Urbanisasi dalam Novel “Ulid” (4)

Spread the love

: Aliran Orang dan Barang serta Perubahan Sosiospasial

Esai Bosman Batubara

Proses Pengotaan: Aliran Orang dan Barang serta Perubahan Sosiospasial

Aliran orang keluar dari Desa Lerok, di satu sisi, terjadi karena tekanan kesulitan ekonomi di kawasan pedesaan. Harga bengkuang dan peminat batu gamping yang dibakar, dua komoditas utama Desa Lerok, makin hari kian turun. Pada akhir 1980-an, harga bengkuang jatuh sejatuh-jatuhnya. Para petani bengkuang tak berdaya menghadapi tekanan rantai distribusi pasar yang hadir di hadapan mereka melalui wajah para juragan bengkuang. Bengkuang sudah tak bersahabat lagi dengan orang Lerok. Bengkuang mereka kalah bersaing dari bengkuang dari Pare dan Kebumen. Meskipun tentu saja dalam pandangan orang Lerok, bengkuang dari Lerok tetaplah bengkuang paling enak sedunia. Komoditas batu gamping bakar juga begitu. Karena konflik yang makin terbuka antara warga desa dan para pegawai Perhutani dan antek-anteknya, Perhutani memperketat pengawasan terhadap hutan dan itu membuat orang Lerok makin kesusahan mendapatkan kayu bakar untuk membakar batu gamping. Dari kota, produksi semen meningkat dan itu secara nyata menggeser fungsi gamping bakar Lerok (Ikhwan, 2016: 132).

Di sisi lain, orang Lerok juga disedot oleh potensi mendapatkan uang di Malaysia dengan bekerja sebagai TKI. Malaysia sebagai tujuan perantauan bagi orang Lerok hadir pada saat yang tepat. Dalam kasus ini, proses pengotaan  berlangsung dengan bukan tatanan spasial di Desa Lerok yang berubah, melainkan orang-orangnya yang berpindah. Meskipun, seperti akan kita lihat nanti, aliran orang itu pada gilirannya menyumbang perubahan sosiospasial di Desa Lerok melalui kiriman-kiriman para perantau Malaysia.

Ulid menarasikan, pada awal-awal dekade 1980-an itu, hanya ada empat orang dari Desa Lerok yang merantau ke Malaysia. Meskipun rombongan awal itu tidak mewariskan cerita sukses sebagai perantau, dan malah justru lebih banyak mewariskan cerita ketakberhasilan seperti kena tangkap polisi Malaysia, kegentingan untuk keluar dari Lerok sudah tak tertahankan. Susul-menyusul, sejak itu, berombongan dengan dibantu para calo TKI, warga desa Lerok berbondong-bondong berangkat ke Malaysia. Pada 1990-an aliran orang itu sudah tak tertahan. Hampir setiap rumah memiliki wakil di Malaysia. Bukan hanya satu; seperti keluarga Tarmidi, tiga sekaligus: Tarmidi, Kaswati, dan belakangan Ulid.

Aliran orang pergi ke dan datang dari Malaysia itu beriringan dengan aliran barang yang masuk ke Lerok. Televisi makin banyak; dari tiga pada 1980-an awal menjadi lima pada 1980-an akhir dan menjadi 31 pada 1990-an awal. Para anak muda sekarang lebih senang menonton televisi daripada beribadah di masjid. Dalam hitungan satu generasi, masjid bukan lagi pusat kehidupan orang Lerok. Alih-alih ke masjid, di satu bagian, anak muda Lerok malah mulai mengenal film bokep. Generasi tua macam Kusnan, guru madrasah penerus Tarmidi, terpaksa mengelus dada menyaksikan betapa makin sulit menemukan anak-anak muda Lerok di masjid. Orang seperti Ulid yang semula adalah penggemar sandiwara radio yang sangat fanatik harus merasa kagok ketika salah seorang perempuan pengisi suara yang sangat ia kenal suaranya melalui sandiwara radio, di serial televisi suara yang sama muncul dari mulut tokoh anak laki-laki. Para ibu-ibu yang dulu memasak menggunakan kayu bakar, setelah Perusahaan Listrik Negara (PLN) masuk ke Lerok, pelan-pelan makin akrab menggunakan peralatan memasak yang menggunakan listrik seperti mejikjer. Aliran ringgit Malaysia membuat mereka mampu membayar semua kebutuhan hidup yang sudah berubah itu.

