Spread the love

Sejarah dunia adalah sejarah orang muda. Jika angkatan muda nya mati rasa, matilah semua bangsa. – Pramoedya Ananta Toer

Seberapa penting kah pemuda? Seberapa penting kah mahasiswa dalam arus masyarakat? Apakah posisi nya begitu vital, Sehingga banyak pemikir besar menaruh harapan nya pada generasi muda bangsa? Sejarah mencatat, Perubahan besar dalam lembar sejarah Indonesia, Selalu di prakarsai oleh generasi-generasi muda nya. Kita semua mengetahui, Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, dan beberapa rekan perjuangan lainya, Semua memulai perjuangan akan cita-cita kemerdekaan sejak masa muda. Ketika banyak teman sebaya tak berusaha berpikir akan nasib bangsa nya, Mereka semua maju ke muka, Untuk berkorban demi bangsa dan negara nya. Dan mereka lakukan ketika masih menginjak usia muda. Mereka rela meninggalkan masa muda yang indah untuk berdiskusi bergelut memikirkan nasib kemerdekaan bangsa Indonesia. Ketika menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia pun, Barisan muda yang diwakili sukarni, wikana, Chaerul Saleh, dan beberapa aktivis lainya, Tetap berada dalam barisan terdepan dalam usaha kemerdekaan Indonesia. Mereka melakukan diskusi-diskusi bawah tanah di Asrama Cikini, Asrama, Menteng, Maupun Asrama Kebon Sirih. Tujuan mereka hanya satu, Mereka berkeinginan besar untuk merdeka dari penjajahan.

Pada tahun 1966 situasi kembali terulang. Dimana mahasiswa dan para pemuda memiliki andil besar dalam keruntuhan Presiden Soekarno. Mahasiswa yang tergabung dalam KAMI, KAPPI, Dan beberapa kesatuan aksi lainya, menuntut Tritura terhadap Presiden Soekarno sebagai wujud kekecewaan terhadap pemerintah. Hal ini memuncak pasca terjadinya Gerakan Satu Oktober ( Gestok ), Mahasiswa berbondong-bondong mendatangi gudung DPR/MPR untuk menunutut pembubaran PKI, Perombakan kabinet Dwikora, Dan meminta penurunan harga-harga pokok. Dan usaha-usaha mahasiswa dan pelbagai elemen lainya menemui keberhasilan. Laporan Presiden Soekarno yang diberi nama nawaksara ditolak parlemen, dan Surat Perintah Sebelas Maret semacam menjadi sertifikat penyerahan jabatan dan pergantian kursi presiden Indonesia dari Presiden Soekarno kepada Presiden Soeharto.

Peristiwa turun nya Presiden Soekarno atas desakan dan dorongan Mahasiswa terulang pula terhadap Presiden Soeharto. Sekali lagi, Mahasiswa tampil sebagai agen perubahan dengan peran nya sebagai golongan terdidik. Reformasi tahun 1998 tak lepas dari peran besar mahasiswa yang merasa kesal terhadap tirani kekuasaan yang dijalankan Presiden Soeharto. Reformasi hanya sebagai puncak kekesalan dari rentetan proses perjuangan menuju reformasi tersebut. Gelombang protes terhadap pemerintahan orde baru yang diktaktor sudah bergulir jauh sebelum meletus nya reformasi. Pada tahun 1974 terjadi peristiwa demonstrasi besar-besaran yang dilaksanakan mahasiswa untuk menolak penanaman modal asing di Indonesia. Peristiwa ini sering disebut sebagai peristiwa “Malari” yang memunculkan seorang aktivis mahasiswa bernama Hariman Siregar. Dari rentetan demi rentetan perjuangan terhadap pemerintahan yang penuh dengan KKN tersebut, Mahasiswa terus menyuarakan protes terhadap pemerintah. Dan ketika tahun 1998 terjadi krisis moneter yang melanda Indonesia dan beberapa negara lainya. Mahasiswa serentak turun kejalan ditengah kekacauan krisis ekonomi dan memuncak nya kekesalan seluruh elemen masyarakat Indonesia terhadap rezim Orde Baru. Mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR dan memaksa situasi menjadi genting dan akhirnya Presiden Soeharto menyatakan mundur dari kursi Presiden Republik Indonesia. Sekali lagi, Mahasiswa tercatat kembali dalam sejarah sebagai agen perubahan bangsa. Mahasiswa kembali mewakilkan suara-suara rakyat yang tertindas dan mahasiswa bertindak terhadap permasalahan yang tengah melanda Negeri.

