Warisan Budaya Tangible dan Intangible di Desa Pegayaman

Spread the love

Sebagaimana manusia yang menghuni di suatu tempat, penduduk Desa Pegayaman pun memiliki budaya. Barang mungkin, kita tak bisa memungkiri bahwa budaya—sebagai sistem adaptif dalam evolusi hominid—merupakan hasil penyesuaian manusia terhadap lingkungan ekologi tertentu (Keesing, 1997). Maka, keberadaan aspek kultural atau budaya dalam kehidupan Desa Pegayaman adalah suatu keniscayaan.

Pun kehadiran orang Islam di desa ini yang merentang bertahun-tahun silam tentunya meninggalkan warisan budaya. Saya membagi warisan budaya itu menjadi dua, yakni budaya tangible (berwujud) dan intangible (tak berwujud).

Macam-Macam Warisan Budaya

Kategori yang saya lakukan ini merujuk kepada UNESCO (Kementerian Pariwisata, 2018). Menurut UNESCO, warisan budaya berwujud (tangible), dianggap sebagai warisan artefak fisik suatu kelompok atau masyarakat yang ditinggalkan sejak generasi di masa lampau. Lalu dipertahankan hingga sekarang, serta dilanjutkan demi kepentingan generasi mendatang. Contohnya seperti budaya bergerak (moveable cultural heritage), seperti lukisan, patung, dan manuskrip. Lalu warisan budaya tak bergerak (immovable cultural heritage), seperti monumen, situs arkeologis, dan bangunan bersejarah. Terakhir warisan budaya bawah laut (underwater cultural heritage), seperti kapal karam dan situs reruntuhan kota bawah laut.

Sementara warisan budaya tak berwujud (intangible), dianggap sebagai praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, atau keterampilan yang menjadi bagian warisan budaya di tempat tertentu.

Warisan Budaya di Pegayaman

Berdasarkan wawancara dengan Ketut Muhammad, proses ajaran Islam diinjeksikan ke dalam kehidupan penduduk Pegayaman sejak era Panji Sakti, kira-kira tahun 1639. Proses islamisasi itu meninggalkan beraneka rupa warisan budaya yang masih bisa kita lihat hingga sekarang.

Nah, saya pun meninjau dan mengidentifikasikan warisan budaya di Pegayaman berdasarkan kategori UNESCO di atas. Mulai dari warisan budaya berwujud sampai yang tidak berwujud. Pada jenis yang pertama, saya meletakkan warisan-warisan budaya Pegayaman menjadi dua macam: moveable dan immovable cultural heritage. Mengapa underwater cultural heritage tidak saya masukkan? Sebentar, Guys! Sebagaimana yang saya tahu, Pegayaman terletak di Kecamatan Sukasada, dataran tinggi di Kabupaten Buleleng. Apa ada warisan budaya bawah laut di dataran tinggi? Kemungkinannya sangat kecil, atau hemat saya, mustahil. Meskipun, bisa jadi, ada beberapa orang Bugis yang melebur di komunitas Muslim Pegayaman

Warisan budaya di Pegayaman yang tangible pun berwarna-warni. Mulai dari moveable cultural heritage, ada dua sampel warisan budaya. Salah satu tokoh Desa Pegayaman Ketut Suharto mengatakan, ada manuskrip Al-Quran dan Al-Kitab yang berusia sekitar 200 tahun. Lalu ada sokok—yang diarak tiap perayaan Maulid—adalah rangkaian tiang yang disusun dari batang pohon pisang, bilah bambu, sirih, bunga, telur, dan buah-buahan. Istilah “sokok” disangkakan berasal dari bahasa Jawa, “saka” yang artinya tiang. Sokok menyimbolkan kelahiran Nabi Muhammad, ungkapan syukur atas hasil panen, dan tolak bala (Sariman, 2015). 

Kemudian immovable cultural heritage. Seperti Masjid Jamik Safinatussalam yang didirikan oleh Kumpi Kyai Yahya pada sekira 200 tahun lalu. Masjid tersebut dianggap menjadi pusat perkembangan Islam di Bali (Arif, 2019).

Warisan budaya intangible di Pegayaman tak mau kalah dengan yang intangible. Pertama, sistem penamaan seseorang di Pegayaman pun terbilang unik, dengan tetap menggunakan nama khas Bali. Misalnya Ketut Hariri Baihaki, Wayan Ibrahim, dan Komang Sohibul Islam. Perbedaan terletak pada penamaan anak kelima dan seterusnya, yang tak ada lagi “wayan ragel”, tapi “ketut”. 

Kedua, budaya nyama—prinsip untuk berkata dan berbuat dengan penuh kasih sayang kepada orang lain atau diri sendiri. Jelasnya, orang Muslim Pegayaman senantiasa menghargai orang di sekitar yang beragama Hindu. Secara lebih spesifik, mereka melakukan ngejot, memberi aneka makanan kepada saudara Hindu setiap perayaan diadakan. Menurut Komang Sohibul Islam, budaya ini telah dilakukan ratusan tahun lamanya (dalam Fauzi, 2019).

Daftar Bacaan:

Arif, M. (2019). A Mosque in a Thousand Temple Island: Local Wisdom of Pegayaman Muslim Village in Preserving. Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya , 4, 1, 16-30.

Fauzi, A. (2019). Internalisasi Nilai-Nilai Multikultural Melalui Budaya Nyama Beraya Pada Masyarakat Muslim Pegayaman. Al-Mada; Jurnal Agama, Sosial dan Budaya , 1-21.

Keesing, R. (1997). Teori-Teori Tentang Budaya. Antropologi , No. 52.

Kementerian Pariwisata. (2018). Pedoman Pengembangan Wisata Sejarah dan Warisan Budaya: Panduan Langkah Demi Langkah. Indonesia.

Sariman, M. (2015). Tradisi Mengarak Sokok Di Desa Pegayaman, Sukasada, Buleleng, Bali (Potensinya Sebagai Media Pendidikan).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.