Urbanisasi dalam Novel “Ulid” (1): Aliran Orang dan Barang serta Perubahan Sosiospasial

Spread the love

Esai Sastra Bosman Batubara

 

“,… masalah keuangan di rumah tentu saja bersumber dari negeri seberang sana” (Mahfud Ikhwan, 2016: 401)

Latar Belakang Pedesaan atau Urbanisasi?

Berbeda dari pendapat-pendapat yang melihat novel Ulid karangan Mahfud Ikhwan (2016) sebagai novel yang berkisah dengan latar belakang desa, dengan memakai urbanisasi (pengotaan) sebagai kerangka analisis, saya melihat Ulid sebagai novel yang memiliki latar belakang di desa dan di kota. Atau, lebih tepat sebagai novel yang menceritakan bagaimana urbanisasi berlangsung.

Pendapat Ulid adalah novel berlatar belakang pedesaan sering saya dengar, baik dalam diskusi kopi darat bedah novel, melalui dunia maya, maupun tulisan dari kritikus sastra yang membedah novel itu. Pada dua kali kesempatan menghadiri diskusi novel Ulid, saya mendengar pendapat semacam itu muncul. Pertama, diskusi di Yogyakarta pada 2014. Kedua, diskusi di Semarang pada 2019. Pendapat itu mengemuka dan orang atau pembaca membandingkan latar belakang pedesaan yang ditampilkan dalam Ulid dan novel Ahmad Thohari seperti Ronggeng Dukuh Paruk. Jejak digital yang menyebutkan Mahfud Ikhwan sebagai pengarang cerita berlatar belakang desa juga terarsip dalam sebuah wawancara di Youtube (Mega, 2019). Dari kalangan kritikus sastra, dalam tulisan pengantar untuk cetakan kedua Ulid, Katrin Bandel (2014: xi dan xv) memakai istilah yang bisa dipertukarkan. Pada satu kesempatan ia memakai istilah “ber-setting di desa,” pada lain kesempatan ia menyebut “ber-setting pedalaman”.

Secara eksplisit, karena novel Ulid sudah dicetak dua kali, dalam tulisan ini saya menegaskan versi yang saya pakai untuk analisis adalah cetakan kedua pada 2016 oleh Pustaka Ifada, Yogyakarta. Mahfud Ikhwan, sebagai pengarang, selain telah menelurkan Ulid sebagai novel pertama, juga telah menulis novel kedua Kambing dan Hujan yang memenangi Sayembara Novel DKJ 2014 dan novel ketiga Dawuk yang memenangi Kusala Sastra Khatulistiwa 2017.

Novel Ulid memang memiliki latar (setting) pedesaan. Di sebuah desa bernama Lerok, di sekitar Tuban dan Rembang, dan hanya memiliki jarak sekitar 20 kilometer meter dari jalan raya pantai utara (pantura) Jawa. Desa Lerok ditampilkan sebagai desa yang memiliki berbagai produk pedesaan seperti bengkuang dan batu gamping yang sudah dibakar di jubung (tempat pembakaran batu gamping) untuk dijual ke kota sebagai bahan bangunan yang berfungsi menyemen elemen-elemen sebuah bangunan. Desa Lerok diceritakan sebagai satu desa Jawa yang berlokasi di sekitar hutan dengan kepemilikan tanah yang diklaim oleh Perhutani. Dalam teks-teks mengenai pedesaan, hutan jati, dan konflik agraria di Jawa, desa-desa di sekitar lahan yang diklaim Perhutani sering kali disebut desa hutan (Peluso and Vandergeest, 2001; Peluso, 2011).

Ulid, yang menjadi judul novel, adalah nama seorang anak Desa Lerok. Melalui pengalaman hidup Ulid, pengarang mengisahkan perubahan-perubahan di Desa Lerok. Hidup Ulid adalah titik keberangkatan dari penyampaian atau penceritaan kondisi pedesaan Jawa dalam novel Ulid. Latar waktu dalam novel berada antara pertengahan 1980-an hingga 1990-an. Pada 1998, masa turunnya Suharto yang diikuti Reformasi, Ulid berumur 17 tahun.

