Yang Hilang dan Tak Kembali

Spread the love

Oleh Gunawan Budi Susanto

Ada kawan mengunggah foto sarang burung manyar di akun Facebook. Saya tahu, selama ini sudah tak ada lagi burung manyar di Pulau Jawa, dari belahan paling barat sampai timur, bahkan juga di Bali dan Flores – yang pernah saya jejaki. Maka saya pun bertanya, “Itu di mana, Bro?”

Kawan saya menyahuti, gambar sarang burung manyar itu dia jepret di suatu kawasan di Malaysia, tempat dia bekerja bertahun-tahun belakangan ini. Saya kecewa karena semula berpengharapan: sarang burung manyar itu berada di sebuah kawasan di Indonesia. Ya, siapa tahu masih ada sarang (dan burung) manyar bergerandulan di pucuk-pucuk daun pohon kelapa atau sepanjang kabel listrik tegangan tinggi di kawasan lain negeri ini yang belum pernah kuketahui.

Saya masih memiliki harapan: burung manyar belum habis, belum hilang, belum musnah, belum punah! Jangan sampai burung manyar cuma ada dalam novel Romo Mangunwijaya, Burung-burung Manyar.

Terbawa oleh pengharapan itulah saya menyalin potret kawan saya itu, lalu saya unggah di akun saya. Foto itu saya beri keterangan berupa pertanyaan kepada siapa pun kawan, barangkali ada yang tahu atau pernah mengetahui burung manyar bersarang di daerah masing-masing.

Kawan-kawan dari Padang (Sumatera Barat), Ternate (Maluku), Sorong (Papua), lan Manggarai (Nusa Tenggara Timur) menyahuti bahwa di daerah mereka masih ada burung manyar. Saya meminta tolong mereka agar bersedia memotret sarang burung itu untuk membuktikan: memang benar-benar masih ada burung manyar. Kawan-kawan menyanggupi. Namun sampai saat ini, barangkali karena sibuk atau terlupa, mereka belum pernah mengunggah foto sarang burung manyar di kawasan masing-masing. Saya pun mengira, sebenarnya burung manyar sudah habis, sudah musnah, dari negeri kita.

Saya menduga burung manyar menghilang, musnah – boleh jadi juga spesies burung lain – bukan cuma lantaran dibedili. Yang jauh lebih mungkin menjadi penyebab, ya lantaran pakan burung manyar berupa biji padi dan berbagai biji-bijian lain sudah mengandung atau berisi bahan serbakimia. Jadi, lama-kelamaan, burung-burung itu pun keracunan, sakit. Jika sudah sakit, lalu matilah mereka. Jika sudah mati, akhirnya ya habis!

Saya merasa kehilangan lantaran teringat, atau lebih pas lantaran diingatkan.

Saya jadi teringat, akhir tahun 1980-an George Junus Aditjondro menulis banyak ikan air tawar di sungai-sungai yang dibendung menjadi Waduk Kedungombo musnah. Banyak jenis ikan yang hidup di perairan yang mengalir itu mati karena air sungai sudah tidak mengalir lagi karena dibendung. Ketika ikan-ikan itu masih, wujudnya pun belum pernah saya lihat, apalagi ketika sekarang sudah menghilang, mati, habis.

“Sekarang, karena tak ada lagi yang mengingatkan, kamu lupa banyak tanaman, hewan, gunung, sungai yang hilang, habis, musnah, dari negara kita,” ujar Kluprut sembari merengut.

“Maksudmu apa sih, Prut? Apa saja yang sudah menghilang? Jangan asal njeplak!”

Kluprut lalu mencerocos bercerita soal pupuk, insektisida, pestisida serbakimia bukan cuma mematikan burung manyar. Bahan-bahan kimia itu juga mematikan berbagai hewan lain di sawah, di kebun, di pekarangan. Air dari sawah mengalir ke sungai: ikan-ikan mati. Contohnya, sekarang kita kesulitan menemukan ikan lele lokal. Sudah berganti ikan lele dumbo, hasil riset dan kerja para ahli “yang menganggap perlu merevisi karya Tuhan”: seperti teknologi kultur jaringan terhadap tetumbuhan.

