para penggemar sepak bola. Perusahaan neoliberal pun bereaksi dengan potensi hiperdigitalisasi IoT tersebut. Misalnya, melalui Smart Stadia yang mengacu pada integrasi sistem digital pihak ketiga yang dibuat khusus dan komprehensif dalam stadion sepak bola. 

Terobosan Smart Stadia telah merevolusi pengalaman match day bagi penggemar sepak bola. Pasar global untuk Smart Stadia pada tahun 2017 adalah sekitar $5 miliar dan diperkirakan akan tumbuh menjadi $17 miliar pada 2022 (Market Research Future, 2017).

Smart Stadia memungkinkan sejumlah inovasi; mulai dari pembelian tiket berbentuk kode QR yang dapat dipindai penonton di pintu masuk stadion hingga data statistik dan taruhan dalam pertandingan. Selain itu, Smart Stadia juga memungkinkan adanya penggunaan teknologi e-wallet berbasis aplikasi tertentu untuk mengintegrasikan tiket dengan aneka fasilitas di dalam stadion. 

Contohnya, penonton dapat memesan makanan/minuman dari gerai yang tersedia di area stadion dan pesanannya bakal diantar langsung ke tempat duduk mereka. Saat ini, Smart Stadia hanyalah konfigurasi ulang mode produksi kapitalis. Inti dari konfigurasi ulang itu pun tetap sama yakni gagasan “konsumsi praktis”.

Ketiga, naturalisasi komunikasi digital. Adapun yang menjadi fokus di sini hanya pada soal perubahan sifat interaksi sosial saja. Bentuknya adalah ragam bentuk ‘baru’ komunitas fandom melalui forum daring untuk terhubung dengan sepak bola. Alhasil obrolan seputar sepak bola dapat terjadi kapan saja, tidak peduli itu siang atau malam. Dan itu semua yang difasilitasi pekembangan internet.  

Ruang-ruang ‘baru’ tersebut jelas menantang gagasan tradisional tentang fandom. Apalagi sekarang tidak mungkin untuk menyangkal keberadaan ponsel pintar dan keberadaan media sosial. Misalnya, keberadaan Facebook, Twitter, dan WhatsApp yang memungkinkan pengguna untuk berbagi dan mengonsumsi konten terkait sepak bola; kapan saja dan di mana saja.

Dengan begitu, kini komunikasi digital bukan lagi forum sebagian kecil penggemar semata. Kini seluruh penggemar dapat berinterkasi satu sama lain melalui berbagai media. Pada gilirannya, yang berubah tidak hanya sifat interaksinya saja, tetapi juga bagaimana konten diproduksi dan dikonsumsi.

Misalnya saja Podcast sepak bola. Media tersebut muncul sebagai cara ‘baru’ untuk mengonsumsi berita dan analisis sepak bola. Podcast diproduksi, diedit, dan diterbitkan oleh penggemar dengan pengetahuan teknis yang kompeten. Tren ini terlihat misalnya dari kanal YouTube “COPA90” (Inggris) yang memiliki 1,29 juta subscriber atau “Ruang Taktik” (Indonesia) dengan 260 ribu subscriber.

Terakhir, Keempat, adalah deteritorialisasi. Tentu saja, deteritorialisasi bukan sebuah istilah baru. Istilah deteritorialisasi sudah digunakan sejak lama dan mengacu pada melemahnya koneksi spasial dari praktik budaya, identitas, produk, dan komunitas. Internet dinilai sebagai salah satu faktor penyebab utamanya.

Internet telah mendemokratisasi akses ke sepak bola. Tak ayal, klub kurang terkenal seperti AFC Wimbledon (klub sepak bola London yang bermain di kasta keempat Liga Inggris) sekalipun dapat memiliki penggemar daring. Basis penggemarnya bahkan dapat merentang sampai ke Amerika, karena adanya saluran Youtube “VlogBrothers”. Kasus lainnya, ada penggemar Persib Bandung di Negara Malaysia karena keberadaan grup Facebook.