Cerita dibuka dengan adegan Tarmidi (ayah Ulid) yang suatu hari pulang cepat dari pekerjaan sebagai guru sekolah agama (madrasah). Mereka sekeluarga tergopoh-gopoh masuk-keluar hutan karena kedatangan sinder (pegawai, pengawas) Perhutani. Mereka harus menyembunyikan kayu bakar yang akan mereka pakai untuk membakar batu gamping di jubung; sebagian kayu itu mereka ambil dari hutan Perhutani. Pada saat itu, Ulid yang juga ada di hutan tepian desa bersama kedua orang tuanya, masih berumur tiga atau empat tahun, dan untuk kali pertama melihat langsung sinder yang ceritanya sering ia dapatkan dari kedua orang tuanya.

Pengalaman masa kecil lain dari tokoh Ulid yang dapat kita temukan dalam novel Ulid, misalnya, adalah mengikuti panen bengkuang, kehidupan anak di pedesaan Jawa dengan pemeluk agama Islam yang kuat dengan masjid sebagai salah satu pusat kehidupan orang desa, masa di TK dan SD, perubahan tokoh Ulid dari pembenci menjadi pencinta kambing, kesenangannya mendengarkan sandiwara radio sehingga memperoleh banyak inspirasi tentang kehidupan, masa SMP dan SMA, dan kemudian hidupnya di Malaysia sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI). Bagaimana novel Ulid dibangun dalam kerangka waktu memperlihatkan latar dengan durasi waktu yang mendapatkan perhatian paling panjang adalah pedesaan, dalam hal ini Desa Lerok. Maka tidaklah keliru rasanya jika para pembaca, seperti yang saya sampaikan, menyebut Ulid sebagai novel berlatar pedesaan – atau pedalaman, dalam bahasa Katrin. Sejak cerita dimulai, ketika Ulid berumur tiga atau empat tahun, hingga lulus SMP (atau kira-kira berumur 15 tahun), pedesaan adalah latar ruang novel Ulid. Setelah itu Ulid melanjutkan pendidikan ke SMA negeri di Pasisiran di pantura Jawa, yang dalam Ulid disebut sebagai kota. Ketika sudah menyelesaikan ujian akhir SMA, ia berangkat ke Malaysia, tanpa sempat menunggu ijazah dan pengumuman bahwa ia diterima di Universitas Brawijaya melalui skema penelusuran minat dan kemampuan (PMDK), satu jalur masuk universitas negeri pada masa itu tanpa melalui ujian masuk perguruan tinggi.

Kedua babak terakhir dalam novel Ulid: fase SMA Ulid dan perantauannya di Malaysia sudah bukan berlatar Desa Lerok lagi. Tentu saja cerita tentang Desa Lerok masihlah muncul di sana-sini dalam latar cerita non-Desa Lerok. Meski secara keseluruhan kedua sublatar itu memiliki porsi yang termasuk kecil atau pendek dalam novel Ulid, ia ada di sana. Dari fakta itu, saya ingin mengajukan satu pendapat dan cara melihat yang berbeda dari para pembaca lain: Ulid bukanlah novel berlatar belakang pedesaan (belaka), melainkan juga perkotaan.

Saya akan fokus ke latar itu. Alih-alih mengamini berbagai pandangan yang saya sebutkan tadi, saya akan menambahkan satu elemen yang saya tangkap dari novel Ulid. Bukan latar pedesaan yang kental yang tampil dalam novel Ulid, melainkan proses pengotaan di Jawa, terutama selama dua dekade terakhir pemerintahan Orde Baru (1965/7-1998). Pada bagian berikutnya, untuk mendukung pendapat bahwa Ulid bukanlah novel berlatar belakang desa, saya akan memperlihatkan bagaimana latar belakang desa dan kota muncul dalam Ulid. Bagian ini akan susuli penjelasan tentang lensa analisis yang akan saya pakai: urbanisasi. Bagian berikutnya akan memperlihatkan bagaimana proses pengotaan bekerja dalam Ulid, dan bagian penutup memperlihatkan apa yang khas (kesituasian) dari proses pengotaan itu.