Kemerdekaan Indonesia, Kejatuhan Presiden Soekarno, Reformasi 1998 hanya lah segelintir kecil peran mahasiswa terhadap bangsa. Banyak sekali peran dan pengorbanan mahasiswa sebagai golongan intelektual. Namun, Pasca Reformasi, Mahasiswa seperti kehilangan taring nya. Ditengah arus globalisasi dan kehidupan konsumerisme yang tinggi, Mahasiswa seperti terbuai untuk duduk termenung, terlena oleh segala macam kemudahan yang ditawarkan. Tak ada lagi cerita mahasiswa berdiskusi semalam suntuk untuk memikirkan ide-ide segar bagi permasalahan bangsa, Mahasiswa menentang kebijakan-kebijakan usaha komersialisasi kampus, Mahasiswa larut dalam dunia intelektual sebagai mestinya yang mendahulukan kajian-kajian mendalam sebelum melakukan sebuah aksi, dan sekelumit permasalahan mahasiswa lainya. Dewasa ini, Mahasiswa-Mahasiswa tersebut sudah sulit ditemukan di kampus. Jika pun ada, Mahasiswa hanya tergerak untuk demonstrasi demi demonstrasi sebagai wujud terjebak nya mahasiswa dalam romantisme masa lalu, Tanpa kajian-kajian yang mendalam sebagai sosok intelektual. Belum lagi peran kampus yang menekan mahasiswa dengan segudang dogma-dogma dan tugas kuliah menumpuk, sehingga mahasiswa tak tertarik lagi untuk berdiskusi mengenai negeri nya sendiri.

Organisasi mahasiswa di kampus pun seakan tak mampu menfasilitasi mahasiswa kearah usaha-usaha pengembangan pemikiran yang menitikberatkan pada kebenaran dan kemanusiaan. Entah itu melalui diskusi yang intensif, Maupun melalu aksi-aksi yang nyata terhadap usaha mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi poin ke-3. Organisasi mahasiswa hanya menawarkan pengalaman organisasi dengan agenda kegiatan yang telah dimonitoring oleh kampus. Untuk membuat sebuah kegiatan, Hima,BEM, dan Organisasi Intra lainya selalu meminta dana pada Ibu nya. Yaitu pihak kampus. Karena dana yang dikucurkan berasal dari ibu, Maka acara kegiatan nya pun selalu begitu-begitu saja sepanjang tahun. Tak pernah ada gebrakan. Entah karena keterbatasan ide, ataupun karena adanya intervensi kampus agar kegiatan yang telah di danai dapat sejalan dengan keinginan kampus. Kegiatan demi kegiatan tersebut hanya berkutat di pembuatan seminar, lomba-lomba, dan acara musik-musik yang ramai di gandrungi. Organisasi Mahasiswa tersebut tak ubahnya sebagai panitia pelaksana sebuah acara, Yang acara nya dipantau langsung oleh birokrat kampus. Sehingga, Tak ada gebrakan-gebrakan nyata dari Organisasi Intra Kampus tersebut. Sejalan dengan Organisasi Intra Kampus. Organisasi Ekstra kampus pun seakan kehilangan ruh-ruh pergerakan nya. Hal ini dibuktikan dengan makin asing nya mahasiswa terhadap organisasi-organisasi tersebut. Dalam satu periode penerimaan anggota baru, Hanya sedikit sekali minat mahasiswa terhadap organisasi ekstra kampus. Organisasi semacam HMI, GMNI, PMII, KAMMI, IMM, dan Organisasi ekstra lainya sudah tak mampu lagi hadir dan eksis di tengah Mahasiswa. Kualitas kadar intelektual dari Organisasi-Organisasi tersebut pun menurun tajam. Sudah tak ada lagi cerita diskusi yang begitu ilmiah dan sangat mencerminkan Intelektual dalam setiap diskusi-diskusi Organisasi Ekstra kampus. Organisasi ekstra kampus justru lebih sibuk saling mengejek  dan menjelekan organisasi ekstra kampus lainya. Bahkan lebih parah. Organisasi ekstra kampus malah sibuk mementingkan persaingan menduduki jabatan strategis kampus dari Presiden mahasiswa hingga ketua Hima jurusan. Maka sudah wajar jika organisasi ekstra kampus semakin berjalan menuju kemunduran nya. Kaderisasi sebagai jantung penyambung keberadaan dan eksistensi organisasi sudah mulai tak memiliki peminat. Maka, Cerita tentang Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus yang Progresif-Revolusioner tinggal hanya cerita dalam sejarah mahasiswa Indonesia. Organisasi Ekstra kampus perlu membenahi keadaan diri nya sendiri dan keluar dari paradigma underbouw Partai Politik untuk kembali eksis dan memiliki arti bagi Mahasiswa luas.