Kasus deteritorialisasi lebih menarik dapat disimak dari kisah Huang Wenbin. Dia merupakan penggemar sepak bola dari Tiongkok. Pada 2017, dia melakukan perjalanan pulang-pergi sejauh 12.000 mil untuk mengunjungi tim kesayangannya, Runcorn FC Halton (klub sepak bola yang bermain di North West Counties League, kasta kesembilan Liga Inggris). Huang mencintai Runcorn FC Halton karena ia pun manajeri klub itu di game Championship Manager 01/02 (sekarang Footbal Manager) (Pandit Football, 2017).

Dalam konteks ini, follower Instagram Persib Bandung pun dapat menjadi contoh. IG Persib dapat mengumpulkan 5,7 juta follower, lebih banyak dari Nottingham Forest (klub EPL yang pernah juara UCL dua kali) yang hanya memiliki 329 ribu follower (0,05% dari follower Persib). Kasus lain adalah kepindahan Pratama Arhan ke Tokyo Verdy (Klub sepak bola asal Tokyo yang bermain di kasta kedua J-League). Setelah kedatangan Arhan, follower Isntagram Tokyo Verdy naik menjadi 473 ribu dari sebelumnya yang hanya 28 ribu follower.

Dengan cara ini, kita dapat memahami bagaimana hegemoni klub-klub besar Eropa, yang sebagian besar dimungkinkan oleh TV satelit digital, dapat ditantang melalui penggunaan teknologi dan platform digital internet yang efektif. Tren hiperdigitalisasi semacam itulah yang menggeser praktik budaya fandom sepak bola. Televisi sebagai penyiar arus utama ditantang oleh layanan streaming internet–baik itu yang legal maupun ilegal.

Komunikasi digital fans pun semakin terbuka lebar dengan tumbuh-kembangnya platform media sosial. Fenomena tersebut memungkinkan kita untuk mempertanyakan ulang makna fandom. Kampanye Support Your Local Club seolah tak lagi bergema. Hiperdigitalisasi telah membuat materi spasial menjadi usang – mengingat ikatan, afiliasi, identitas, fandom, dan sebagainya pun dapat didefinisikan secara digital. 

Fenomena semacam itulah yang sangat memungkinkan penduduk Patemon untuk mengikuti Liverpool FC hanya dari rumah. Caranya bisa melalui berlangganan streaming pertandingan langsung, maupun melalui pranala yang didapat secara ilegal di grup Telegram. Selain itu, berpartisipasi dalam diskusi seputar perkembangan transfer Darwin Nunez dari SL Benfica dengan sesama Kopites melalui space-Twitter dan grup Facebook pun menjadi mungkin. Begitu pula dengan berbagi momen gol terbaik Divock Origi melawan Barcelona FC melalui status-WhatsApp atau storyInstagram. (BYK)

Referensi

David, M., Kirton, A., & Millward, P. (2017). “Castells, ‘Murdochization’, economic counterpower and livestreaming”. Convergence, 23(5), 497–511.

Firdaus, S. (2017). Kisah Nyata Nostalgia Sebenar-benarnya dengan Championship Manager. Pandit Football. Tersedia di https://www.panditfootball.com/cerita/210265/SFS/171022/kisah-nyata-nostalgia-sebenar-benarnya-dengan-championship-manager.

Lawrence, S., & Crawford, G. (2019). Digital football cultures: Fandom, identities and resistance. Routledge.

Market Research Future. (2017). Smart Stadium Market Research Report- Global Forecast to 2022. Tersedia di ww.marketresearchfuture.com/reports/smart-stadiummarket-2673.

ZenRS. (2022). Tak Ada Lagi pandit. Pandit Football. Tersedia di https://www.panditfootball.com/editorial/214667/ZRS/220610/tak-ada-pandit-lagi?fbclid=IwAR3_DgECAb6UoXy6JnYluTPZ7fVAl2KihMBRyWpX4L4ixnqa9TxoFvgsTB8.

-Ilustrasi: http://sportspickle.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.