Usik: Sepasang Sajak

Spread the love

Oleh Retno Wulan Ayu Saputri

 

Pemberontak Malam

 

Kembalikan namaku wahai manusia

Sampai sampai aku tidak bisa mengeja

Dunia ingin menghapusku

Aku takut diriku terungkap

 

Seramnya, penyendiri adalah aku

Kebohongan adalah nikmat dunia

Siapa yang ingin menjadi manusia hina

Emosional dan perasaan menggebu

 

Ayolah rindu ini tak bertepi

Sepi semakin menjadi teman jiwa

Tapi, aku tak mau

Pemberontak itu tidak asik

 

Nyanyian itu mengantar ke dalam impianku

Oh bunda, kutititp pesan ini pada TUHAN

aku butuh jeda, waktu terlalu menepikanku

tiada yang pasti, semua butuh kembali

 

 

Selayaknya Bagaimana

 

Negeri ini selayaknya makmur

Tempat padi tumbuh gemuk dan subur

Tapi, jika tirai-tirai disibak

Dilihat jelas rakyat bejubel dengan perut membusung

 

Tanpa daging di antara tulang tangan dan kakinya

Merangkak di bawah tahta tikus berdasi

Mengais iba, tangan menengadah menagih janji

Padahal sudah pasti tak akan ditepati

 

Negeri ini selayaknya kaya

Bertumpuk panen permata

Tapi, jika digali dalam, dalam lagi sampai jantung

Anak menangis meminta susu

 

Ibu terpaksa menyayat daging sendiri, dijual

Tuk membeli daging ayam di pasar

Apa sampai terpikir mampir ke toko kalung?

Negeri ini sepantasnya dicinta

 

Tapi masih banyak yang mendusta

Hendak membangun dia berkata

Hendak mengabdi, rencananya

Tapi ditipu dengan uang dia percaya

Walau dengan hati perih,

cinta saya tetap penuh dan harap saya masih utuh

 

Retno Wulan Ayu Saputri, Mahasiswi Pendidikan Sosiologi dan Antropologi Universitas Negeri Semarang 2018

 

-Ilustrasi: assets-a2.kompasiana.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.