Ketika pupuk, pestisida, dan insektisida tak bisa lagi dipisahkan dari dunia pertanian selama berpuluh tahun, alam seisinya berubah! Ada hewan musnah, ada tanaman musnah. Namun ada juga hewan “baru”, hasil adaptasi dan mutasi genetis. Zaman dulu tak ada wereng, lalu muncul wereng. Digelontor insektisida terus-menerus, menjadi wereng cokelat yang lebih ganas.

Burung-burung yang makan bji padi, jika tak kuat, tak bisa beradaptasi lalu berubah wujud, ya mati. Yang bisa beradaptasi, mengalami mutasi genetis, menjadi burung baru yang berpakan “harus” serbakimia. Itu menyalahi kodrat ilahi!

Itulah yang berkait dengan hewan dan tanaman, belum yang menimbulkan perubahan hidup dan kehidupan manusia. Zaman pemerintahan Jenderal Besar Soeharto, semua petani diharuskan menanam padi dengan benih, pupuk, insektisida, pestisida satu paket. Itulah padi “baru” yang bisa dipanen lebih cepat dan berbatang lebih pendek.

Apa akibatnya? Kaum perempuan kehilangan pekerjaan, kehilangan penghasilan. Cuma saat menanam dan matun (mencabut rumput di sesela batang padi), para perempuan bisa bekerja dan memperoleh penghasilan tambahan. Namun mereka sudah tak bisa memanen lagi – lalu memperoleh bawonan (upah berupa sebagian padi yang dipanen), tak bisa merontokkan bulir padi, menumbuk padi, dan lain-lain. Batang padi lebih pendek tak membutuhkan ani-ani ketika dipanen, cukup memakai sabit. Gabah tak perlu ditumbuk lan ditampi lagi dan perempuan tak perlu menjadi buruh menumbuk pagi, karena sudah ada alat penyelep, selepan, rice mill. Intinya, kaum perempuan kehilangan penghasilan tambahan di pedesaan. Akibatnya, kaum perempuan makin bergantung pada penghasilan para suami.

Selain itu, ada pula yang hilang. Musik lesung! Bagaimana tak hilang jika lesung pun sudah tak digunakan secara fungsional untuk menumbuk padi, banyak yang dijual, menjadi bahan mebel atau barang antik. Kalaupun masih ada yang menabuh lesung, itu cuma ekshibisi. Musik lesung sudah tak bisa lagi hidup dalam kehidupan nyata kaum petani.

“Jadi, kemenghilangan burung manyar itu cuma setitik dari isi dunia, karya Tuhan, yang musnah, mati, habis lantaran ulah manusia. Masih lebih banyak lagi yang kadung mati, hilang, habis, musnah, punah, lantaran ulah manusia. Wujudnya macam-macam: sungai, gunung, hutan, laut! Jika sungai hilang, gunung runtuh, hutan gundul, laut mengering, kebudayaan manusia pun musnah!” ujar Kluprut, merengut makin kusut. “Dan, kau teringat semua itu setelah kehilangan karena diingatkan. Kau tak pernah mau membaca keadaan, lalu memiliki pandangan tersendiri bahwa kerusakan bumi, kerusakan dunia ini, karena ulah manusia. Ulahmu!”

***

Kalimat paling akhir Kluprut itu menjengkelkan betul. Kalau boleh memaki, saya bakal merutuki dia: diancuk! Namun setelah dia pergi, saya baru bisa mengakui: ucapan Kluprut memang benar dan tepat.

Sudah terlalu banyak yang hilang dari hidup dan kehidupan kita karena ulah manusia. Celaka, saya tak bisa andil mencegah, menghalang-halangi perubahan dunia yang ngawur itu, yang bakal merusak segalanya. Ternyata selama ini saya tak pernah terlibat upaya merawat, menjaga, dan melestarikan apa saja – dari tanaman, hewan, budaya – di seputar kehidupan saya. Ternyata saya termasuk manusia yang tak punya niat, kehendak, apalagi bertekun dan ajek memperindah keindahan hidup di dunia.

Oh, Tuhan, ampunilah saya.

Patemon, 29 Januari 2020: 16.16

 

  • Terjemahan dari versi awal dalam bahasa Jawa, yang termuat di rubrik “Pamomong” Suara Merdeka, Minggu, 15 Desember 2019. Sumber foto dari akun Facebook Trisnanto Antok.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.