YANG PATAH TUMBUH YANG HILANG BERGANTI

Spread the love

(Hasil Pembacaan Novel Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi Karya Boy Candra)

Oleh Fahmi Abdillah

Bagi anda yang takut bertemu, atau takut membincangkan cinta. Anda yang telah berkali ulang patah hati, trauma, bahkan sekadar membayangkan cinta saja enggan, marilah berbagi. Saya akui, bahwa saya pernah mengalami masa semacam itu, cinta bagaikan monster yang begitu menakutkan, melirik saja saya tak mau. Dan saya yakin banyak orang yang merasakan hal yang sama. Bila iya anda salah satunya, saya harap anda bertemu, berkenalan, menyelami, dan belajar dari buku ini.

Boy Candra, penulis yang menetap di Padang, Sumatera Barat ini telah melahirkan banyak novel, dan salah satunya adalah apa yang dia beri nama, Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi. Buku yang selesai saya baca dalam tiga hari, dan mengingatkan saya pada peribahasa, yang patah tumbuh, yang hilang berganti. Mengilhami saya untuk selalu percaya bahwa regenerasi itu tidak hanya pada raga, tapi juga pada jiwa.

Kisah yang diterbitkan oleh mediakita ini, bercerita tentang cinta yang membingungkan, tentang hati yang patah, tentang rasa yang tertahan, tentang takut kehilangan, dan tentang keberanian untuk menanggung beban. Semua itu dibawakan secara lengkap oleh masing-masing tokoh dalam novel Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi.

Mungkin kisah roman semacam ini sangat bisa dinikmati oleh remaja, atau kaum muda yang sedang dalam masa pencarian. Entah pencarian jati diri, atau pencarian cinta sejati. Namun sungguh bila anda sudah matang dari segi usia, atau bahkan tergolong kaum tua, anda akan menikmati nostalgia tentang cinta yang dibagi oleh buku ini. Buku yang bertebal iv+284 halaman ini mengupas cinta secara mendalam, dan saya kira bisa jadi pijakan yang universal bagi semua kalangan, segala lini usia.

Seperti kebanyakan novel roman, novel ini dipenuhi oleh kalimat-kalimat puitis yang menyejukkan. Mengisyaratkan perenungan yang dilakoni oleh penulisnya tidak asal-asalan. Anda akan menemukan kalimat-kalimat yang sangat menarik dalam setiap bab dalam buku ini. Petiklah satu dari beberapa yang bisa saya temukan, “salah satu hal paling melelahkan di dunia ini, saat kita ingin melepaskan sesuatu, namun ia tetap saja mengejar kita.” Saya membayangkan dari proses-proses semacam ini lah, kekayaan sastra Indonesia dapat terus dipertahankan. Bagaimana penulis kelahiran tahun 1989 ini merekam jejak pemikiran, meramu dan menimbang kalimat dengan penuh keseriusan, sehingga memunculkan kalimat-kalimat yang aduhai saat terbaca dan terdengar. Bila mana Boy Candra lahir pada masa yang lebih lampau, saya yakin kalimat-kalimat yang dia lahirkan akan muncul di buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia anak sekolah sekarang, dan bersanding dengan peribahasa-peribahasa lain.

Yang patah tumbuh, yang hilang berganti saya pikir ungkapan yang selaras dengan apa yang Juned, Nara, Kevin, dan Tiara jalani dalam kisah mereka. Masing-masing dari mereka adalah orang-orang yang berhasil mengalahkan patah hati, pantang menyerah mengejar cinta sejati, dan mampu memaafkan kekelaman masa lalu. Meski dengan cara mereka masing-masing, mereka meyakinkan saya akan kekuatan manusia itu tak terbatas, bila dilandasi dengan cinta. Cinta merupakan bagian yang begitu berpengaruh dalam kehidupan manusia.

Dengan cara yang berbeda Juned dan Nara menerima kekalahan masa lalu mereka, dengan pemahaman yang berbeda pula Kevin dan Tiara memperjuangkan cinta dalam diam yang mereka miliki. Namun apa yang bisa saya tegaskan dari keempat mahasiswa ini adalah, mereka memandang dan memperlakukan cinta yang tumbuh dalam dada mereka sebagai anugerah. Meski patah, meski luka, meski hancur mendera hati mereka, mereka tak pernah menyalahkan cinta. Keren sekali saya rasa.

Juned dan Nara adalah sepasang kekasih yang saling mencintai setelah segala kenangan masa lalu mereka yang nahas. Percaya akan kehidupan yang lebih baik bila tetap bersama, sadar akan kata saling yang mereka rasakan. Saling membutuhkan, saling dukung, saling melengkapi. Walau memang pada akhir cerita mereka tak lagi bisa bersama. Kevin dan Tiara adalah orang-orang yang mampu menanggung bertubi rasa kecewa karena cinta. Antara percaya dan tidak, saya berpikir apakah benar ada manusia-manusia sebodoh mereka berdua di dunia nyata ini? Kebimbangan dan ketakutan mereka akan resiko kehilangan, membuat mereka sengaja menceburkan diri dalam lautan kesengsaraan, hanya agar terus dekat dengan orang yang mereka cinta. Ya, dekat namun tak bersanding. Namun syukur perlu saya ucapkan, kisah ini diakhiri dengan bahagia. Setelah menaklukkan kesedihan, masing-masing tokoh menemu kebahagiaan yang mereka inginkan.

Yang saya dapatkan setelah pembacaan saya adalah, kesadaran akan kekuatan cinta ini bisa saya bagi pada semua orang. Mungkin terkesan berlebihan, tapi saya pikir wajar bila saya berimajinasi tentang dunia yang lebih baik bila setiap orang melandasi kehidupan dengan cinta. Cinta, seperti apa yang terkisahkan dalam buku yang terbit kali pertama tahun 2016 ini, senyatanya mengajarkan kita akan perjuangan, keikhlasan, pengabdian, dan kejujuran. Sungguh saya berharap buku ini bisa sampai pada anda, dan pemahaman semacam ini bisa terbagi ke khalayak luas. Tak terbatas pada anak muda saja, tapi memang benar-benar menggenapi bacaan semua orang.

 

Gambar: prabowoherieko.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.