YANG AMORAL ITU SIAPA?

Spread the love

Oleh Fahmi Abdillah

(Hasil pembacaan atas novel Rima-Rima Tiga Jiwa karya Akasa Dwipa)

Apakah hanya karena kami homo, pelacur dan tidak percaya pada Tuhan, lantas kami tidak berhak bahagia dalam kehidupan? Pertanyaan ini akan jadi kalimat pembuka bila anda membaca sampul belakang buku Rima-Rima Tiga Jiwa. Pertanyaan yang membuat kita menggerayangi cerita apa yang disajikan novel ini. Ya, novel ini bercerita tentang kehidupan ketiga kaum tersebut, homo, pelacur, waria. Kaum yang biasa kita anggap kaum rendahan yang tak pantas digauli. Kaum yang dilengkapi dengan segala pikiran negatif dari masyarakat.

Dengan menggunakan sudut pandang tiga tokoh, Akasa Dwipa saya anggap berhasil menyajikan cerita yang patut kita jadikan pijakan untuk menimbang kembali segala penilaian kita terhadap ketiga kaum tersebut. Meminjam kehidupan Susanto, Silvy, dan Rima, pengarang kelahiran Batang tahun 1983 ini mengungkap hal-hal yang bisa memihak ketiga kaum tersebut. Mengungkapkan kepedihan mereka, kebingungan mereka, keterkengangan mereka oleh norma yang berlaku di masyarakat.

Novel terbitan Literasi Press ini menyingkap kisah hidup yang berliku, naik dan turun, terang dan gelap, juga kejayaan dan kemuraman ketiga tokoh tersebut. Berawal dari cerita Silvy, waria yang sedang menuliskan kisahnya setelah ditinggal sang kekasih bernama Susanto demi pelacur bernama Rima. Susanto yang menamai cintanya sebagai cinta yang universal untuk semua makhluk hidup. Maka dari itu dia menolak untuk memakan daging dan semua yang terbuat dari daging, pun perihal seks, Susanto menemukan kenikmatan di setiap pergumulannya dengan wanita, homo, maupun waria. Rima, wanita yang berpuluh tahun malang melintang di dunia pelacuran, dekat dengan kekerasan, lengkap dengan segala benda haram.

Apa yang menarik dari novel bertebal 256 halaman ini? Saya pikir adalah kesengajaan pengarang secara berurutan bercerita menggunakan sudut pandang ketiga tokoh tersebut. Menimbulkan kesan bahwa pengarang benar-benar dekat dengan dunia malam tersebut, benar-benar menyelami konflik yang dialami para pelaku. Meski tak bisa menggambarkan dengan utuh bagaimana kehidupan yang selama ini kita jauhi itu, namun menawarkan kematangan logika cerita. Bahwa seyogyanya bila memang ketiga tokoh tersebut ada di dunia nyata,  maka seperti itu pula pola pikir yang akan mereka miliki.

Novel berisi 34 bab ini berhasil menggamblangkan cerita yang diusung, karena menggunakan tiga tokoh yang berbeda untuk menceritakan hal yang sama. Kita bisa melihat kisah yang disajikan dari berbagai sudut. Dari sudut Silvy, Susanto, maupun Rima. Kita mendapat kesempatan untuk merasakan apa yang ketiga tokoh rasakan dalam menjalani pengalaman yang sama. Kesakitan Silvy saat Susanto meninggalkannya, kesakitan Susanto yang menemukan cinta pada seorang pelacur, dan kesakitan Rima yang harus membagi penghasilannya demi laki-laki muda yang dipercaya akan menemaninya di hari tua.

Selanjutnya yang menarik dari cerita ini adalah kenyataan bahwa seburuk apapun hidup yang mereka jalani, mereka mengharapkan hal yang sama. Yaitu cinta yang tulus, bukan berdasarkan fisik atau kekayaan semata, tapi cinta yang melewati segala alasan  itu. Dan yang saya senangi dari cerita ini adalah bagaimana Akasa Dwipa berhasil membuat ketiga tokoh itu menemukan cinta tersebut secara alami, terasa wajar, tidak mengada-ada, tidak memaksakan.