Aliran orang dan barang tentu saja sampai titik tertentu mengakibatkan perubahan-perubahan sosiospasial di desa seperti Lerok. Aliran deras kiriman uang dari para dermawan Malaysia, sebutan orang Lerok terhadap warga yang merantau ke Malaysia dan berderma untuk membangun masjid desa atau berbagai fasilitas desa yang lain, membuat masjid di Desa Lerok makin besar. Meski ada kontradiksi di sana; penampilan fisik masjid yang membesar dan bagus justru terjadi bersamaan dengan penurunan minat orang untuk ke masjid. Bentang alam Lerok tak terelakkan menjadi bagian dari proses perubahan itu. Aliran uang dari Malaysia dengan cepat mengubah infrastruktur jalan desa menjadi jalan-jalan yang dicor semen, rumah-rumah baru dari batu terus dibangun. Jarak ke Pasisiran yang semula terasa jauh, dengan motor GL Pro yang dibeli dengan uang dari Malaysia, ternyata hanya berjarak tempuh 20 menit. Lerok menggeliat. Bengkuang dan gamping bakar menghilang, ringgit Malaysia datang.

Di sisi lain, Lerok tetaplah satu situs ekstraksi atau lansekap operasional untuk memenuhi kebutuhan kota. Selain sebagai sumber tenaga kerja yang mengalir deras ke Malaysia, bentang alam Lerok juga berubah diisap oleh kota. Misalnya, meskipun dengan ratapan yang sangat berat dari sang pemilik, bukit-bukit gamping di Watuduwur akhirnya harus ditambang demi membayar utang akibat membiayai pemilik tanah itu berangkat ke Malaysia. Watuduwur, tiga bukit kapur itu, yang menyimpan kenangan para penggembala kambing Desa Lerok, berubah menjadi kubangan-kubangan berisi air karena batunya sudah ditambang untuk kepentingan industri keramik, memenuhi selera orang-orang kota. Sebagai bentang sosiospasial, Lerok menjadi sumber buruh migran, dibentuk menjadi pusat ekstraksi, dibuat menjadi operasional. Manifestasi konkret dari urbanisasi yang meluas.

Kesituasian Urbanisasi

Novel Ulid, dengan demikian, dapat dibaca sebagai rekaman dari sebuah proses pengotaan, yang menghadirkan desa dan kota sebagai ruang sosiospasial yang dialektis dan relasional. Dialektis dan relasional karena keduanya tidak bisa dilepaskan, keduanya berhubungan melalui setidaknya aliran orang, uang, dan barang. Saling membentuk. De facto dalam Ulid, kita tidak bisa membicarakan Desa Lerok, tanpa membicarakan Malaysia. Sebaliknya, sangat masuk akal kita tidak akan bisa melihat semua pembangunan proyek konstruksi di Malaysia, kerja-kerja perawatan dalam rumah-rumah tangga orang Malaysia, tanpa membicarakan orang-orang dari pedesaan Jawa seperti Lerok. Keduanya ada, saling bertaut, mengoproduksi apa yang hari ini kita kenal sebagai Lerok dan apa yang hari ini kita kenal sebagai Malaysia, dan banyak hal di antara keduanya, misalnya uang dan barang.

Urbanisasi adalah proses yang terjadi di setiap tempat di planet bumi. Society has been completely urbanized, demikian Henri Lefebvre abad XX yang lalu (Lefebvre, 2014 [1970]: 36). Para akademisi kemudian menggali ulang teori-teori urbanisasi dan kembali menemukan relevansinya pada dekade kedua abad XXI ini. Bumi seutuhnya telah mengalami urbanisasi – has been completely urbanized! Sebagai proses level planet, urbanisasi sering kali dikerangkai sebagai proses planetary urbanization (Brenner, 2014). Hampir tak ada ceruk di planet bumi yang tidak mengalami proses pengotaan; dari Lerok sampai ke Malaysia. Mulai dari hutan jati Jawa sampai ruang angkasa yang pelan-pelan ditemukan dan didefinisikan.

Namun, layaknya semua proses global, selalu saja ada situasi lokal yang membentuk. Dalam kasus Ulid, urbanisasi terutama dikendalikan oleh dua faktor. Pertama, penekan dari kawasan pedesaan berupa kesulitan ekonomi yang berakar dari kesulitan akses terhadap lahan yang, kalau kita runut dari sejarah hutan jati di Jawa, berakar pada proses perampasan lahan pada era kolonial yang terus-menerus membentuk dan menapasi kondisi pascakolonial Jawa. Kedua, penarik berupa limpahan pekerjaan di Malaysia. Itu sangat berbeda, misalnya, dari urbanisasi di negara macam Prancis pada abad XIX, tempat teori-teori Lefebvre secara sosiospasial dan sosiotemporal berakar. Di Prancis abad XIX, proses pengotaan lebih disebabkan oleh industrialisasi; sektor industri menggeliat dan menyedot para petani pedesaan menjadi buruh industri (Lefebvre, 1996). Lerok, sebagai keping sosiospasial yang direkam dalam Ulid sebagai pedesaan Jawa terutama pada dua dekade akhir Orde Baru, mengalami proses pengotaan dengan akar panjang pada perampasan tanah era kolonial. Dengan kata lain, kalau di Prancis kekuatan utama penggerak urbanisasi adalah industrialisasi, di Lerok, atau Jawa secara keseluruhan, kekuatan utama penggerak urbanisasi adalah perampasan tanah.

