Website Kalamkopi: Yang Baru Tumbuh, Yang Lama Berganti

Spread the love

Pada Oktober 2015, mulanya Kalamkopi hanya sekadar nama kelompok belajar. Kami membentuk Kalamkopi karena merasa tak cukup belajar di ruang kuliah saja. “Kalamkopi” kami gunakan sebagai nama karena pertemuan, kemunculan ide, dan diskusi awal pembentukan Kalamkopi kami lakukan di sebuah kedai kopi. Sesederhana itu. Meski, akhirnya salah seorang dari kami memberi landasan pendefinisiannya dari Bahasa Arab.

Kalamkopi kami bentuk atas dasar kekecewaaan terhadap praktik perkuliahan. Kala itu kami menilai banyak dosen (tidak semua!) tak cakap menyampaikan materi. Cara mengajar dan komunikasinya sering jauh dari substansi. Pun tidak demokratis dan cenderung mendominasi. Walau harus diakui, terkadang kami pun berlaku demikian di ruang atau konteks lain. Maafkan. 

Rasa kecewa juga kami tujukan pula kepada organisasi mahasiswa. Baik lingkup intra maupun ekstra kampus. Kerja organisasi mahasiswa intra kampus lebih banyak seperti event organizer (EO): menggelar konser di kampus, atau acara-acara yang itu-itu saja. Sementara organisasi ekstra kampus lebih sibuk di ranah politik kampus. Singkatnya, kedua model organisasi itu kurang “seksi”. Dalam arti, kurang ndakik-ndakik berbicara teori. Meski kami pun sekadar snob. Tidak kurang, sedikit lebih.  

Pada masa itu, kami juga melihat kampus telah kehilangan orientasi sebagai rumah ilmu. Kampus justru menjadi ladang subur bagi tumbuhnya dominasi, hirarki, ketimpangan, dan elitisme. Mading-mading kampus banyak diisi pengumuman atau selebaran acara. Nyaris tiap sudut kampus tidak menunjukkan budaya literasi.

Atas dasar itu, kami membentuk Kalamkopi sebagai ruang alternatif. Tujuannya untuk memungkinkan terjadinya proses belajar yang lebih demokratis dan egaliter. Aktivitas Kalamkopi banyak diisi dengan kegiatan membaca, belajar menulis, dan bertukar pandangan lewat diskusi. Pendeknya, kami ingin bergerak di bidang literasi.

Sejak itu, beberapa dari kami mulai menulis. Terutama tulisan resensi buku dan opini soal kampus. Tulisan-tulisan itu kami cetak dan tempel di mading kampus. Itu kami galakkan sebagai bentuk berbagi pengetahuan. Kegiatan ini tak berlangsung lama.

Pada pengujung 2015, kami banyak mendapat saran, masukan, dan dorongan banyak orang. Akhirnya Kalamkopi pun mulai menemukan kurikulum dan metode belajar bersama. Maret 2016, Kalamkopi menggelar serial diskusi buku Peran Intelektual karya Edwar Said. Itu adalah kali pertama diskusi Kalamkopi diikuti sekitar 30 peserta. Kegiatan diskusi digelar di rumah kos atau kontrakan salah satu anggota Kalamkopi.

Prinsip berbagi pengetahuan terus kami pegang. Serial Diskusi “Peran Intelektual” mengilhami kami membuat sebuah media publikasi baru. Tidak lagi di mading kampus, tapi di internet. Maka lahir lah website kalamkopi.wordpress.com. Website itu kami gunakan sebagai saluran berbagi pengetahuan. Hasil diskusi kami unggah ke website itu secara berkala.

Tahun 2016 menjadi tahun kelahiran. Selain website, lahir pula Komunitas Kalamkopi. Kalamkopi yang semula hanya kelompok belajar, pada September 2016 menjadi komunitas literasi. Proses ini terekam dalam satu notulensi rapat. Lengkap dengan perdebatan dan rancangan AD/ART-nya.

Sebagai komitmen, pada tahun yang sama, Komunitas Kalamkopi mendirikan sebuah perpustakaan. Perpustakaan itu kami beri nama Ruang Pustaka Kalamkopi. Seiring lahirnya ruang pustaka itu, aktivitas membaca, belajar menulis, dan diskusi lebih sistematis. Kami mulai menggelar diskusi-dikusi di kampus yang diikuti mahasiswa dari berbagai jurusan. Tak hanya di kampus, kami juga mulai menggelar kegiatan literasi bersama warga.

Akhirnya, Website kalamkopi tak hanya kami gunakan sebagi saluran publikasi hasil diskusi. Website itu kami kelola secara kolektif untuk memuat berbagai bentuk tulisan. Naik satu lapis lagi, Kalamkopi pun pernah mengimajinasikan badan ekonomi komunitas. Pada 2018 badan ekonomi itu mewujud dalam bentuk “Kooperasi Moeda Kerdja”. Badan ekonomi itu juga hasil perputaran diskusi melalui website dan perpustakaan.