Titik awal penemuan saya tentang hal itu ketika Susanto, dengan kelengkapan pikirnya sebagai vegan dan petualang seks, tak pernah berhenti mencari kenikmatan dari berbagai jenis pasangan yang ia temukan, tanpa sengaja pencariannya bermuara dengan mencintai Rima yang dia gambarkan bagai keranjang berisi buah-buah favoritnya. Rima, wanita yang tiap malam melayani laki-laki demi uang, dan puluhan suami instan akhirnya mempertaruhkan hidup dan kebahagiaan masa tuanya pada Susanto. Kelihaian dan pengalamannya menilai lelaki menunjukka bahwa Susanto layak ia percaya, layak ia cintai dan hormati sebagai suami terakhirnya. Silvy, waria yang akhirnya tetap mencintai Susanto walaupun ketulusan itu akhirnya membuatnya melepas sang kekasih dan menempatkan posisi sebagai ibu. Cinta masing-masing tokoh adalah cinta yang tulus, yang mungkin melebihi semua pertimbangan-pertimbangan sebagaimana orang normal istilahkan dengan bibit, bebet, bobot.

Namun sayang, harus saya katakan bahwa ada ke-alpa-an fatal dalam penulisan novel ini, dan itu sangat mengganggu saya. Saya sudah dua kali baca novel ini untuk memastikan bahwa saya salah baca, namun tidak. Dengan gaya penceritaan sudut pandang orang pertama, sempat terjadi kesalahan teknis saat pengarang menjadi Rima pada halaman 87. Dan yang selanjutnya terjadi di akhir cerita. Munculnya kekasih lama Susanto yang menyebabkan cerita ini menggantung harus tercederai dengan kesalahan pengukuran waktu. Cerita ini kehilangan waktu lima tahun. Saya harap di terbitan berikutnya kesalahan ini sudah diperbaiki.

Setuju dengan kalimat Mas Linggar ‘Sarju’ Panengah, bahwa membaca Rima-Rima Tiga Jiwa, setidak-tidaknya mata kita akan terbuka bahwa waria, homo, pelacur, hingga orang-orang jalanan lainnya sepenuhnya ada di dunia. Pembaca buku-buku filsafat ini mencoba menganalogikan penggambaran Nietzsche tentang seorang manusia yang membawa obor di siang bolong sambil menyerukan, “Tuhan sudah mati, Tuhan sudah mati…” dengan novel yang terbit pertama tahun 2016 ini, pada tulisannya di website kalamkopi.wordpress.com pada Oktober 2018. Saya tak bisa menjelaskan dengan panjang bagaimana penjelasan Sarju atas pembacaannya, namun saya memang membenarkan bahwa diri-mereka ada diantara diri-kita.

Namun apa yang saya temukan berbeda dengan Sarju yang mengatakan bahwa cinta ketiga tokoh pusat cerita tersebut jauh dari kata bahagia. Saya memandang bahwa dalam kisah ini, justru merekalah yang menemukan kebahagiaan dalam cinta. Memang terkesan rumit dan penuh dengan resiko, tapi Silvy, Susanto, dan Rima merupakan tokoh yang mampu dan mau menemukan cinta yang sejati. Seperti layaknya kisah Bima bertemu dengan Dewa Ruci, sang guru sejati. Memang terbalut dengan berbagai penderitaan karena Bima, yang waktu itu masih bernama Bratasena harus membedah Gunung Candramuka dan menyelam ke Samudera Minangkalbu demi mencari sesuatu yang sejatinya tidak ada yaitu Tirta Pawitrasari, atau air sumber kehidupan. Silvy, Susanto, dan Rima justru saya anggap mengalami pertemuan dengan cinta sejati yang membuat mereka mengerti akan kebahagiaan hidup. Apa lagi yang lebih membahagiakan dari pada pertemuan kita dengan kata cinta sejati? Saya mempertanyakan lagi konsep bahagia yang Sarju tuliskan.

Saya tidak menampik bahwa anda harus membaca buku ini untuk benar-benar tahu bagaimana saya iri atas kehidupan ketiga tokoh tersebut. Mereka mengerti betul posisi mereka dalam masyarakat, mereka mengerti betul apa yang mereka inginkan dalam kehidupan, dan mereka menemukan apa yang mereka cari. Kisah ini lengkap. Meski Akasa Dwipa masih menggantungkan cerita ini, dia mempersilakan kita untuk merangkai lanjutan cerita ini semau kita.

 Seperti penulis yang mempersembahkan cerita ini pada saya untuk saya akhiri sesuai selera, saya juga menyilakan anda untuk membaca novel Rima-Rima Tiga Jiwa agar anda punya kesempatan yang sama. Selamat membaca.

Gambar: majalahayah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.