Dewasa Ini, Permasalahan dan polemik terus menghantui bangsa Indonesia. Lalu dimanakah posisi Mahasiswa? Dimanakah peran para Intelektual tersebut? Keyakinan demi keyakinan masih tumbuh terhadap mahasiswa-mahasiswa indonesia untuk kembali unjuk gigi mengawal dan merintis perubahan besar bangsa Indonesia. Dimanakah peran Organisasi-Organisasi mahasiswa? Organisasi macam apa yang layak untuk mengisi peran mahasiswa dengan arti sebenarnya? Apakah organisasi yang sudi dan siap melakukan tindakan koperatif terhadap penguasa, Atau organisasi militan yang mengutuk keji penguasa tanpa dasar dan asumsi yang jelas, Atau organisasi mahasiswa yang mengapresiasi pemerintah ketika dinilai benar dan menentang pemerintah `etika pemerintah salah, Atau pun Organisasi yang mencerminkan sikap Intelektual dengan kajian-kajian yang mendalam dan selalu mencoba menawarkan solusi? Atau Organisasi mahasiswa yang berorientasi pada demonstrasi, demonstrasi, dan demonstrasi saja?

Kalamkopi

Dengan latar belakang keresahan dan kekecewaan, Kalam kopi berdiri sebagai wadah untuk mahasiswa mengembangkan intelektualitas dan mengasah kemampuan keilmuanya. Hal ini berkaitan dengan upaya Kalam kopi untuk menjadi sebuah perkumpulan mahasiswa amatir yang memiliki keyakinan tinggi untuk menjadi pembawa angin perubahan. Untuk itu, Kalam kopi memiliki 4 buah pondasi dasar yang dijadikan sebagai landasan fundamental gerakan. Pondasi yang  pertama adalah membaca. Sebagai kaum intelektual, Membaca adalah sebuah kemutlakan yang paling wahid. Tanpa adanya kesadaran dan minat membaca, Maka sifat-sifat Intelektual nya akan hilang. Membaca disini tak selalu hanya bersandar pada buku, koran, majalah, dan segala macam bentuk bacaan yang tertulis. Membaca disini bisa diartikan pula dengan membaca situasi dan kondisi permasalahan yang hadir disekitar masyarakat. Entah itu masyarakat kampus, Masyarakat kota, Maupun masyarakat Indonesia secara luas.