Seiring berjalannya waktu, kami pun merasa perlu menaikkan level website. Alasanya ialah pertimbangan jangka panjang. Menaikkan level website akan memungkinkan kami memiliki ruang penyimpanan berlebih. Sehingga ada kesempatan untuk terus bernafas lebih lama. Meski kami pun menyadari. Semangat mengelola website bisa kembang kempis. Pun belum pasti pula ke mana website itu akan bermuara. Tapi, bukan kah hal terindah di dunia adalah terus berupaya meski itu sia-sia?

**

Pada mulanya adalah ajakan untuk kembali rutin menulis di website. Ide itu kemudian berkembang menjadi ajakan mengubah domain website. Semua prosesnya didasari semangat iuran. Ada yang iuran dana, tenaga, waktu, doa, dan kawa-kawa. Semua dipersiapkan melalui serangkaian pertemuan daring. Paling tidak, sejak satu bulan terakhir. Dan nyaris selalu menggunakan platform Google Meet. Meski beberapa kali didiskusikan melalui platform WhatsApp Group.

Pertemuan-pertemuan daring itu juga mencuatkan kesepakatan lain. Kalamkopi tidak hanya akan mengubah domain website. Tapi sekaligus melakukan pembaharuan ulang dalam beberapa aspek. Seperti, misalnya, logo, ilustrasi, dan rubrik website. Proses mengubah website dan logo dikerjakan oleh kawan berinisial TB. Ilustrasi dikerjakan oleh kawan AM. Sementara rubrik merupakan usul kawan NRA.

Menurut keterangan TB, citra utama yang hendak ditunjukkan dalam logo Kalamkopi adalah “kebaruan”. Konsep utamanya adalah pictorial mark. Divisualkan dalam rupa simbol di sebelah kiri tulisan. Adapun maksud simbol “buku berwarna hitam” adalah pelambangan dari pengetahuan yang akan selalu dicari kalamkopi. Sementara simbol “tanda panah ke kiri” adalah wujud konsistensi Kalamkopi di pihak yang terpinggirkan. Dan terakhir, simbol “Siluet huruf K” bermakna identitas Kalamkopi secara keseluruhan.

Sementara untuk ilustrasi, ada dua hal yang coba ditekankan oleh kawan AM yakni cangkruk dan rubah. Kata cangkruk berasal dari Bahasa Jawa. Kurang lebih berarti duduk atau lesehan. Kalamkopi lahir dari duduk-duduk-senja sembari ngopi di kedai kopi. Selain itu, nyaris setiap diskusi dan rapat pun dilakukan dengan duduk. Tidak berbaring, apalagi berlari. Begitulah.

Penggambaran rubah di ilustrasi pun bukan tanpa alasan. Rubah kerap diidentikan dengan binatang yang hidup menyendiri. Alias “tidak mungkin” hidup komunal. Maka pemilihan rubah sebagai vocal point adalah bentuk tantangan. Bukankah di kolong langit kapitalisme manusia pun dipaksa hidup sendiri-sendiri? Termasuk dalam menanggung beban, kesedihan, dan rasa anxiety karena hidup di bawah rezim kerja upahan. Karena itu, apakah rubah-rubah yang bergelut di Kalamkopi mau dan/atau mampu menjawab tantangan itu? Wallahualam Bissawab.

Dari segi cakupan rubrik, kawan NRA banyak bersumbangsih. Ia mengusulkan konten dan sekaligus nama-namanya. Berikut ini adalah rubrik baru website Kalamkopi: Ulasan, Sudut Pandang, Renyah, Pendidikan, dan Lensa. Rubrik “Ulasan” fokus pada tulisan-tulisan yang mengulas aneka bentuk produk kebudayaan. Misalnya buku, film, musik, dan lain sebagainya. Rubrik “Sudut Pandang” coba mewadahi pandangan terhadap suatu wacana dan isu-isu aktual. termasuk karya-karya ilmiah dari berbagai disiplin ilmu. Rubrik “Renyah” berisi cerpen, puisi, catatan perjalanan, feature, dan lain-lain. Rubrik “Lensa” khusus berisi konten-konten sinematografi. Dan rubrik “Pendidikan” adalah wadah untuk memuat tulisan dari dunia belajar-mengajar. Memuat curahan hati pelajar kepada guru, mahasiswa kepada dosen, atau sebaliknya.

Pada akhirnya website Kalamkopi pun berubah. Tidak lagi kalamkopi.wordpress.com, tapi Kalamkopi.id. Dan sejak awal, para punggawanya pun sadar. Website komunitas kerap layu sebelum berkembang. Website komunitas bisa berkembang, tapi tidak bisa terbang. Dalam arti, tetap akan di situ-situ saja. Begitu pula dengan Kalamkopi.id. Tak ayal, sampai sekarang pun belum ada rencana—meski sudah mulai dibicarakan—ke depan. Maka belum jelas akan ke mana website ini bermuara. Apakah akan berlabuh ke daratan atau sengaja membakar peta dan kompas hingga benar-benar tak tersisa. Sehingga tetap berlayar tanpa tujuan meski tahu itu memuakkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.