Desa dan Kota dalam “Ulid”

Desa Lerok, sebagai bagian yang tipikal dari pedesaan Jawa, digambarkan pada bagian-bagian awal novel Ulid sebagai desa dengan penduduk miskin. Warga desa kesulitan ekonomi, sehingga harus meminjam uang ke sana-kemari untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Infrastruktur di desa, seperti jalan, sanitasi, dan listrik sangat terbatas. Pada 1980-an, misalnya, jalan ke Lerok belum diaspal, sanitasi yang mereka pakai adalah toilet “helikopter” yang melayang di atas tubuh air dengan buangan langsung ke anak-anak sungai atau ke sungai-sungai. Listrik untuk menghidupkan televisi yang waktu itu ada tiga di Lerok masih menggunakan aki. Sampai akhir novel, Lerok tidak memiliki satu pun warga yang pernah mengenyam kuliah di salah satu universitas negeri di Indonesia. Mata pencaharian warga adalah menanam bengkuang di tanah tegalan yang terbatas, menanam jagung di tanah-tanah desa di tepi hutan-hutan Perhutani yang kadang-kadang berpagar, membakar batu gamping di jubung-jubung dengan kayu bakar yang sangat sering mereka ambil dari hutan-hutan Perhutani.

Kalau ditautkan dengan kondisi riil pedesaan di Jawa, sebenarnya membaca novel Ulid membuat kita mengenali pedesaan Jawa bagian utara pada dua dekade terakhir era pemerintahan Orde Baru. Atau, bahkan lebih spesifik, Desa Lerok adalah salah satu desa tepi hutan Perhutani, sebuah konteks yang hanya ada di Jawa dan Madura. Penelitian-penelitian agraria dan pedesaan mencatat ada sekitar 6.000 desa hutan Perhutani di Pulau Jawa dan Madura; di kedua pulau itu, Perhutani menguasai lahan sekitar 2,5 juta hektare (Diantoro, 2011; Peluso, 2011).

Berikut secara singkat sejarah desa-desa hutan itu. Pada era kesultanan di Jawa, adalah VOC yang datang dan membangun kesepakatan dengan para sultan di Jawa untuk proses apropriasi kayu jati dari hutan-hutan Jawa. Selain untuk keperluan pembangunan kapal-kapal VOC, kayu jati dari Jawa juga memiliki banyak peminat di Eropa, terutama untuk kebutuhan perabotan. Proses apropriasi hutan Jawa berlangsung dengan menggunakan penduduk setempat sebagai tenaga kerja (Boomgaard, 1992). Jadi selain kayunya diapropriasi, penduduknya juga dieksploitasi sebagai buruh.

Pada ujungnya Pemerintah Hindia Belanda mendirikan jawatan kehutanan di Jawa. Pada era Indonesia, semua area yang pada fase sebelumnya diklaim pemerintah Hindia Belanda, diwariskan kepada Republik. Aset hutan, pengetahuan hutan modern atau yang lazim disebut scientific forestry, dan sistem kepengaturannya (conduct of conduct, governmentality), kemudian dikonsolidasikan di bawah perusahaan milik negara bernama Perhutani. Karena itulah, selalu terjadi ketegangan antara penduduk desa-desa hutan Jawa dan Madura dengan Perhutani. Di satu sisi, penduduk merasa sejak nenek moyang sudah tinggal di daerah-daerah tersebut dan memiliki hubungan sangat erat dengan hutan. Hutan adalah bagian dari hidup mereka; dari hutana mereka memperoleh kayu untuk membangun rumah, kayu bakar untuk membakar gamping di jubung-jubung seperti diceritakan dalam novel Ulid, atau sekadar menanam di lahan yang diklaim Perhutani. Di sisi lain, Perhutani merasa perlu sepenuhnya “mengontrol” akses dan atau kepemilikan terhadap tanah oleh penduduk di sekitar area yang dia klaim (Peluso, 2011). Proses perpindahan kontrol atas akses dan atau kepemilikan itu oleh pembelajar agraria sering disebut perampasan tanah. Perampasan tanah yang diawali VOC pada era kolonial, dengan demikian, masih terus berlangsung sampai sekarang, menginfus konteks pascakolonial desa-desa hutan di Jawa dan Madura, termasuk dalam skema ini adalah hutan Lerok dalam Ulid.

Oleh karena itulah, sebagai materialisasi dari kontrol Perhutani terhadap hutan di pedesaan Jawa, sinder atau pegawai pengawas, adalah sosok yang ditakuti oleh warga desa tepi hutan. Karena sinder bisa membuat hidup orang desa hutan Jawa dalam masalah, misalnya dijebloskan ke penjara dengan tuduhan sebagai pencuri kayu. (Bersambung)

 

– Ilustrasi: beritasatu.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.