Trilogi Sajak kepada Kawan

Spread the love

Oleh Ardhiatama Purnama Aji

Caca

 

Adalah setangkai bunga di sela-sela gurun nestapa,

Kala senja dienyahkan kegelapan semenjana.

Riuh gemuruh dendam dijamu ia

Dengan selembut-lembut kata.

 

Dan Caca adalah sependar cahaya di tengah lautan

Yang menuntun perahu

Seberangi sendu,

Belah ombak pilu.

 

Semarang, 10 Januari 2019

 

 

Hanya Sebuah Sajak, Kawan

Kepada Chasanah Nur Syafira

 

Adalah Sindoro, ketika kehampaan

Menggamitku dan menuntunku

Menyusuri punggungmu nan berbatu.

 

Dinginmu, dingin ini

Di tepian garbamu, lelah ini

Tiada kurasa lagi.

 

Kupandang kawan-kawanmu, Si Merbabu dan Si Merapi.

Di bawahnya, kawanku berada,

Yang kelak kulihat batang hidungnya.

 

Dalam naunganmu, Tuhan…

Terhenyak jiwaku

Oleh kebesaran-Mu.

 

Semarang, 13 Desember 2018

 

 

Pijakan Terakhir

Inspirasi dari dan kepada Chasanah Nur Syafira

 

Pagi di ujung tahun

Saat udara Dieng memperkaya dingin

Dan embun bergumul basahi kulit daun

Aku tenggelam dalam setiap tetes embun

 

Di pucuk hamparan tanah ini

Mega-mega melemparkan jala

Menyergap jiwa ini

Sebelum silam dimakan embun pagi

 

Deze Dieng plat is bekend

Het wil ons betoveren

Met de schoonheid van den morgen

 

Sikunir menjadi akhir sebuah perjalanan

Ketika angka-angka kalender meleleh perlahan

Dan aku terima yang lalu sebagai ingatan

 

Semarang, 31 Desember 2018

 

 

Ardhiatama Purnama Aji, Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Negeri Semarang 2018

 

-Ilustrasi: upload.wikimedia.org

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.