Kota dan desa yang dialektis, yang dalam banyak pembacaan baik oleh pembaca novel, kritikus novel, maupun juga para pembelajar studi perkotaan dan agraria, banyak dikonsepsikan sebagai dualitas yang terpisah, dalam Ulid bisa dilihat atau dibaca sebagai satu totalitas. Di titik ini, melampaui banyak naskah penelitian ilmiah yang dibelenggu oleh kerangka sempit pengetahuan dan kebutuhan agar terkerjakan, novel Ulid menampilkan cerita lain dan darinya kita, pembaca, bisa melihat secara empiris, meskipun tentu saja sebagai fakta empiris dalam novel, apa yang bagi para ilmuwan lebih mirip dengan bayangan, susah dipegang: realitas sosiospasial yang begitu kompleks. Di titik ini, melalui Ulid, novelis Mahfud Ikhwan terasa selangkah lebih maju daripada para pembelajar perkotaan dan pedesaan. (Tamat)

 

Daftar Pustaka

Angelo H. and Wachsmuth D., 2015, “Urbanizing Urban Political Ecology: A Critique of Methodological Cityism”, Int J Urban Regional, 39 (1): 16-27.

Bachriadi, D. and Wiradi, G., 2013, “Land Concentration and Land Reform in Dindonesia” dalam Lucas, A. and Warren, C., eds., Land for the People: The State and Agrarian Conflict in Indonesia (pp.: 42-92), Ohio: Ohio University Press.

Bandel, K., 2016, Pengalaman Unik Membaca Ulid, “Kata Pengantar untuk Ulid”, cetakan kedua, Yogyakarta: Pustaka Ifada.

Boomgaard, P., 1992, “Forest Management and Exploitation in Colonial Java, 1677-1879”, Forest & Conservation History, 3691: 4-14.

Brenner, N., 2014, Implosions/Explosions: Towards A Theory of Planetary Urbanization, Berlin: Jovis.

Brenner, N. and Schmid, C., 2014, “The ‘Urban Age’ in Question”, dalam Brenner, N., ed., Implosions/Explosions: Towards A Theory of Planetary Urbanization (pp.: 310-337), Berlin: Jovis.

Brenner, N. and Schmid, C., 2015, “Towards A New Epistemology of the Urban”, City, 19 (2-3): 151-182.

Diantoro, T.D., 2011, “Quo Vadiz Hutan Jawa”, Wacana, 25(XIII): 5-26.

Harvey, D., 2014 [1996], “Cities or Urbanization?” dalam Brenner, N., ed., Implosions/Explosions: Towards A Theory of Planetary Urbanization (pp.: 52-66), Berlin: Jovis.

Ikhwan, Mahfud, 2016, Ulid, Yogyakarta: Pustaka Ifada.

Kusno, A., 2013, After the New Order: Space, Politics, and Jakarta, Honolulu: University of Hawai’i Press.

Lefebvre, H., 1996, “Industrialization and Urbanization” dalam Lefebvre, 1996, Writings on Cities, edited and translated by Kofman, E. and Lebas, E. (pp.: 65-85), Blackwell Publisher: Massachusetts.

Lefebvre, H., 2014 [1970], “From the City to Urban Society” dalam Brenner, N., ed., Implosions/Explosions: Towards A Theory of Planetary Urbanization (pp.: 36-51), Berlin: Jovis.

Marx, K. and Engels, F., 1986, A Critique of the German Ideology, URL: https://www.marxists.org/archive/marx/works/download/Marx_The_German_Ideology.pdf [diakses pada 25 Mei 2019].

Mega, S., 2019, Desa & Kambing bagi Mahfud Ikhwan, URL: https://www.youtube.com/watch?v=XSnN2V8seSo&feature=share&fbclid=IwAR0igxdS9HrXN5mL_GSs_H6sHpwrQPEXgfoHdB5VrAk4GmOsLEJAl8YjrwY [diakses pada 11 Juli 2019].

Peluso, N.L., 2011, “Emergent Forest and Private Land Regimes in Java”, The Journal of Peasant Studies, 38(4): 811-836.

Peluso, N.L. and Vandergeest, P., 2001, “Genealogies of the Political Forest and Customary Rights in Indonesia, Malaysia, and Thailand”, The Journal of Asian Studies, 60(3): 761-812.

U.N., 2018, 68% of the world population projected to live in urban areas by 2050, says UN. URL: https://www.un.org/development/desa/en/news/population/2018-revision-of-world-urbanization-prospects.html [diakses pada 11 Juli 2019].

 

Gambar: www.mediajabar.com

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.