Tubuh Perempuan dalam Koran

Spread the love

Dunia itu double standard ya? Ketika perempuan menjual tubuhnya disebut amoral. Tapi banyak “pihak” justru mempergunakan tubuh perempuan sebagai alat dagang. Salah satunya adalah koran.

Aku tidak menyadari. Bahkan parahnya, sama sekali tidak tahu jika koran juga mengomersialisasikan tubuh perempuan.  Untungnya hal itu cepat kuketahui. Dan itu terjadi saat aku magang di koran RS. Barangkali, jika terlambat barang beberapa waktu, aku akan tercebur dalam dosa besar tiada ampun. Padahal memaafkan diri sendiri bukanlah perkara mudah.

Ketika itu, Pemimpin Redaksi (Pemred) koran RS memperkenalkan kami, para calon wartawan magang, tentang apa dan bagaimana kerja dalam sebuah media. Saat itu, kami memang tidak begitu rinci diberi penjelasan. Akan tetapi, dari situ kami mendapat jawaban atas pertanyaan apa dan bagaimana.

Pemred menjelaskan bahwa para wartawan magang harus menulis setiap hari. Paling tidak satu berita atau menulis untuk kolom bernama “Sosok”. Dari namanya, mungkin segera terbayang maksud kolom tersebut apa. Satu kolom yang berisi “sosok-sosok” inspiratif atau sejenisnya. Tapi ternyata bukan itu maksudnya.

Sungguh. Saat itu, telingaku mendengar sebuah tuturan yang amat mengejutkan. Sang pemred memberi syarat bahwa “sosok-sosok” yang dimuat dalam kolom “harus perempuan, cantik, kalau bisa tidak pakai kerudung”.

Tidakkah syarat itu mengusik telingamu? Atau malah memang jamak dan aku yang terlalu mendramatisir? Dari pernyataan pemred tersebut, aku melihat bahwa tubuh dalam pembahasan ini adalah fisik perempuan. Dan itu dipergunakan betul untuk mempercantik halaman sebuah koran. Hal tersebut tidak terlihat buruk jika kamu melihat ini sebagai kelebihan seorang perempuan. Tetapi, tubuh perempuan dalam kasus tersebut dianggap lebih memikat dan lebih mudah dikontrol para pemilik modal dibandingkan tubuh laki-laki (Surur dan Anoegrajekti, 2004).

Barangkali memang si perempuan yang mengizinkan tubuhnya dipajang. Namun tidak semua perempuan memiliki kesadaran bahwa tubuhnya sedang “dipakai” untuk menarik pembaca koran. Karena itu, persetujuan “penggunaan tubuh” dari seorang perempuan belum tentu tidak bias. Dan si perempuan belum tentu juga telah dibekali kesadaran soal itu secara utuh.

Hal tersebut sangat mungkin terjadi. Sebab budaya hari ini memang penuh dengan dominasi laki-laki. Tak ayal, perempuan pun cenderung memiliki kesadaran semu atas otonomi tubuhnya.

Benar bahwa kini perempuan tidak lagi dikurung dalam ruang domestik semata. Kini perempuan dapat melangkah keluar, ke ruang-ruang yang selama ini dikuasai laki-laki. Tetapi tetap saja, perempuan dan tubuhnya masih diobjektifikasi sedemikian rupa.

Aku tidak sedang mengatakan bahwa menjadi perempuan cantik dan memesona adalah kesalahan perempuan. Aku juga tidak sedang membahas bahwa perempuan dilarang bersolek dan lain sebagainya. Bukan. Sama sekali bukan itu maksudnya.

Aku hanya coba menunjukkan bahwa ada yang sedang menguasai tubuh perempuan dan mempergunakannya untuk kepentingan di luar tubuh perempuan. Dalam hal ini adalah media (koran). Mungkin ungkapan itu terlalu kasar. Namun aku tidak tahu kalimat halus apa yang dapat menggantikannya.

Kolom “Sosok” memang memuat biografi pendek para perempuan inspiratif. Tapi mari kembali pada syarat kolom tersebut. Kata “berprestasi”, “pintar”, “berbakat”, tidak disebutkan sama sekali. 

Ketiadaan kata-kata tersebut adalah tanda. Kolom “Sosok” memang tidak berfokus pada kemampuan dan pencapaian perempuan. Namun justru lebih menekankan pada fisik perempuan. Karena itu prestasi hanya gincu. 

Lagi pula, jika memang hendak membicarakan achievement, mengapa justru foto perempuan berpose menarik atau “menggairahkan” yang dipakai? Padahal seharusnya ya foto memegang piala/medali. Atau, bisa juga saat perempuan sedang membaca buku, misalnya. 

Tubuh perempuan lebih menarik ketimbang cara berpikirnya. Konstruksi semacam itu sudah lama eksis. Awalnya sejak, dalam konteks Indonesia, terjadinya penghancuran gerakan perempuan era 1960an yakni Gerwani.

Dalam buku Penghancuran Gerakan Perempuan, Saskia Wieringa menyebut bahwa Gerwani merupakan gerakan perempuan paling berpengaruh pada masa pemerintahan Soekarno. Tidak lama berselang, meletus peristiwa G30S. Bersama beberapa organisasi lain, Gerwani turut disikat rezim pemerintahan yang baru, Soeharto. Saat itu, Gerwani mendapat banyak fitnah keji. Mereka dilabeli sebagai pelacur, setan-setan cabul, pembunuh, dan lain sebagainya.

Ada satu contoh fitnah keji terhadap Gerwani. Mereka dituduh “telah mempermainkan para jenderal  dengan menarik kemaluannya dan menggosok-gosokkannya ke vagina mereka” (AB, 11 Oktober 1965).

Pada hari yang sama, koran Berita Yudha juga melaporkan bahwa tubuh para jenderal dimutilasi, “matanya dicungkil, beberapa jenderal penisnya dipotong.” (hal.446). Dan pelakunya ialah Gerwani.

Fitnah keji tersebut menyembunyikan fakta bahwa justru banyak anggota Gerwani yang diperkosa dan disiksa secara tidak manusiawi. Bahkan ada yang mendapatkan siksaan berupa dimasukkannya sebuah botol ke dalam vagina mereka.  

Sejak saat itu, budaya mengonstruksi makna perempuan secara negatif bermula.  

Aku dan banyak perempuan menjadi bertanya-tanya. Walau tidak ada yang peduli dengan pertanyaan kami. Mengapa harga seorang perempuan terletak hanya dari citra yang melekat pada tubuh dan seksualitasnya? Dan bukan dari isi kepala dan kemampuannya? Mengapa hal  seperti hanya dilekatkan pada seorang laki-laki?

Mengapa yang utama hanya kecantikan dan kemolekan? Mengapa bukan bagaimana cara mereka berpikir?

Padahal Gerwani bisa jadi contoh. Mereka berjuang agar perempuan dapat berdikari, merdeka, dan setara dalam ranah politik. Namun naasnya jasa mereka justru dilupakan begitu saja. Kiprah Gerwani dihancurkan oleh fitnah yang melekat dengan tubuh.

Ingat! Perempuan bukan bunga layu di jambangan. Perempuan juga manusia yang memiliki kehendak dan kuasa.

Sialnya konstruksi keliru tersebut masih terus terpelihara. Salah satunya melalui keberadaan kolom “Sosok”.

Kolom ini ditempel pada halaman pertama koran cetak. Di sana tampak foto perempuan dengan paras cantik nan “menjual”. Untuk apa? penyegar halaman. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.