Poin dasar yang kedua adalah diskusi. Sebagai sebuah tindak lanjut dari proses membaca, Diskusi bisa menjadi sebuah sarang bagi pengetahuan-pengetahuan baru. Dialog silang yang terjadi dalam sebuah diskusi mampu merangsang tumbuh nya sikap kritis dan rasa percaya diri untuk mengemukakan pendapat pribadi. Mekanisme diskusi yang baik mampu melahirkan pribadi-pribadi yang rendah diri dan terbuka bagi pemahaman-pemahaman baru yang di lontarkan rekan-rekan diskusi. Dialektika yang terjadi selama diskusi menjadikan mahasiswa semakin terasah untuk terus bertanya dan skeptis, sekaligus terus belajar mengeluarkan pendapat yang bisa jadi selama ini terpendam dalam diri masing-masing. Untuk itu, Kalam kopi berusaha mewadahi proses tersebut dalam kegiatan rutin diskusi yang kedepan nya akan lebih tematik dan terstruktur. Tema-tema yang diangkat akan bermula dari pembahasan buku-buku yang telah di ulas rekan-rekan dan berlanjut pada diskusi terbuka terhadap isu-isu yang berkembang di masyarakat. Dengan harapan, Kedepan nya diskusi-diskusi ini akan semakin menarik dan semakin teoritis yang pada akhirnya mampu menghasilkan sebuah kesimpulan dan kertas posisi dalam pengangkatan permasalahan-permasalahan yang diangkat.

Poin yang ketiga adalah menulis. Berangkat dari kesadaran akan studi keilmuan yang diambil teman-teman pencetus Kalam kopi, Yaitu studi ilmu sejarah. Yang mana, Dalam studi ilmu sejarah yang benar-benar membutuhkan keterampilan dalam hal penulisan. Maka, Menulis menjadi salah satu dasar pondasi Kalam Kopi. Disamping itu, Menulis merupakan sebuah pekerjaan yang berumur sangat panjang. Bahkan melebihi umur sang penulis nya. Maka wajar jika banyak tokoh begitu sering mengingatkan akan penting nya menulis. Sebagai sebuah proses intelektual yang paling penting. Menulis merupakan alat mengasah otak yang paling jitu dan tajam. Untuk itu, Kalam kopi didirikan untuk memfasilitasi tulisan-tulisan dalam berbagai macam bentuk. Yang kemudian bisa dijadikan bahan diskusi dan bahan latihan menuju bentuk tulisan-tulisan yang lebih ilmiah maupun yang lebih penting tergantung gaya dan minat rekan-rekan masing-masing.

Poin yang keempat dan terakhir adalah aksi. Poin terakhir tersebut merupakan rangkuman dari 3 poin sebelumnya. Aksi dalam poin membaca adalah dengan terus berupaya mengasah, Menumbuhkan minat, dan membiasakan untuk membaca sebagai gerbang menuju poin-poin selanjutnya. Untuk aksi dalam berdiskusi adalah aksi untuk terus melatih keterampilan berdiskusi, keterampilan menyampaikan pendapat, dan membiaskan diri untuk berani berbicara di depan orang banyak. Kemudian untuk aksi dalam penulisan, Aksi tersebut bisa berbentuk penulisan artikel, essay, sastra, ataupun bentuk tulisan lain yang akan di cetak dan di tempel di mading-mading kampus sebagai upaya perkenalan akan eksistensi Kalam Kopi. Ada pun bentuk-bentuk aksi yang lain adalah aksi dalam bentuk pamplet hitam yang berisi kritik, saran, ataupun kecaman terhadap kampus atau pemerintah. Dan beberapa aksi lain yang tak bisa di tuliskan dalam penjabaran poin aksi tersebut.

Kalam kopi hanya merupakan sebuah pijakan kaki menuju pergerakan-pergerakan yang lebih besar. Fungsi dasar kalam kopi adalah mengembalikan sifat-sifat intelektual, yang mana akan terus meruncing menjadi sebuah pergerakan-pergerakan yang lebih sistematis untuk mendobrak sistem-sistem yang telah keliru. Harapan besar nya adalah terciptanya sekelompok mahasiswa yang kritis dan memiliki tekad kuat untuk senantiasa menjungjung tinggi kedaulatan rakyat dan senantiasa bernafaskan keadilan, kemanusiaan, dan kebenaran.